
Angin semilir beserta hujan lebat, menyinari bumi. Rencana yang awalnya niatnya, honeymoon ke Singapura. Malah tidak jadi. Karena kondisi kandungan Luziana yang tidak memungkinkan.
Ya Luziana sekarang di nyatakan hamil, anak ke empat. Walaupun mereka berusaha untuk tidak punya anak lagi untuk beberapa tahun. Tapi nyatanya tuhan berkata lain, yang kini sedang tubuh berkembang di rahim Luziana. Meskipun ada sedikit kendala kehamilan yang kali ini. Akibat kehamilan sebelumnya mengalami keguguran, dan pembengkakan pada leher rahim.
Luziana yang mengintip di balik gorden. Menghela nafas berat. Ia pun membalikkan badannya dan berjalan menuju tempat suaminya yang duduk termenung di sofa.
"Mas, gimana ni hujan. Kita gak bisa jalan-jalan dong..." Lirih Luziana menundukkan kepalanya sambil memanyunkan bibirnya. Mendengar tidak ada respon dari suaminya membuat Luziana mendongak kepalanya.
"Mas heih, ngapain melamun" Sentak Luziana, seketika lamunan Renaldy buyar.
"Hah Napa?" Sadar Renaldy dari lamunannya.
Luziana menaikkan alisnya seraya menggeleng kepalanya.
"Mas lagi mikirin apa sih? Kok aku bilang gak di dengarin! Mas lagi mikirin pekerjaan ya?" Luziana memainkan alisnya sambil menatap suaminya. Renaldy yang melihat tingkah istrinya, tersenyum tipis.
"Kok tahu?" Balas Renaldy.
"Ya tahulah, mas kan gila kerja" Cemberut Luziana seraya memalingkan wajahnya. Renaldy yang melihatnya terkekeh pelan.
"Mancam kamu gak aja, kamu pasti mikirin tugas kuliah juga kan?" Tebak Renaldy asal. Mendengar perkataan suaminya, Luziana menoleh kepalanya ke arah suaminya.
"Iya... Tapi kan aku gak terlalu memikirkan seperti mas!" Luziana tersenyum sumringah menatap suaminya yang sebenarnya sekarang sedang berbohong, pada dirinya. Dia tahu kalau suaminya itu sedang memikirkan Mommy nya. Mengingat ada telepon masuk dari Meysa tadi. Tapi untuk pembicaraan jelas antara Meysa dan suaminya Luziana tidak tahu.Tapi yang Luziana tahu, setelah telepon itu berakhir ekspresi suaminya berubah.
Renaldy yang tahu istrinya sedang menyindir dirinya, mengangguk mengiyakan saja. Pria itu pun beranjak dari sofa menuju jendela, yang menampilkan tumbuh-tumbuhan yang di basahi hujan.
Luziana yang duduk di tepi kasur ikut beranjak ke tempat suaminya. Dan berusaha melingkar tangannya di pinggang suaminya. Namun yang melingkarnya hanya sebagian. Karena tangan Luziana mungil daripada badan suaminya yang tegap dan kekar.
"Kamu mau mancing mas ya?" Seru Renaldy. Membuat Luziana yang mendengarnya, di buat bingung.
"Mancing? emangnya mas ikan yang bisa di pancing" Bingung Luziana dengan keningnya berkerut.
Renaldy tertawa ringan. Kemudian ia melepaskan tangan istrinya yang berada di pinggang nya. Lalu menarik tangan istrinya, menjadi berhadapan dengan nya.
Kini tepatlah Luziana berada di hadapan Renaldy. Pria itu menatap netra mata istrinya dalam.
__ADS_1
"Mas pengen kamu boleh kan" Senyuman penuh maksud terbit di bibir Renaldy. Luziana yang sudah tahu arah maksud suaminya kemana. Tersenyum malu dan seraya mengangguk mengiyakan.
Melihat kasih lampu hijau. Renaldy langsung mengendong istrinya sembari mencium bibir istrinya penuh nafsu.
Saat Luziana sudah di rebahkan di atas kasur, Renaldy menarik ikat rambut istrinya. Rambut Luziana yang tadi di kuncir, kini terurai panjang.
"Kali ini kamu yang mimpin ya!" Pinta Renaldy dengan tatapan penuh nafsu.
Luziana langsung mengeleng kepalanya cepat. "Aku gak bisa..."
"Pasti bisa, mas bakal bantuin" Balas Renaldy.
Luziana yang menatap tatapan suaminya yang penuh harap, membuat dirinya merasa gak tega untuk menolaknya. Walaupun itu sudah memang kewajiban nya melayani dan memuaskan suaminya.
Namun membuat dirinya ragu adalah dia sedang hamil. Takut bayi di dalam kandungan nya kenapa-kenapa. Apalagi dia gak pernah mimpin yang begituan. Dan biasanya suaminya yang selalu mimpin asal berhubungan badan.
"Kenapa diam?" Celetuk Renaldy.
"Kalau gak mau gak papa," Sambung Renaldy dan itu membuat Luziana makin tidak enak menolaknya.
"Ya, aku mau kok" Jawab Luziana langsung di sambut senyuman tipis dari Renaldy.
Perempuan itu menyengir bodoh menatap suaminya, yang sudah ia tindih. Karena gak tahu harus lakukan apalagi selanjutnya.
"Ayoo masukin, apa perlu mas bantuin?" Tanya Renaldy lalu di jawab gelengan kepala oleh Luziana.
Luziana pun berusaha mulai memasukkan milik suaminya ke punya dirinya. Tapi tidak bisa.
"Mas enggak bisa!" Ucap Luziana membuat Renaldy menghela nafas pelan.
"Di dorong nya yang kuat, jangan pelan" Balas Renaldy. Luziana pun berusaha melakukan nya kembali. Tetapi tetap hasilnya nihil. Luziana yang ingin menyerah, mengurungkan niatnya tersebut. Melihat ekspresi datar suaminya di balik ke gelapan.
Renaldy yang mulai jengah, dan bikin habis waktu di hal tersebut. Tangannya terulur memengang pinggang ramping istrinya. Luziana yang gak tahu apa-apa dengan rambut panjangnya yang sangat menghalangi wajah nya. Langsung merasa tersentak. Saat Renaldy membantu dorong masukan.
"Auww, ssshh..." Ringis Luziana saat miliknya sudah membenam milik suaminya. Sensasi sakit, nyeri dan enak menyatu.
__ADS_1
Terlebih lagi Renaldy merasakan sensasi yang sangat sulit di jelaskan, yang di bawahnya.
"Aduuh mas, sakit" Lirih Luziana dengan kepalanya membenam di leher suaminya.
"Enggak papa itu palingan sebentar, ayoo di lanjutin" Titah Renaldy. Luziana pun langsung duduk tegak di atas badan suaminya. Dan mulai menggoyangkan pinggulnya. Merasakan goyangan pinggul istrinya sangat pelan. Ia pun juga turut membantunya.
"Auww, pelan-pelan mas" Racau Luziana diiringi suara merdunya yang terdengar di telinga Renaldy.
Renaldy bukannya, mendengar perkataan istrinya. Malah makin mempercepat goyangan pinggul istrinya. Dan di situ Luziana hanya pasrah dengan tangannya menggenggam pergelangan tangan suaminya menyalurkan rasa sakit sekaligus rasa yang sulit di deskripsikan.
Selang beberapa detik, Luziana rasanya ingin keluarkan sesuatu.
"Mas aku udah ingin keluar" Ucap Luziana diringi dengan desahnya.
"Tahan dulu sayang" Pinta Renaldy, lalu Luziana turutin.
Namun sudah sekian detik, Renaldy belum tanda-tanda ingin keluar. Luziana yang sudah tidak tahan mengeluarkan sedikit-sedikit seraya masih berusaha menahannya. Renaldy yang melihat istrinya sudah mengeluarkan itunya. Makin mempercepat temponya.
Dan itu malah membuat Luziana mengeluarkan semuanya.
"Kamu sudah keluarin semuanya?" Tanya Renaldy.
"Iya mas,"Jawab Luziana sedikit merasa tidak enak kan. Langsung Renaldy sambung hentakan kuat, sampai terasa sangat menusuk ke sampai mengenai dinding rahim.
Luziana langsung memeluk kuat suaminya menyalurkan rasa sakit, sambil dirinya menegang merasa sensasi yang di bawa sana.
Merasa sudah mengeluarkan semua. Renaldy mengulang permainan panas itu kedua kali. Untuk berusaha merefresh emosi nya, mengingat perkataan adiknya. Mengenai Mommy Liona di katakan lumpuh.
Bukan dua ronde tapi tiga ronde.
"Mas bakal berhenti, kalau kamu pas pelepasan nya keluarin sama-sama"
Bersambung....
...----------------...
__ADS_1
Gak bisa buat cerita yang hot, takut dosa 🤫. Tapi alurnya begini sudah paham kan?
Setuju gak ungkapin kejahatan Meysa? Jangan lupa komentar!