
"Hebat banget lo tadi mainnya Meysa sampai tim Luziana gak berkutik melawan Lo" Puji Zea seraya mendaratkan bokongnya di kursi kantin.
"Terus Lo dah cantik, pintar, anak yang sangat kaya raya pandai olahraga lagi. Sayangnya Lo di sekolah ini bukan Rangking satu dalam pelajaran. Tapi Luziana" Sambung Zea lagi. Itulah penyebab Meysa sangat gak suka pada Luziana. Dia ingin membuat perempuan itu keluar dari sekolah sekaligus cerai dari kakaknya. Membuat itu terjadi dia harus membuat rencana yang sangat matang. Meysa hanya diam dengar perkataan Zea sembari menyeruput jusnya.
Riri yang baru datang langsung menarik kursi kemudian duduk di samping Zea. "Gimana hebatkan seorang Alviari Falestyn main volinya tadi" Seru Riri dengan heboh seraya membanggakan dirinya. Zea melihat Riri dengan tatapan jengkel.
Cewek itu mengingat Riri di lapangan tadi hanya bikin beban tim Meysa doang. Dan tidak ada hebatnya cewek pendek satu ini.
"Jadi... Meysa traktir gue dong" Pinta Riri memelas. Membuat Meysa hampir tersedak dengan air jus.
"Lo minta traktir." Riri mengangguk kepalanya pelan.
"Enggak boleh!. Lo beli makanan pakai duit sendiri sana. Enak aja minta di traktir terus. Sekali-kali Lo traktir gue." Ucap Meysa berkacak pinggang. Meysa bukannya pelit sama temannya sendiri. Tapi temannya aja itu gak tahu diri. Masak, setiap hari di minta traktir. Otomatis dia gak mau lah. Seenaknya aja minta traktir padanya, padahal duit jajan sendiri ada, dan emang uang cewek itu bawa kemana?, buat nabung. Meskipun uang Meysa gak bakal habis hanya cuman traktirin temannya ini. Tapi dia tetap gak mau jadi orang bodoh hanya untuk di manfaatin temannya karena dirinya anak orang kaya.
Meski begitu Meysa tahu, temannya gak sejahat itu padanya. Karena Meysa sudah berteman dari sejak SD sama Riri kalau Zea gak cuma temanan pas SMA ini.
"Ihh.. pelit banget si lo sama temannya sendiri" Balas Riri dengan raut wajah di buat sedih.
"Gue gak pelit, kalau Lo gak setiap hari Lo minta traktir sama gue. Emang Lo gak ada gitu di kasih uang jajan sama nyokap dan bokap Lo. Apa Lo nabung itu uang. Itu Lo sama aja pelit dengan diri sendiri. Dengan karena pengen nabung Lo, sampai diri Lo sendiri gak dapat, bisa beli jajan di sekolah. Setahu gue Nyokap sama bokap lu kaya kan, mereka berdua sama-sama kerja. Sementara gue Papa gue yang kerja doang. Sanggup kasih uang jajan gue tiap bulan" Ujar Meysa panjang lebar. Meysa akan berbicara panjang. Kalau soal itu penting, jika tidak penting dia akan mau berbicara panjang lebar di sekolah. Kecuali di rumah.
Riri menunduk kepalanya diam. "Gue lagi kere ni tau." Balasnya.
"Terus uang yang di kasih orang tua Lo bawa kemana?" Tanyak Meysa menaikkan alisnya.
"Gue beli untuk top up" Sahut Riri dengan enteng. Meysa mengeleng kepalanya, gak habis pikir dengan satu temannya ini. Bisanya uang jajannya dia beli untuk top up game.
"Semua?"
"Yes"
Sementara gak jauh di tempat Meysa duduk. Ada langit duduk di ujung kantin menatap cewek itu dengan tatapan susah di tebak.
"Jangan di perhatiin terus kalau suka bilang" Seloroh Fathan, langsung dapat tatapan tajam dari cowok itu. Fathan melihatnya menelan saliva-nya dengan susah payah.
"Heih, langit tadi Lo main keren banget sampai Vian gak sanggup nahan bola dari pukulan Lo" Seru Arlan sembari mengingat pertandingannya tadi. Mereka juga sempat menonton pertandingan tersebut. Para teman Langit kok bisa tahu kalau Langit ikut bertanding. Karena mereka sempat mendengar percakapan Meysa dan langit. Walaupun sedikit.
"Terus gue kira tadi tim si Prik yang bakal menang." Karena perempuan itu rangking satu di sekolah. Jadi mereka menebak bahwa kalau perempuan itu yang bakal menang. Ternyata perkiraan mereka salah, yang menangnya adalah tim Meysa. Gak heran juga sih. Kalau cewek itu yang bakal menang.
Langit mengeryitkan dahinya heran. "Prik" Gumamnya heran dengan sebutan Prik itu. Teman Langit saling pandang.
"Lo gak tau siapa itu Prik." Ucap Fathan melihat ada kerutan di dahi Langit. Cowok itu langsung mengeleng kepalanya.
"Emang siapa itu Prik. Kayak asing" Tanyak Langit datar.
__ADS_1
"Prik itu cewek yang pakai hijab tu... cewek itu namanya Prik. Sebenarnya nama dia bukan Prik. Kalau seingat gue namanya siapa yang cewek pakai jilbab itu?"
"Luziana" Celetuk Arlan.
"Hah iyah namanya Luziana. Kami panggil, maksudnya bukan kami panggil sih. Tapi orang sekolah yang panggil namanya dengan sebutan Prik. Katanya cewek itu aneh begitulah, kasih hukuman, menurut para murid aneh dan gajelas begitu. Makanya mereka sebut nama cewek berjilbab itu Prik. Tapi kata orang sekolah sih. Bukan kata gue" Ujar Fathan panjang lebar. Langit yang mendengarnya sedikit tertarik pada perempuan yang di katakan aneh itu. Gajelas kayak gimana sih hukumannya di kasih perempuan itu, sampai orang memangil namanya dengan prik.
...***...
"Gara-gara Lo Prik. kite-kite jadi malu kan" Ucap Lisa emosi. Dari tadi cewek itu tidak ada henti-hentinya mengomel. Padahal pertandingan itu sudah berakhir sejak beberapa menit yang lalu. Tapi masih aja cewek itu malu.
"Mancam hebat aja Lo main. Perasaan pas servis aja Lo gak becus. Gak sampai melewati net" Balas Karina yang sudah kesal dengan sikap Lisa yang suka menyalahkan orang. Kalah menang kan itu dah biasa namanya juga permainan.
Lisa yang di marahin hanya membalasnya dengan cengengesan. Jam istirahat pun berakhir semua murid pun berhamburan masuk dalam kelas.
...***...
"Mesya, Vian, Jihan, Nico dan Luziana kalian satu kelompok. Buat tugas biologinya." Meysa yang sempat senang mendengar satu kelompok dengan cowok yang ia sukai seketika rasa senang itu langsung hilang menganti dengan rasa tidak terima. Karena bahwa Luziana bakal satu kelompok dengannya.
Meskipun begitu, Luziana gak kalah terima juga bahwa dirinya satu kelompok dengan adik iparnya itu.
"Ibu... saya gak mau satu kelompok dengan Meysa Bu..." Pekik Luziana menentang satu kelompok dengan Meysa.
Meysa mendengarnya mencebik kesal. Dia pun tak kalah teriaknya dari pada Luziana. "Ibu... saya gak terima harus kelompok dengan rakyat jelata itu. Dia itu perempuan yang gajelas" Cibir Meysa seraya menghina.
"Emang kenyataannya Lo memang perempuan gajelas kan. Dan lu itu juga munafik" Balas Meysa dengan nada naik beberapa oktaf.
Luziana mengepal tangannya kuat. Saat hendak ingin membalasnya guru sudah kasih instruksi untuk diam. Dia mengurungkan niatnya dan kembali tempat duduk masing-masing. Tidak ada murid yang mendengar percakapan mereka. Karena mereka sibuk dengan bahan apa yang harus di bawa pas kerja kelompok.
Vian pun pusing juga satu kelompok dengan orang yang saling bermusuhan itu. Pastinya mereka berdua tidak ada henti-hentinya beradu mulut.
"Gak ada!. Enggak terima-terima. Yang guru itu ibu bukan Kalian. Jadi paham" Ucap buk Susi guru pelajaran biologi. Guru itu juga terkenal galak dan sangat pelit nilai.
"Paham ibu guru" Jawab kompak para murid.
Luziana menghela nafas panjang. Dia sungguh tidak ingin satu kelompok dengan Meysa. Mau apa boleh buat dia harus terima. Begitu juga Meysa walaupun dia anak pemilik yayasan dia juga tidak bisa semena-menanya menentang keputusan guru.
Sementara temannya itu enak dapat kelompok yang baik-baik dan bukan musuh mereka.
Bel pulang berbunyi. Para semua murid berhamburan keluar dari kelas. Mancam ayam, yang sudah beberapa tahun di kurung dalam kadang, dan baru di lepas. Seperti itulah para murid sebelas MIPA satu.
"Luziana yang sabar ya" Ucap Lisa seperti nada mengejek. Ia tahu kalau temannya ini gak suka satu kelompok dengan Meysa.
Luziana menoleh di sampingnya yang terdapat teman lucnatnya. Seperti mengejek dirinya. Luziana pulang dari sekolah kali ini bukan dengan taksi. Melainkan pulang dengan naik sepeda motor miliknya yang baru di antar kemarin di rumah suaminya.
__ADS_1
Gak jauh dari tempat mereka Riri memengang ponsel kesal. Karena belum di kunjung jemput. Orang yang di tunggu pun datang. Cewek itu pun segera berlari menuju mobil Toyota sport warna putih.
"Lama banget sih Lo jemput nya" Celetuk Riri kesal yang sudah duduk di samping tempat orang mengendarai.
"Tadi macet Ri, di jalan" Balas wanita cantik itu yang bagian mengendarai. Bahkan cuman telat hanya 20 menit doang. Tapi gadis itu sudah langsung emosi.
"Alasan" Sentak Riri seraya memutar bola matanya dengan malas. Bisanya cewek itu bicara gak sopan pada orang yang lebih tau dari padanya. Dan wanita itupun ibunya. Wanita yang bernama Ely itu memejamkan matanya, menahan emosi yang ingin menyeruak.
Ely pun menarik gas dan melajukan mobilnya. Diantara mereka berdua tidak ada yang mau berbicara. Dia dalam mobil itu hening.
Berlama diam akhirnya Riri membuka suara. "Mimi nantik Riri pergi sama kawan ya" Ujar cewek itu.
Ely melirik sekilas. "Enggak boleh. Kamu enggak boleh pergi kemana tetap diam di rumah. Sebelum Mimi pulang" Ucap Ely sembari menyetir mobil. Riri yang tidak boleh pergi sama kawannya mendengus kesal.
"Cuman sebentar aja kok. Masak gak boleh" Balas Riri dengan memelas.
"Tetap aja gak boleh Ri. Pokoknya Mimi gak izin kamu keluar rumah sebelum Mimi pulang" Ucap Ely kekeuh tidak mengizinkan pergi.
"Masak pergi cuman sebentar aja gak boleh. Kalau Lo gak ngeizinin, gue langsung pergi sama kawan gue. Tanpa izinin dari Lo" Sentak Riri dengan nada bicara yang tinggi. Seketika Ely mengerem mobilnya mendadak.
"Yaudah kalau kamu gak mau dengar. Silahkan pergi sana sama teman mu. Jika papa kamu marah jangan pernah salahkan Mimi" Ujarnya menahan emosi. Dan kembali melajukan mobilnya yang sempat tertunda.
Riri terpaksa menurut mendengar perkataan ibu tirinya, yang telah membawa nama Papanya. Kalau soal di bawa-bawa nama Papanya dia bakal jadi anak penurut. Sebenarnya Riri gak takut tapi cuman segan.
Beberapa menit menempuh perjalanan. Akhirnya dia pun sampai rumah yang begitu mewah. Cewek itu pun segera membuka pintu mobil. Dan menutup mobil dengan sangat kasar. Hingga orang yang di dalam mobil hanya bisa menahan emosinya.
"Cuman ibu tiri aja banyak ngatur" Ucap Riri menghentakkan kakinya emosi. Dia tidak berani bicara begitu langsung di depan ibu tirinya, kalau ibu tirinya banyak ngatur. Dia hanya berani bicara di belakang. Dan juga menjaga perasaan, yang telah menjadi istri kedua Papanya.
Hidup Riri selalu di kekang. Ini gak boleh itu gak boleh semuanya kalau bisa gak boleh. Dia hanya tinggal sendiri di rumahnya yang begitu mewah. Papanya dan ibu tirinya selalu sibuk dengan pekerjaan. Tapi sesibuk mereka masih berusaha sempat ngumpul bareng keluarga.
Riri tinggal sendiri di rumah mewah ini, sama beberapa pembantunya. Ibu tirinya bakal pulang jam setengah lima. Kalau Papanya ntalah dirinya enggak tahu. Riri pun tidak berharap kalau papanya itu bakal pulang ke rumah.
Cewek yang sangat cerewet dan bawel ini. Merupakan anak broken home.
...----------------...
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA
LIKE
VOTE
KOMENTAR
__ADS_1
DAN JANGAN LUPA GIFT HADIAHNYA