Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Interogasi


__ADS_3

Sekian lama Renaldy yang sibuk dengan kegiatan kerjanya, dan mengurus buah hatinya. Pria itu memutuskan pulang ke rumah mewahnya.


Mata Renaldy tiba saja berkaca-kaca saat sudah sampai di rumahnya. Menatap figuran foto dirinya dan istrinya.


"Sayang mas kangen! Banget sama kamu. Kapan kamu sadar dari komanya? Kasian anak kita, yang sangat butuh kasih sayang mu." Lirih Renaldy. Rasa sesak tiba saja menyeruak di dalam dadanya. Mengingat dimana sikap istrinya yang selalu menghiasi hidup nya. Senyumannya, tawanya, suaranya itu sudah sangat membuat Renaldy rindu pada istri kecilnya itu.


Yang pada seharusnya, mereka kini sudah berada di rumah. Mengurus anak-anak lucu mereka. Namun kenyataannya tidak seindah itu. Terlebih lagi mereka kehilangan satu buah hati mereka. Rasa kesal, rindu menjadi satu. Renaldy sayang sama istrinya, tapi karena sikap istrinya yang tidak becus menjaga kehamilannya. Terpaksa anaknya tidak bersalah harus jadi korban.


Sudah beberapa menit mencurahkan rindunya, menatap foto istrinya. Renaldy pun menaruh foto istrinya kembali pada tempatnya. Setelah itu, dia pergi membersihkan tubuhnya yang merasa gerah.


Selesai membersihkan dirinya. Renaldy tidak langsung tidur. Ia pergi ke dapur dan membuat secangkir kopi untuk dirinya. Setelah kopi yang dia buat, siap. Renaldy langsung menikmati kopi pahit yang di buatnya sendiri di sertai membaca berkas penting, di meja makan.


Tak berselang lama. Pelayan nya datang ke dapur.


"Eh tuan! nona Luziana nya dah boleh pulang?" Ujar Bu Tuti bertanya dengan ekspresi kaget, melihat majikannya yang berada di dapur.


"Belum, masih di rumah sakit" Jawab Renaldy singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas kerjanya.


Kepala Bu Tuti mengangguk pelan, mendengar jawaban bahwa istri majikannya itu masih di rumah sakit.

__ADS_1


"Tuan saya permisi, ambil minum boleh?" Tanya Bu Tuti dengan nada suara pelan.


"Silahkan..." Jawab Renaldy seraya menyesap kopinya dengan pandangan matanya masih sama.


Mendengar jawaban di bolehkan, Bu Tuti langsung mengambil gelas lalu diisi dengan air dingin yang berada di penser.


"Bi..." Panggil Renaldy. Tetapi tidak ada respon.


"Bi Tuti," panggil Renaldy dengan nada yang di tinggikan.


"Iya tuan. Ada apa?" Dengan ekspresi kaget Bu Tuti menatap wajah datar majikannya.


Renaldy yang ingin menanyakan sesuatu kepada Bu Tuti menghela nafas pelan sejenak.


"E—m a—nu tua—"


"Tolong jawab yang jelas" Sela Renaldy.


Bu Tuti pun menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Begini tuan, waktu nona Luziana mau lahiran saya lagi urus berkas rumah sakit. Setelah itu saya berusaha nelpon tuan"


"Pukul, berapa, jam berapa kalian berada di rumah sakit?" Tanya Renaldy dengan nada dingin.


"Itu saya kurang tahu tuan, soalnya saya tidak lihat jam" Balas Bu tuti.


Renaldy mengangguk kepalanya paham.


"Waktu baru kontraksi kalian sudah menuju ke rumah sakit?" Lontar pertanyaan lagi dari Renaldy seperti bak mewawancarai orang. Bu tuti yang di lontarkan, pertanyaan lagi memutar otaknya keras.


"Itu kurang tahu, soalnya saya tuan pas nona pendarahan ringan itu sudah bawa ke rumah sakit. Dan sebelumnya itu kami gak tahu apa-apa tuan. Setelah kami tahu itu, pas nona Luziana ada keluar darah dari selang—kangannya" Dusta Bu tuti yang di karang-karang kan.


...----------------...


Kok rasa ini bab ceritanya ini berubah, tolong baca bab sebelumnya part 175. Soalnya ada perubahan alur di Bab 175🤗


Sebelum menunggu update selanjutnya jangan lupa mampir di novel author yang sebelahnya ya!


Judulnya: Vanilla (Love and Dare)

__ADS_1


Dan juga Jangan lupa dukungan, like, vote komentar gift hadiah. Dan follow Instagram author: maulyy_05


Lope sekebon untuk semuanya yang mau nurutin 💛💛


__ADS_2