
Suara pecahan kaca terdengar begitu nyaring dari lantai atas. Baik Meysa dan Langit sama-sama mengerutkan dahinya heran. Kok tiba-tiba terdengar suara seperti kaca pecah. Padahal sekolah ini terlihat sepi kan. Apalagi ini sedang malam.
"Kok bisa ada suara kaca pecah ya, padahal di sekolah ini hanya ada kita berdua" Ujar Meysa yang lama terdiam.
"Bukan hanya kita berdua, di sekolah ini tapi ada orang lain" Meysa yang mendengarnya langsung melotot kan matanya.
"Hah maksud Lo? gak mungkin kan ada hantu di sekolah ini" Ucap Meysa yang mulai merinding. Seketika ketakutannya menambah melihat Langit, langsung pergi meninggalkannya.
"Langit mau kemana Lo? tungguin gue.." Meysa pun berlari untuk menyamakan jalan kakinya dengan Langit.
"Siapa yang memecahkan jendela ini" Gumam Langit seraya menatap sekitar yang terdapat banyak kaca beling. Kini mereka berdua berada di lantai atas. Namun tidak ada siapa-siapa di situ.
"Mungkin kucing kali.." Balas Meysa asal, yang mendengar gumaman langit.
Langit yang mendengarnya tersenyum miring. Namun beda dengan Meysa yang berdiri di hadapan dengan langit. Matanya membulat sempurna.
"Gila Lo ya mana ada kucing?" Belum melanjutkan perkataannya, tapi sudah di potong duluan oleh pekikan Meysa.
"Awas Langit.." Pekik Meysa yang melihat ada beberapa orang yang keluar dari salah satu kelas.
Sayangnya langit yang ingin menghindar tapi sudah, terlambat.
Bugh
Satu pukulan dengan balok mengenai belakang Langit. Cowok itu yang mendapat pukulan di belakang kepalanya. Pandangan matanya, sudah berbayang. Dan ingin jatuh ke lantai.
"Langit.. langit" Panggil Meysa yang ingin mendekat tapi tidak bisa. Tiga Cowok yang bertopeng langsung memengang pergelangan tangan Meysa.
"Kalian mau ngapain saya!" Ucap Meysa memberontak.
"Membunuh mu?" Satu kalimat keluar dari tiga pria bertopeng. Membuat Meysa menjadi kalang kabut. Dan berusaha melarikan diri.
"Tujuan apa kalian ingin membunuh saya. Saya tidak punya masalah dengan kalian bertiga" Pekik Meysa yang memberontak, dengan air mata yang sudah mengalir dari matanya.
"Tidak punya masalah?" Ada terdengar suara seseorang dari kegelapan itu, yang berjalan mendekati mereka. Namun Meysa tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana muka orang tersebut. Karena tidak ada cahaya lampu dari kejauhan itu.
"Hay Meysa.." Terlihat cowok tampan memiliki yang tubuh atletis yang sedang tersenyum.
"Vian?" Mata Meysa membulat sempurna. Bahwa mengetahui orang itu adalah Vian. Orang satu sekolah dengannya sekaligus satu kelas.
"Maksud mu apa tidak punya masalah?" Tanya Meysa seraya mengerutkan dahinya heran. Ada perasaan tidak enak di dalam diri Meysa.
"Iya! tidak punya masalah? asal kau tahu Meysa aku sangat menanti hari ini" Ucap Vian tersenyum Smirk. Dia pun berjalan lagi untuk lebih dekat dengan Meysa, yang tangannya sedang di pengang oleh tiga anak buahnya.
__ADS_1
"Apa maksud Lo? jangan-jangan" Perkataannya berhenti. Karena dagunya di cengkram kuat oleh Vian.
"Jangan-jangan apa? jangan gue di balik semua ini!" Balas Vian makin memperkuat cengkraman dagunya. Dia menatap Meysa dengan sorot mata tajam seraya tersenyum.
"S-aki..t" Meysa meringis kesakitan di dagunya.
"Le-pasin g-ue, gue g- ak ada pu-nya masalah sama Lo Vian" Ucap Meysa dengan terbata-bata.
"Gak punya masalah? masalah Lo banyak sama gue? Lo ingat anak kecil yang pernah Lo bully" Vian melepaskan cengkraman, seraya menghempas.
"Uhukk.." Meysa terbatuk-batuk merasa begitu nyeri di dagunya.
"Lo harus mati Meysa.." Ucap Vian seraya tergelak tertawa.
"Gue gak pernah bully apalagi anak kecil. Apa maksud Lo Vian, Dan juga lo jangan berani mancam-mancam sama gue. Gue bakal aduin Lo ke polisi" Pekik Meysa kesal dengan menahan rasa sakit di dagunya.
"Adukan terus? gue gak takut kok, lagi pun sekarang Lo gak punya apa-apa lagi kan. Kakak yang Lo sayang sekarang membenci adiknya sendiri. Begitu juga dengan orang tua Lo. Karena apa Lo berusaha ingin membunuh Kakak ipar Lo sendiri, bernama Luziana" Ujar Vian dengan santai. Meysa yang mendengarnya Kenapa Vian mengetahui, kalau Luziana itu kakak iparnya.
"Dan satu halnya lagi gue bakal viral kan, rekaman yang gue rekam. Yang di mana di dalam rekaman tersebut ada rencana pembunuhan dengan Kakak ipar sendiri. Mau denger rekamannya" Tanya Vian seraya mengeluarkan ponselnya dari sakunya.
"Dasar a-njing Lo" Satu pukulan bogeman mentah mendarat di pipi Vian. Nafas Meysa terlihat naik turun naik turun. Tiga laki-laki yang memengang tangannya sudah terlepas. Akibat Meysa menyiku mereka dan juga menginjak kaki mereka.
"Gue punya masalah dengan Lo Vian, kenapa Lo lakuin ini semua ke gue. Ada dendam apa Lo sama gue hah!" Meysa menatap Vian dengan sorot mata tajam. Dadanya kini terasa naik-turun naik-turun.
"Meysa aku ingin memberi tahu kamu, kalau aku sangat terobsesi dengan mu. Sampai aku ingin selalu berada dengan mu. Tapi sayangnya, kamu sudah mengkhianati aku duluan. Asal kamu tahu loh, aku yang selama ini membuat Lo dan Luziana yang temanan menjadi musuhan. Dan aku juga yang telah menculik Luziana. Dan menjual nama lo, agar semua orang membenci mu sayang" Ujar Vian dengan sorot mata dengan penuh kebencian. Meysa dapat mendengar suara Vian dengan samar-samar. Dia tersenyum tipis.
Kelopak mata langit terbuka. Matanya membulat sempurna melihat apa yang di depannya. Melihat Meysa yang sudah terbaring di lantai. Dengan darah yang mengalir banyak dari perutnya. Meysa menatap langit sama halnya dengan Meysa dengan tatapan sayu.
"Mommy, Papi, kak Al. Maafkan Meysa" Setelah mengatakan itu. Mata Meysa terpejam sempurna.
Langit langsung berdiri dan mendorong Vian yang sedang jongkok di tepat hadapan Meysa. Vian pun terkapar. Langit pun mengambil alih Meysa, melentakan kepala cewek itu di pahanya.
"Meysa.. sya.. bangun sya" Mata langit nampak berkaca-kaca. Tidak ada respon dari cewek itu. Yang ada terlihat cewek itu, seperti tertidur untuk selama-lamanya.
Tiga anak buah Vian, yang melihat bosnya terkapar langsung membantunya. Setelah membantu bosnya, mereka pun mencoba balas balik. Dengan sigap langit menangkis tiga pukulan dari laki-laki yang berbadan besar itu. Hingga langit pun memberikan pukulan balik. Membuat mereka bertiga terkapar.
Matanya pun berhenti menatap Vian. Vian yang melihat tatapan langit yang tidak seperti biasanya. Merasa kalang kabut.
"Bangun kenapa kalian dengan satu orang aja kalah. Kalian itu bertiga" Emosi Vian seraya menendang anak buahnya untuk bangun. Namun anak buahnya, tidak kunjung bangun karena merasakan kesakitan nyeri luar biasa, yang begitu sakit akibat pukulan langit.
Tanpa sadari Langit sudah di dekatnya.
Bugh
__ADS_1
Bugh
krekk
Mommy Liona menatap nanar anaknya yang dia atas brankar dengan keadaan cukup mengerikan. Begitu Papi Devan seraya mengeleng kepalanya bahwa yang di lihat itu bukan anaknya.
"Ini bukan Meysa kan?" Dengan suara tercekat Papi Devan berteriak. Bahwa dia lihat dengan mata kepala dia sendiri, bahwa itu bukan anaknya. Papi Devan tidak terima dengan anaknya yang terbaring lemah dengan keadaan mengenaskan.
"Ini benar Meysa" Dokter Mala mencoba menyingkirkan helaian rambut Meysa yang menghalangi wajahnya.
Mommy Liona langsung menutup mulutnya. Air matanya langsung keluar.
"Meysa kamu kenapa nak.. kenapa kamu jadi begini? kamu dengar Mommy kan sayang. Mommy ada di samping kamu sekarang. Coba bilang siapa berani membuat anak kesayangan Mommy seperti ini.. Hikss akhh.." Mommy Liona yang tak sanggup melihat kenyataan di hadapannya langsung pingsan tak sadarkan diri. Dengan sigap Papi Devan memapah tubuh istrinya.
Luziana yang ada di situ juga. Kayak tidak percaya bahwa di hadapan nya itu Meysa. Dengan keadaan berlumur darah.
Renaldy yang mendapatkan teleponan dari istrinya yang berada rumah sakit. Langsung segera datang.
"Kamu gak kenapa-kenapa kan sayang" Tanya Renaldy yang terlihat begitu cemas. Dia langsung menghamburkan pelukan di tubuh istrinya. Yang kini perutnya makin membuncit.
"Aku gak papa kok, tapi adik mu yang kenapa-kenapa"
__ADS_1
...----------------...