Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Hanya beban


__ADS_3

Selepas kepergian langit, Nadia nampak tersalting-salting sendiri.


"Gila.. lun itu cowok tadi ganteng banget sumpah!" Ucap Nadia dengan berteriak histeris.


"Hadeeh.. mulai deh, itu cowok tadi dah punya pacar loh namanya Meysa!" Ujar Luziana membuat Nadia yang mendengarnya jadi langsung patah hati.


"Yang serius loh?" Tanya Nadia dengan tatapan tak percaya.


"Iya.." Luziana mengangguk kepalanya mengiyakan. Seingat Luziana kawan sekolahnya sering menyebutkan mereka berdua itu pacaran. Padahal kenyataannya tidak. Mereka hanya sebatas sepupu.


"Yahh.. gak serius amat sih, baru aja tadi rasain jatuh cinta, dah langsung patah hati" Ketus Nadia seraya mengerucut bibir nya lucu.


Luziana terkekeh pelan. "Yang sabar ya.."


"Iye.." Tiba-tiba teleponnya Nadia berdering, membuat pembicaraan mereka pun berhenti. Nadia yang melihat yang di ponselnya tertera nama kakaknya. Langsung mengangkatnya.


"Halo bang Romy ada apa?" Tanya Nadia setelah teleponnya sudah terhubung.


"Ini Nadia.."


1 menit kemudian pun berlalu, Nadia yang sedang telepon dengan kakaknya, kini sudah berakhir. Ia pun langsung kembali ke tempat ranjang Luziana.


"Kenapa kakak mu telepon?" Tanya Luziana dengan penuh tanda tanya.


"Itu.. dia mau antar baju ganti aku kesini. Aku kan bakal nginep sini untuk jaga kamu. Masa iya gak ada baju" Balas Nadia seadanya lalu di angguki kepala oleh Luziana.


"Lun kamu gak makan?" Pandangan Nadia fokus ke makanan yang ada di atas nakas yang belum di sentuh.


"Hm, enggak deh. Aku gak suka nasi rumah sakit ni terlalu hambar. Lebih baik aku makan kue aja, kamu bisa tolongin beliin kue bolu gak?" Pinta Luziana kepada Nadia.


"Boleh.. mana uangnya?" Luziana pun segera mengambil uang nya di dalam tasnya. Dan memberikan uang itu ke Luziana.


"Kue apa ni, yang mau Lo gue beli" Lontar pertanyaan Nadia.


"Seterah apa aja yang penting kue bolu.."



Setelah beberapa jam Nadia pun kembali dengan membawa kresek yang berisi kue bolu pandan, pisau sama piring.



"Ini kue bolu yang sesuai Lo inginkan" Nadia menyodorkan kotak persegi panjang yang berisi kue bolu pandan.



Luziana yang melihatnya, menyengir lebar. "Tolong potongin dong, kamu lihat sendiri kan tangan aku di infus" Pinta Luziana membuat Nadia berdecak kesal.



"Beban amat sih Lo.." Ucap Nadia yang bermaksud bercanda. Tapi Luziana yang mendengarnya, langsung masuk ke hati. Tingkah Luziana langsung berubah drastis, menjadi canggung dan gak enakan.



"Nih kue bolu pandan nya wangi kan.." Nadia menyodorkan piring yang sudah dia taruh kue bolu pandan nya. Kue bolu pandan yang di beli Nadia kue bolu mahal, yang di jual di kantin rumah sakit, jadi gak salah dong dari baunya aja udah terasa enak.



Luziana mengangguk kepalanya pelan. "Iyah.."



"Perlu aku suapi gak?" Tanya Nadia dan Luziana langsung mengeleng kepalanya cepat.



"Gausah aku bisa makan sendiri kok" Sahut Luziana cepat.



"Yaudah deh kalau begitu." Setelah itu Nadia pun mendaratkan bokongnya di kursi, lalu mengambil ponselnya di saku celana nya dan melanjutkan game yang tadi, yang sempat tertunda sambil mengunakan headset.



Sementara Luziana menyuapkan kue bolu nya dengan sudah tidak berselera lagi. Dan dengan moodnya yang sudah hancur. Pandangan Luziana pun beralih ke Nadia yang duduk di kursi samping ranjangnya.



"Nadia.." Panggil Luziana. Namun tidak di sahut oleh namanya di panggil.



"Nadia.." Panggil Luziana lagi dengan nada yang di tinggikan seraya melambaikan tangannya di udara tepat wajah Nadia.


__ADS_1


Nadia yang di panggil pun menjadi emosi.



"Apasih lun.." Tanya Nadia dengan nada membentak seraya melepaskan headset di telinga nya. Nadia ciri-ciri orang paling gak suka di ganggu pas lagi sibuk mainnya. Di rumah dengan orang tua pun begitu.



Luziana pun sudah tahu sifat Nadia seperti itu. Mengingat mereka termasuk temanan dari kecil. Luziana juga begitu di rumah, tapi pas di suruh soal adiknya. Kalau dengan papa haris tidak, karena mengingat Papa Haris tipe laki-laki yang kejam dan pekerja keras. Jadi Luziana gak berani namanya membangkang.



"Enggak.. aku ingin cuman tanya aja sama kamu, kamu mau kue bolu gak" Ujar Luziana dengan nada lembut. Nadia yang mendengarnya langsung tersenyum sumringah.



"Ouh kirain tadi gue tadi apa manggil-manggil" Balas Nadia dengan nada yang biasa-biasa aja. Tidak seperti tadi.



"Mau gak.." Tawar Luziana lagi sambil memperlihatkan kue bolu yang di piring nya tinggal tiga dia tadi hanya memakan dua kue bolu.



Nadia mengangguk kepalanya antusias. "Mau-mau.."



Nadia pun langsung mendekatkan mukanya ke Luziana. Luziana yang tahu maksud Nadia langsung menyuapi temannya itu.



"Hmm enak banget kue bolu nya, ntar gue suruh beli deh sama Abang gue" Ujar Nadia sembari menguyah. Luziana yang mendengarnya tersenyum simpul.



Bolu nya pun habis hingga tinggal bisa di potong 5 kue bolu lagi untuk di makan. Nadia yang sudah kenyang mengambil air Aqua gelas yang dia beli tadi. Piring bekas bolu itu. Luziana taruh di atas nakas. Dan merebahkan tubuhnya.



Susana terlihat sepi karena hari mau semakin malam, kini aja sudah jam sembilan lewat lebih. Cuman terdengar orang yang berjalan di lorong rumah sakit saja. Beberapa pasien juga pun ada yang sudah tidur.



Nadia yang sedang sibuk ponselnya, dan menunggu abangnya datang. Tiba-tiba ponselnya ada notifikasi dari WhatsApp nya.




Luziana yang memperhatikannya pun bertanya.



"Kenapa Nadia kok kamu kaget gitu.." Tanya Luziana seraya menaikkan alisnya.



"Gini loh.. aku lupa kalau, kalau sebenarnya aku dah mulai masuk sekolah" Sahut Nadia seraya menyengir lebar.



"Jadi.." Luziana masih nampak belum maksud sohibnya itu.



"Ya jadi aku harus pulang, gak bisa jagain kamu" Ujar Nadia kemudian.



Luziana yang mendengarnya, ada perasaan gak rela. Kalau temannya itu bakal pulang. Jadi dirinya tinggal sendiri dong.



"Yaudah kamu pulang aja, aku gak papa kok sendiri disini kan ada suster juga" Ujar Luziana yang mungkin nahan Nadia agar tetap disini apalagi temannya itu udah mulai masuk sekolah, besok.



"Betul kan gak Papa sendiri? kalau gak aku suruh Abang aku aja, soalnya dia juga lagi libur dari kerjanya" Tawar Nadia yang kasian juga melihat temannya tengah hamil di tinggal sendiri di rumah sakit, tidak ada yang jagain.



"Gausah.. aku bisa sendiri kok" Tolak Luziana halus. Luziana gak mau yang jagain itu laki-laki apalagi dirinya sudah jadi status sah istri orang. Lagipun abangnya Nadia itu pernah ada rasa sama Luziana. Mengingat Luziana sudah jadi istri orang dan telah hamil ya mau gimana lagi mundur lah.


__ADS_1


Kok tanya, kenapa Luziana gak mau aja di jaga sama Abang Nadia kan ada rasa suka. Yah Luziana gak mau karena apa, terutama malu. Dulu di orang kampung tempatnya tinggal, juga banyak jodohkan mereka yang terlihat cocok. Ya ternyata bukan Abang Nadia yang jodoh Luziana, jadi sudah takdir mau gimana lagi kan. Kemudian dia belum tentu mau sama Luziana yang sudah milik orang, walaupun misalnya Abang Nadia tetap mau. Tapi tetap saja sebagai wanita itu harus punya harga diri, paling malu kalau di jaga sama orang yang dulu katanya jodoh kita ternyata bukan.



"Yaudah deh kalau kamu maunya begitu.." Akhirnya Nadia pun memutuskan pulang karena abangnya sudah berada di parkiran rumah sakit.



Luziana yang tinggal sendiri memutuskan untuk tidur. Saat mau memenjamkan matanya, perutnya terasa ingin membuang air kecil.



"Nadi-" Luziana yang ingin memangil namanya temannya itu, jadi berhenti. Dia lupa kalau temannya itu sudah pulang. Dan mau gak mau dia pun membuang air kecil sendiri tanpa bantuan orang lain. Luziana pun mengambil infus nya, dan berjalan dengan hati-hati.



Selesai membuang air kecil, Luziana pun ingin kembali ke ranjangnya kembali. Saat membuka pintunya, infus Luziana pengang jatuh ke lantai.



Bruk



"Auhh.." Meringis Luziana kesakitan di punggung tangannya. Dengan posisi perutnya buncit yang sudah jalan lima bulan. Luziana pun menunduk mengambil infus nya. Dan segera kembali ke ranjangnya.



"Aduuh sakit.." Ringis Luziana yang masih terasa sakit di punggung tangannya.



Tangannya pun terulur mencabut infus di punggung tangannya. Lalu segera mengambil tisu untuk membersihkan darah nya.



Keesokan paginya Luziana pun terbangun mendengar, petugas bersih-bersih sudah datang.


"Permisi mbak tempat nya saya bersih dulu ya.." Izin petugas bersih-bersih tersebut.


"Iya silahkan.." Balas Luziana ramah.


Setelah beberapa menit, petugas bersih-bersih itu pun pergi. Luziana yang perutnya mulai lapar, melihat kue bolu pandan yang punya semalam di atas nakas. Yang tadi posisi tidur kini beralih ke posisi duduk. Luka punggung di tangannya sudah mengering.


Luziana pun meraih bolu itu, setelah mengambilnya. Kemudian Luziana mengambil pisau untuk memotong kuenya, namun saat meraih pisaunya itu. Kue bolu nya jadi jatuh ke lantai.


"Aduh bolunya jadi jatuh.." Luziana menatap bolu pandan nya yang berada di lantai. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Perkataan temannya semalam itu terulang lagi.


"Beban banget sih Lo lun kue gini aja jatuh" Rutuk Luziana untuk dirinya sendiri. Tangis nya pun pecah, tentang pahit yang sudah berlalu, terulang lagi di memori nya.


"Papa gak mau tahu kamu harus menikah dengan teman Papa Luziana!"


"Kamu ni Luziana kapan berhubungan badan sama suami kamu, biar kamu itu cepat hamil dan Mama bisa cepat gedong cucu"


"Lo nikah kakak sama gue karena harta kan! kalau pengen bilang sama gue biar gue kasih, dasar rakyat jelata"


"Gue kira Lo wanita baik-baik ternyata enggak"


"Ku kira jeng anak kamu bakal nikah dengan Riri mengingat suami kamu teman akrab dengan Tuan Galvin, tapi ternyata enggak"


"Kalau boleh tahu kamu kerja apa"


"Jeng kalian gak pulang udah mulai jam sembilan malam loh"


"Maksud kamu apa sih? Mas gak ngerti. Gini ya buat apa kenalin teman-teman, bikin malu aja"


"Seterah apa yang kau perbuat, mulai sekarang saya tidak peduli dengan mu lagi. Saya bukan budak yang selalu harus mengerti apa mau mu"


Tangis Luziana makin menjadi-jadi. Dia ngak nyangka hidup nya bakal serumit ini.


"Lo itu cuman beban Luziana, cuman bikin malu" Ucap Luziana dengan air mata semakin mengalir.


"Aku capek, seharusnya aku gak hidup kayak gini. Bukannya aku masih sekolah, kenapa bisa berada disini" Ucap Luziana terhadap dirinya sendiri dengan sesegukan.


Ia pun menatap perutnya sendiri, yang ada darah daging nya juga disitu. Tangan nya pun terangkat. Dan memukulnya perutnya sendiri.


"Kamu harus mati! dan seharusnya kamu gak hadir di hidupku. Gara-gara kamu hidup aku jadi sengsara. Dan gara-gara kamu juga aku jadi berhenti sekolah" Luziana terus-terusan memukul perut, rasa sakit yang menyerang tidak ia pungkiri. Karena rasa amarah menguasai nya. Tangan nya pun berhenti, dan menatap pisau di atas nakas.


"Kamu kuat ya lun, kalau aku jadi kamu sudah bunuh diri"


Luziana pun segera mengambil pisau, dan niat memotong nadinya.


Bersambung...


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa follow Instagram author: maulyy_05


__ADS_2