Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Gak ada beruntung nya


__ADS_3

"Aku dah minta izin, dan di bolehin sama orang tua aku. Terus mana, katanya mau traktir..." Ucap Nadia seraya mendaratkan bokongnya di kursi samping brangkar.


Luziana pun menoleh menatap temannya itu. Ia pun menyuruh temannya itu mengambil tasnya.


"Tolong ambil tas ransel aku?" Pinta Luziana seraya menunjukan tangannya kearah meja di depan Bednya.


Pandangan Nadia pun menoleh, di tepat Luziana menunjukkan tasnya. Dengan segara Nadia pun bangkit dari kursinya dan mengambil tas tersebut. Lalu ia pun memberikan tas itu ke Luziana.


Luziana pun mengeluarkan dua lembar uang merah yang berada di tasnya.


"Ini seterah apa kamu ingin beli, habis itu tolong belikan aku nasi bungkus ya" Ujar Luziana memerintah lalu di anggukan kepala oleh Nadia.


"Oke, pakai apa?" Tanya Nadia seraya menaikkan alisnya.


"Mm, pakai ayam goreng ya dah itu aja sama air putih botol Aqua dingin satu" Pinta Luziana lagi. Nadia pun mengiyakan dan melaksanakan apa yang di suruh temannya itu.


Melihat teman satu kampung dengannya udah pergi. Luziana pun membetulkan selang oksigen yang berada pada hidung nya. Dan memulai memejamkan matanya. Ntah kenapa kepalanya terasa pusing sekali.


2 jam kemudian pun berlalu. Nadia pun kembali dengan beberapa kantong kresek. Melihat temannya itu sedang tertidur, ia pun membangunkan nya.


"Lun, bangun ini nasi bungkus nya dah aku beli" Ucap Nadia dengan berbisik seraya menggoyang badannya Luziana. Kelopak mata Luziana pun terbuka menatap temannya yang sedang menatapnya juga.


"Hmm apa" Tanya Luziana dengan setengah sadar seraya memposisikan dirinya untuk duduk di Bed untuk pasien tersebut.


"Ini nasi bungkus kamu dah gue beli" Nadia pun menyodorkan nasi bungkus sesuai sama request temannya itu dengan air botol Aqua dingin.


"Ouh makasih ya Nadia" Luziana tersenyum tipis seraya menerimanya.


"Lo gak papa kah makan nasi bungkus malam-malam begitu, apalagi Lo lagi sakit gini" Terlebih lagi nasi bungkus itu berminyak sekali.


Luziana mengeleng kepalanya lalu melepaskan selang oksigen di hidung nya.


"Ya gak papa, lagi pun aku lapar banget" Sahut Luziana sembari membuka bungkus nasi tersebut. Nadia yang mendengarnya pun mengangguk kepalanya.


"Kamu beli apa Nadia?" Tanya Luziana menatap banyak kantong kresek.


"Ya aku beli jajan, sama kue ini apa namanya gak tau aku" Nadia pun memperlihatkan apa yang dia beli kepada Luziana.



...( Contoh gambarnya )...

__ADS_1


"Pantesan lama..." Luziana memutar bola matanya jengah dan terdengar kekehan pelan dari Nadia. Luziana yang gak tahu ingin membahas apalagi. Mulai memakan nasi bungkus nya. Namun tiba saja di hentikan oleh Nadia.


"Tunggu, jangan di makan dulu aku mau Pap ke ayang aku dulu.." Ucap Nadia seraya memfoto nasi bungkus Luziana dan itu membuat perempuan itu menjadi kesal. Kebiasaan temannya yang sedari dulu gak pernah hilang hingga sekarang.


"Alay banget sih lu.." Celetuk Luziana seraya mengeleng kepalanya.


"Gak papa.." Nadia menyengir lebar seraya jari lentiknya menekan foto krem ke snap Instagram.



...Snap Instagram...


Lagi makan guess :)


"Astagfirullah alay banget sih Lo Nadia... heran banget aku sama kamu" Luziana dapat melihat makanannya, yang teman nya foto itu taruk di snap Instagram.


Nadia yang mendengarnya menyengir lebar.


"Maaf gabut aku.." Ujar Nadia seraya memainkan alis matanya. Luziana yang mendengarnya lebih memilih diam. Dan melanjutkan makannya.


Setelah beberapa menit kemudian, Luziana pun selesai makan. Sementara Nadia ia sudah selesai, cuman lagi santai makan jajanan nya, sambil bermain ponselnya.


Mata Luziana pun tertuju dengan ponselnya. Kemudian menghidupkan layar ponselnya itu, dan melihat jam yang sudah pukul 9:30 menit.


"Ya kamu liat aja, macam mana aku bisa tidur?" Balas Nadia mana mungkin dia bisa tidur begini, sedangkan mereka itu cuman di rawat inap biasa aja. Dan ada pasien lain di samping mereka. Satu ruang rawat inap itu ada empat orang pasien.


"Ya juga sih.." Luziana menyengir lebar, dan sedikit merasa bersalah karena telah merepotkan temannya itu.


"Gak ada cara lain, aku tidur lantai lah. Kalau gak satu ranjang dengan Lo haha" Nadia tergelak tertawa memikirkan ia bakal satu ranjang dengan Luziana dengan ranjang itu sempit dan terlebih lagi Luziana lagi hamil.


"Ya gak bisa lah, kalau gak kamu tidurnya pakai karpet aja" Ujar Luziana.


"Heih Luziana! Lo di opname rumah sakit ini. Gak ada persiapan tolol, mana ada karpet. Bantal aja gak ada, itu adapun cuman satu" Ketus Nadia seraya menyeruput air susu rasa strawberry itu.


"Iya namanya juga aku gak tahu, bakal di opname begini" Padahal Luziana ingin pergi kerumah sakit hanya untuk sekedar periksa kandungan di temani oleh Nadia. Tapi katanya kandungan ada bermasalah, mau gak mau dia harus di rawat.


"Yaudah telepon suami kamu lah, kamu kan orang kaya" Ucap Nadia seraya tersenyum miring.


"Gak mau aku, aku lagi masalah sama dia?" Balas Luziana jutek memikirkan sikap suaminya yang tidak mau peduli lagi dengan nya.


"Yaudah maaf-maafan lah kalian. Aku juga heran bisanya Lo nikah muda padahal di sekolah Lo itu anak yang berprestasi. Dan lucunya Lo baru nikah terus dah hamil sekarang. Ngurus anak itu susah Loh, harus ada kesiapan mental yang kuat. Nggak mikir kah sampai situ?" Ujar Nadia dengan menyeruput air susu kontak nya kembali.

__ADS_1


"Mikir? ini ya aku itu di paksa suruh nikah. Di jodohkan sama orang tua aku. Lo kira gue mau sendiri gitu, ya enggak lah. Aku terpaksa terima nya, karena orang tua suami aku itu telah berjasa terhadap keluarga aku. Ya hamil begini, Lo kira gak capek apa? mereka bilang saja pengen cepat punya cucu. Ujung-ujungnya gue di lantarin. Di peduliin pun enggak, apalagi emak gue itu. Padahal gue juga dah berusaha untuk gak berhubungan badan, tapi ada kesalahan yang gak gue tahu, ya jadi hamil begini deh. Gak mungkin kan dah terlanjur begini terus di gugurin" Balas Luziana dengan sedikit emosi.


"Oalah, emang ada jasa apa orang tua suami Lo dengan keluarga Lo" Tanya Nadia dengan kepo.


"Ya jasanya, orang tua suami gue, namanya Papi Devan. Tapi sebut aja tuan Devan. Telah membantu lunasi utang Papa aku. Satu milyar, bayangkan aja uang gede itu mau cari dimana. Jual rumah aku itu aja belum mencukupi melunasi nya sekalian perabotannya. Ya gitu ceritanya. Tapi Papi Devan gak ada minta di gantiin balik uangnya. Dia ikhlas.." Jelas Luziana.


Nadia mengangguk kepalanya paham.


"Tapi baik juga ya, Tuan Devan itu dah kaya raya tampan lagi" Puji Nadia.


"Emang baik banget, dia juga yang telah mengerjakan Papa di tempat perusahaan nya. Sampai bisa beli mobil sekarang" Ujar Luziana menyahuti.


"Widihh beruntung banget pasti istrinya, dapat suami begitu. Apalagi Lo jadi menantu di keluarga nya. Keluarga Hervandez orang paling terpengaruh Loh di kota ini. Terkaya nomor satu, cabang perusahaannya pun sudah berkembang di mana-mana, apalagi suami Lo jendral. Beruntung banget si lun" Nadia memainkan alisnya, betapa beruntung Luziana menikah dengan pria yang berpengaruh di kota ini.


"Beruntung dari mana nya, ini ya mungkin sudut orang lihat aku tuh beruntung. Tapi mungkin karena umur ku belum matang, belum seharusnya untuk nikah. Bagi aku gak ada beruntungnya gak ada enaknya. Lo tahu aku menikah dengannya di tuduh sama adiknya, di bilang cuman ingin menguras hartanya aja. Terus gak di anggap lagi sebagai menantu. Karena aku dari keluarga miskin, dan juga bukan dari wanita yang berkarir" Luziana mengeluarkan unek-unek yang selama ini dia pendam.


"Suami aku juga gak sudi, punya istri kayak aku Nad" Mata Luziana mulai berkaca dan merasakan sesak di dada nya.


"Ih tak patut, yang sabar Lun" Balas Nadia yang tidak tahu harus berkomentar apa.


"Btw hutang apa sih, Papa mu sampai satu milyar gitu" Tanya Nadia.


"Papa ku di tipu oleh rentenir, ya begitulah. Aku juga gak tahu ceritanya" Balas Luziana dengan air mata yang sudah mengembun.


"Kok bisa di tipuin ya? padahal bagi aku papa mu itu pintar. Terus sarjana manejemen S1 lagi" Ucap Nadia dengan perasaan merasa heran. Kok bisa ya orang sepintar Papa Haris yang kuliah dengan beasiswa dan juga berasal anak yatim piatu. Bisa mudah di tipuin.


"Namanya aja udah musibah.." Luziana yang mulai memejamkan matanya karena sudah ngantuk. Tiba-tiba saja perutnya ingin mengeluarkan sesuatu.


Huem


Nadia yang melihat temannya, kayak reaksi mau muntah segera memberikan plastik. Luziana pun menerimanya.


Huekk..


Isi makanan yang tadi dia makan, terkeluar semua. Nadia yang melihatnya hanya bisa menghela nafas pelan.


"Dah gue bilang.. jangan makan nasi bungkus malam-malam apalagi kondisi Lo itu lagi hamil muda Luziana. Dengan kondisi kandungan Lo gak memungkinkan. Kenapa keras kepala banget sih loh, lebih keras daripada batu. Lo gak ingin itu anak bukan gini caranya"


...----------------...


Kalau ada yang komen negatif, break sebentar!

__ADS_1


Jangan lupa follow Instagram author: maulyy_05


__ADS_2