Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Usg


__ADS_3

"Langit Lo gak kesini? Meysa lagi berduaan dengan cowok noh." Chat Fathan di grup perkumpulan geng motor mereka.


Langit melihat notifikasi WhatsApp, langsung membaca pesan temannya itu grup. Cowok itu menaikkan alisnya. Melihat Meysa berdua dengan cowok berada di restoran.


"Enggak.." Balas chatting langit singkat. Dia tidak peduli mau Meysa berjalan samsi siapapun itu, dirinya gak peduli. Kenapa coba dia harus kepo dengan kehidupan sepupu nya itu.


"Nyakin.. gak mau! mereka terlihat mesra banget lohh" Chat Fathan lagi.


"Sherlock lokasinya dimana" Balas chatting langit.


"Alah tadi bilang enggak? sekarang kok minta Sherlock!" Fathan tertawa membaca pesan teman sohibnya satu ini.


"Gausah banyak bacot Lo. Ntar gue gak traktir lagi Lo, mau Lo" balas Chat Langit yang terlihat marah.


"Iye-iye ampun pak bos"



Renaldy menatap istrinya yang terbaring lemah dan terlihat beberapa luka lecet di tangannya. Apalagi di dahinya, yang harus di jahit.



Renaldy mendaratkan bokongnya di kursi samping brankar tempat istrinya. Lalu ia menggapai tangan istrinya yang ada beberapa luka lecet dan menggenggam tangan istrinya itu.



"Kamu kok bisa ketabrak gini.." Lirih Renaldy dengan raut wajah terlihat sedih. Ia pun mengecup tangan istrinya itu.



Sudah beberapa jam, Luziana belum sadar sampai hingga jam delapan malam, Luziana sudah kembali sadar.



Kelopak mata Luziana terbuka, tercium di Indra penciuman bau yang menyengat obat-obatan dan bau khas lantai rumah sakit.



"Kamu sudah sadar... apa ada masih sakit, biar saya panggil dokter" Tanya Renaldy yang melihat istrinya yang sudah sadar, sembari tersenyum hangat.



Luziana mengeleng kepalanya pelan.



"Gausah mas..." Balas Luziana seraya tersenyum kecil.



"Kamu bikin saya khawatir tahu gak sih" Luziana menatap suaminya yang masih mengunakan jas kerjanya.



"Maaf.." Lirih Luziana pelan. Renaldy mengeleng kepalanya pelan, seraya tangannya terangkat mengusap kepala istrinya.



"Tidak apa-apa lain kali jangan di ulangi lagi.. Dan kamu harus lebih hati-hati." Renaldy kini belum tahu kalau istrinya sedang hamil, karena dokter yang menangani Luziana sedang melakukan operasi. Dan untuk orang yang nabrak sudah di urusin oleh Kinasih, Mamanya Kirana.



Luziana mengangguk kepalanya pelan.



Tiba-tiba terdengar suara pintu rawat inap terbuka, menampilkan seorang dokter yang diyakini itu bukan bibinya Renaldy.



"Sudah sadar.. gimana keadaannya apa ada masih sakit?" Tanya dokter itu yang di tugaskan mengantikan dokter Mala.



"Tidak ada! cuman nyeri sedikit doang.. apalagi bagian kepala" Balas Luziana seadanya.



Dokter yang bernama Lea itu mengangguk kepalanya paham.

__ADS_1



"Ouh itu gak apa-apa mungkin itu karena efek obatnya. Apalagi dahinya habis di jahit, ya kan tuan? besok mungkin sudah tidak nyeri lagi" Tanya dokter Lea minta kebenaran.



Renaldy hanya mengangguk kepalanya.



"Jadi gini.. dokter Mala ada tugas kerja dia terpaksa tidak bisa mengecek keadaan Nona Luziana langsung. Saya sebagai dokter Lea di perintahkan oleh dokter Mala untuk mengganti, mengecek keadaan Nona Luziana. Gak papa kan tuan Renaldy?" Tanya dokter Lea mematikan.



Renaldy mengangguk kepalanya sebagai jawaban. Dengan ekspresi datarnya.



Dokter Lea tersenyum tipis, melihat coolnya Renaldy. Dan terlihat makin tampan aja, putra sulung Hervandez. Apalagi badannya yang terlihat kekar dengan rahang yang kokoh.



"Suster tolong ambil kursi roda.." Titah dokter Lea kepada perawat yang mengikutinya. Suster tersebut mengangguk kepalanya sebagai jawaban.



Gak beberapa lama kursi roda nya datang.



"Nona Luziana tolong di duduk di kursi roda ya" Pinta Dokter Lea kepada Luziana. Luziana mengangguk kepalanya mengiyakan.



"Biar saya ituin saja" Ucap Renaldy biar dia membantu istrinya duduk di kursi roda. Para suster yang ingin membantu Luziana mundur beberapa langkah.



Luziana yang digendong oleh suaminya duduk di kursi roda. Merasa malu, apalagi ada para dokter dan suster melihat adegan itu.




Luziana mengangguk kepalanya pelan.



"Sudah dokter" Balas Luziana seraya tersenyum tipis. Kursi roda pun di dorong oleh Renaldy dan di ikuti oleh para suster dan dokter. Renaldy maupun Luziana mereka tidak tahu mereka akan di bawa kemana hingga sampai lah di ruang obgyn.



Renaldy membacanya menaikkan alisnya, dia merasa tidak asing dengan nama ruangan tersebut. Luziana pun kembali di rebahkan tubuhnya di atas brankar.


Di ruangan obgyn tersebut.



"Bajunya saya singkap dulu ya.. Mau lihat perkembangan bayinya, bagaimana" Ucap dokter Lea sembari menyingkap baju Luziana. Luziana yang mendengarnya langsung jadi bingung, apa maksud dokter tersebut.



Sementara Renaldy raut wajahnya memang datar. Seketika raut wajahnya susah di tebak. Yang biasa memang dingin, kini lebih dingin lagi. Luziana pun menatap suaminya yang hanya diam saja. Ada perasaan kalut di dalam Luziana, setelah melihat ekspresi suaminya.



Setelah dokter menaruh gel di perut Luziana. Dokter itu pun memberikan instruksi untuk melihat ke layar monitor. Luziana pun menoleh pandangannya ke layar monitor. Sementara Renaldy enggak.



"Lihat bayinya.. anggota tubuhnya sudah mau hampir lengkap sudah ada tangan kakinya dan jari-jarinya" Ujar dokter Lea dengan ramah. Tidak ada perasaan bahagia di dalam Luziana, mendengar pernyataan tesebut. Malahan dia bingung dan perasaannya menjadi takut sendiri.



"Saya hamil dokter.." Apa yang di bilang dokter yang klinik itu berarti benar. Tapi dirinya masih gak percaya. Dokter itu yang mendengarnya, seperti pertanyaan konyol.



"Ya Nona sedang hamil, malahan sudah sebelas minggu. Ada-ada aja nona pertanyaannya. Lihat di monitor ini bayinya nyonya dan tuan.." Ujar dokter Lea dengan sangat ramah.

__ADS_1



Dokter Lea di tugaskan, untuk hanya sekedar memeriksa kondisi kandungan Luziana. Dan tidak kasih tahu bahwa mereka belum tahu Luziana itu sedang hamil.



Dan Luziana masih sempat-sempatnya ingin menyangkal. Tapi dia urungkan niat itu, karena sudah terlihat bukti jelas.



Tapi yang bikin bingung bagi Luziana. Mereka berhubungan badannya, baru kemarin. Masa jadi proses pembuahan nya sekarang. Cepat sekali.



Luziana menatap suaminya kembali yang hanya diam. Ia menelan saliva-nya dengan susah payah.



"Kalau boleh tahu sebelas minggu berapa bulan dokter" Tanya Luziana memastikan seraya menautkan tangannya dengan perasaan kalut. Sementara dokter dan suster melihat mereka berdua tidak ada sedikitpun perasaan bahagia.



"Hampir memasuki tiga bulan nona" Jawab dokter Lea dengan nada bicara sama seperti tadi. Kayaknya seperti pasangan pasutri itu tidak tahu, kalau mereka akan menjadi seorang ibu dan ayah.



Seketika tubuh Luziana menegang. Rasanya, perasaannya susah di deskripsi kan.



Dokter itu melihat tidak ada perasaan bahagia dari mereka. Dan juga dirinya bingung, harus bersikap seperti apa. Ia pun berusaha bersikap profesional.



"Mau di dengar detak jantung bayinya tuan nyonya" Tanya dokter Lea lagi dengan ramah. Luziana yang mendengarnya, menatap suaminya yang gak ada reaksi apa-apa.



"Gausah dokter cukup sampai disini saja." Balas Luziana.



"Kenapa tidak mau di dengar? kan kasian bayinya sudah di kunjungi tidak ada merasa ada yang bahagia disini. Kan dia ingin sambut bahagia sama kedua orang tuanya" Tutur dokter Lea, dan juga kasihan melihat Luziana seperti banyak pikiran.



"Cukup lakukan apa yang di minta" Ucap Renaldy dengan nada dingin. Dokter Lea yang mendengarnya, menurutinya. Dia tidak tau harus berbuat apa.



Ia pun sedikit memberikan penjelasan, apa saja yang boleh dilakukan ibu hamil dan tidak boleh, begitu makanan dan obatan. Dan juga menjelaskan bahwasanya kandungan Luziana sedang lemah. Dan harus butuh perawatan untuk beberapa hari.



Tapi tidak ada dari mereka berdua, menunjukan ekspresi serius.



Di rawat ruang inap.


Luziana menatap suaminya yang kini sudah kembali kembali ruangan rawat inap nya, bukan ruangan rawat inap VIP. Dan sedari tadi suaminya itu hanya diam. Tidak berbicara sepatah katapun.


"Mas.." Panggil Luziana yang melihat suaminya diam saja. Di ntah kenapa hari ini kayak kurang suka melihat suaminya begini. Dan pikiran juga sudah bersarang yang enggak-enggak.


Tidak ada respon.


"Mas Luziana pengen minum tolong ambilkan.." Pinta Luziana kepada suaminya. Namun tetap saja tidak ada respon.


"Mas.." Panggil Luziana dengan sedikit berteriak.


"Kalau pengen minum ambil sendiri, punya tangan dan kaki kan? gunakan" Sentak Renaldy. Luziana yang mendengarnya, rasanya ingin nangis. Matanya kini pun sudah berkaca-kaca, ia mengigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang sudah mengembun ingin keluar. Ia pun memiliki itu tidak berbicara lagi. Yang tadi bersandar kini ingin merebahkan tubuhnya. Tapi sebelum merebahkan tubuhnya.


"Kalau kau sudah merasa baikan kita pulang sekarang.." Tukas Renaldy, padahal dia sudah mendengar bahwa Luziana kandungannya lemah harus di rawat beberapa hari. Tetapi ntah kenapa Pria itu tidak mempedulikannya.


"Iya.." Jawab Luziana mengiyakan.


...----------------...


Follow Instagram author: maulyy_05

__ADS_1


__ADS_2