Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Tidak mengenal suami sendiri


__ADS_3

"Jika kau melayangkan pukulan kepada anak buah saya. Kau bakal saya buat mati di tangan saya, sekaligus gadis cantik ini," Ucap Ketua musuhnya yang bernama Bimo, ia berjalan mendekati mereka.


Renaldy melihat sosok kayaknya sekelompok dengan musuh bernama Rio itu ia berjalan mundur sembari memeluk pinggang istrinya dari belakang.


Luziana yang di peluk dari belakang, dengan sosok pria ia tidak kenal merasa risih.


"Ngapain kamu meluk saya" Luziana berusaha melepaskan tangan pria itu yang melingkar di pinggangnya namun tidak bisa. Karena pria itu terlalu erat meluk nya.


Renaldy menatap sekitar, kini mereka sudah di kepung oleh musuh. Dan semua musuh itu membawa senjata api.


"Wah wah, jenderal Renaldy. Benar ya kata orang kau sungguh tahu pergerakan musuh. Sungguh sangat hebat. Tapi tidak untuk sekarang, kau akan saya bunuh di tempat ini. Seperti kejadian sekeluarga yang beberapa hari lalu yang saya tembak mati di hotel ini. Begitu dengan anda saya bakal tembak mati, malah lebih mengenaskan" Ujar Bimo penuh penekanan. Renaldy yang mendengar tersenyum miring.


"Tolong saya..." Itu bukan suara Renaldy melainkan Luziana.


"Tolong saya, saya tidak tahu apa-apa di tahan mereka. Tolong saya om," Luziana meminta tolong kepada ketua musuh itu bernama Bimo. Ia mengira bahwa lelaki yang baru datang itu orang baik. Padahal kenyataannya gak.


Bimo menaikkan alisnya. Kenapa gadis ini meminta tolong pada dirinya. Gak mau berpikir panjang Pria itupun menyetujui. Lagipun gadis yang di hadapan mereka sangatlah cantik.


Renaldy yang sudah melindungi Luziana mengerutkan dahinya heran. Itu tak berlangsung, dirinya langsung paham. Bahwa istrinya itu mengira dirinya orang jahat.


"Berikan gadis cantik ini pada saya. Jika kau tidak ingin mati disini. Kalau kau memberikannya saya akan membebaskan mu jenderal Renaldy" Ujar Bimo tersenyum miring.


"Apa yang kau inginkan dengan gadis ini" Tanya Renaldy datar. Lalu menatap sekitar untuk mencari celah kabur dari sini.


"Palingan tidak lebih, paling gadis cantik ini jadi pendamping hidup saya atau pemuas nafsu di ranjang" Ntah sejak kapan. Tiba-tiba Renaldy sudah mencengkram erat kerah jas Bimo.


Semua anak buah Bimo, langsung bergerak mendekatkan menodongkan senjata apinya.


"Aaa... mereka makin mendekat. Apa yang kamu lakukan tol*l liat ini mereka mendekatkan senjata apinya ke kita. Kalau kamu pengen mati jangan ngajak-ngajak dong" Ujar Luziana kesal pada sosok pria asing itu. Yang mengunakan kacamata hitam. Luziana masih belum mengetahui bahwa itu suaminya, dan berani sekali mulut perempuan itu mengatakan Pria tegas kejam terhadap musuh, di katakan oleh istrinya tol*l.


Renaldy yang mendengar suara istrinya. Langsung menatap sekitar. Benar apa yang di bilang istrinya. Musuh sudah mendekatkan senjata apinya ke arah mereka. Tapi itu tidak membuat seorang jenderal seperti Renaldy takut.


Ia tetap mencengkram erat kerah jas Bimo itu. Membuat Bimo kesusahan bernapas.


"Lepaskan tangan anda di kerah jas bos kami" Ucap salah satu anak buah Bimo yang berambut ikal.


Renaldy mendengarnya, melemparkan tatapan tajam kearah lelaki itu. Membuat anak laki yang berambut ikal itu ketakutan.


"Saya ingat baik-baik ke anda. Jangan berani-berani anda menyentuh gadis ini. Kalau tidak ingin mulut anda saya robek" Ucap Renaldy dengan sorot mata tajam. Mata pria itu seperti bak elang. Mampu membuat musuh takut, dan ketar ketir.


"Berani sekali kau mengancam saya" Saat ingin mengasih isyarat pada anak buah. Bimo sudah dihempaskan oleh Renaldy. Hingga Pria yang sudah paruh baya itu, yang nampaknya sudah tua. Terjatuh mengenai anak buahnya sendiri.


"Aduuh..." Musuh yang terjatuh itu meringis kesakitan, dia area punggungnya akibat hempasan Pria itu. Renaldy dengan sorot mata tajam menatap mereka. Pria itu tetap saja tidak merasa gentar, padahal kematian sudah di depan mata.


Sementara istrinya sudah sangat ketakutan. Rasanya kakinya sudah lemas, tidak sanggup berdiri lagi.


"Sudah berani sekali kau!" Bimo yang sudah berdiri di bantu oleh anak buahnya. Langsung menodongkan senjatanya. Dekat dengan kepala Pria dingin itu.

__ADS_1


"Sekali tembakan saya pastikan anda jenderal Renaldy langsung. Duar... mati!" Ucap Bimo di akhiri tergelak tertawa.


Sebelah sudut unjung bibir Renaldy naik. "Sekali tembakan. Kalau saya lima tembakan mengenai otak anda" Ucap Pria itu dengan tersenyum sinis.


Membuat Bimo menelan saliva-nya dengan susah payah. "Ck' banyak juga omong kosong kau. Sebelum lima tembakan duluan anda saya tembakan" Ancam Bimo dengan sorot mata tajam.


"Yakin?" Tanya Renaldy seraya tersenyum sinis. Membuat Bimo jadi goyah takut dirinya di tembak dengan lima tembakan. Padahal Renaldy disitu hanya sendiri.


Bimo yang sudah geram. Langsung ingin menembak kepala Pria dingin itu tapi-


Dor!


Sepuluh tentara mengepung mereka dengan membawa senjata. "Turun kan senjata anda atau saya tembak anda dengan lima peluru" Ucap Arya menodongkan senjata api tepat di kepala Bimo.


Bimo yang sudah ketar ketir langsung menekan tempat tembakan.


"Aaa.." Pekik Luziana ketakutan melihatnya. Eh tapi gak ada apa-apa.


Bimo yang heran kenapa peluru nya tidak keluar menekan kembali tapi tetap saja tidak ada yang keluar.


"Sikap kau tidak sopan sama dengan saya ini balasannya untuk kau" Renaldy menembak Bimo dengan pistol.


"Auuww..." Pekik kesakitan Bimo.


Pria itu menembakkan peluru nya tepat di kaki Bimo. Sengaja dia lakukan seperti itu biar penjahat kriminal ini tidak kabur.


Arya menaikkan tangan, melakukan hormat kepada Jenderalnya. "Lapor jenderal. Lebih baik jenderal dan ibu Kirana Kartika secepatnya pergi dari sini. Soalnya tempat ini di pasang bom oleh musuh," Ucap Arya kepada Jenderalnya.


Renaldy yang mendengarnya menaikkan alisnya. "Dimana mereka memasangkan bom nya" Tanya Renaldy dingin. Pria itu selain bisa mengatur strategi perang ia bisa juga menghentikan bom yang hendak meledak.


Arya yang tahu maksud pertanyaan jenderalnya itu, mencoba berusaha menghentikannya. "Lebih baik jenderal keluar dari tempat ini. Soalnya bom terpasang dimana-mana akan sulit menghentikan bom itu. Karena terpasang dimana-mana" Ujar Arya.


"Tapi semua orang sudah kau amankan" Pria itu menanyakan hal ia takut terjadi adanya terjadi korban. Tidak heran kalau Renaldy selalu memikirkan keselamatan orang lain dari pada dirinya.


"Sudah," Jawab Arya pasti.


Luziana yang menyimak Perbicangan mereka. Merasa tidak asing dengan kata Kirana Kartika. Tapi dia tidak terlalu memikirkannya.


Renaldy pun menggenggam tangan istrinya. "Ayo kita cepat pergi dari sini" Ajak Renaldy datar.


Luziana sudah menyimpulkan orang ini baik. Yang Ia minta tolong tadi orang jahat. Setelah datang pasukan tentara itu.


Tapi ia heran siapa pria yang di depannya ini.


"Aduuh jalannya jangan cepat! kaki saya lagi sakit habis keseleo tadi" Ucap Luziana sembari memberhentikan langkahnya.


Renaldy yang melihat istrinya terlalu lama. Ia pun mengendong istrinya ala bridal style. Luziana yang tiba-tiba di gendong terperanjat kaget.

__ADS_1


"Eh-eh ngapain kamu ngedong saya" Tanya Luziana dengan raut wajah kaget.


"Cepat turunin saya. Saya gak mau di gedong saya bisa jalan sendiri" Sambungnya lagi sembari memberontak dari gedongan Pria dingin yang asing itu.


Renaldy tidak menggubris ucapan istrinya. Ia tetap mengendong istrinya ala bridal style, menuju keluar dari hotel permata.


"Tolong turunin saya. Saya tidak mau gendong sama kamu. Nantik suami saya lihat gimana. Nantik kirain saya selingkuh gimana" Ucap Luziana berusaha untuk minta di turunin.


"Kamu gak akan di katain selingkuh. Karena yang gendong kamu itu adalah saya sendiri. Suami kamu!" Ucap Renaldy penuh penekanan sembari membuka kacamata hitamnya. Setelah menurunkan dari gendongannya.


Deg..


Terlihat jelas siapa pria ya berjas hitam dan mengunakan kacamata hitam itu. Ternyata suaminya sendiri.


"Aduuh.. Luziana gimana sampai gak tahu sih. Kalau yang selamatin itu suami kamu. Habis itu tadi dengan mulusnya ini mulut ngejelekin suaminya sendiri" Batin Luziana yang merutuki kebodohannya sendiri.


"Hehe.. sejak kapan ya kamu ada disini" Tanya Luziana bodoh.


Arya yang sedari tadi di situ tidak mampu menahan tawanya. "Haha... tadi Bu Kirana Kartika tidak tau kalau yang selamatin Bu itu suami, Bu sendiri" Ujar Arya sembari tertawa.


"Lucu-lucu kok bisa ya gak tahu. Kalau yang nolong itu suaminya sendiri. Padahal penampilannya gak ada yang berubah. Cuman sekarang nampak keren aja kan" Sambung Arya seraya mengedipkan matanya.


Seketika pipi Luziana memanas karena kebodohannya sendiri yang tidak bahwa suaminya yang menolongnya tadi, jadinya dirinya di ejekan sama teman kerja suaminya, menurutnya.


"Tau kok" Jawab Luziana sebal.


Renaldy yang melihat tingkah istrinya, hanya mengelengkan kepalanya.


Tak berselang lama. Seorang wanita paruh baya datang.


"Jenderal tolong selamatkan anak saya yang masih di dalam hotel permata"


...----------------...


PARA READERS YANG MAU CERITANYA CRAZY UP JANGAN LUPA VOTE YA 😍😘


DAN DUKUNGAN LAINNYA


LIKE


HADIAH


KOMENTAR


RATING BINTANG LIMANYA


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA

__ADS_1


__ADS_2