Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Tambah kerja


__ADS_3

Luziana duduk ruang meja makan sembari melentakan SOP buah dan gorengan, yang baru ia beli. Ntah kenapa dia jadi ketagihan makan SOP buah. Padahal Luziana orangnya tidak menyukai buah-buahan.


Perempuan itu baru saja, menyelesaikan pekerjaannya. Seperti cuci piring, sapu halaman rumah. Dan kini bertambah satu lagi yaitu bersihin kamar mandi. Dan itu ulah Meysa.


Flashback


"Mommy pelayan gantinya udah ada" Tanya Luziana yang kini berdiri di hadapan Mommy Liona yang sedang duduk di sofa panjang.


Mommy Liona yang sedang membaca artikel, mendongak menatap menantunya.


"Kamu kenapa gak sanggup lakuin itu semua" Balas Mommy yang terkesan seperti mau marah.


"Gak enggak kok Luziana masih sanggup. Cuma ingin nanya doang" Ucap Luziana sembari tersenyum kikuk. Sebenarnya ia ingin menanyakan itu ingin tahu saja, lagipun ntah kenapa fisiknya akhir-akhir ini gak mendukung. Kemudian katanya, cuman membantu ganti doang kan. Terus kenapa sudah hampir satu bulan ini, kok belum ada pelayan barunya.


Mommy Liona yang menatap wajah Luziana, yang menyiratkan kebohongan. Mengehela nafas panjang.


"Kalau kamu gak sanggup, gantiin apa yang mommy bilang gak papa. Bilang aja, Mommy tahu kok kamu orangnya gak bisa di harapkan. Sekedar bantu mertua aja gak mau. Lagipun gini-gini Mommy sudah usaha cari pelayannya, yah gimana gak dapat" Wanita itu berhenti sejenak, lalu menutup majalahnya dan melempar majalah itu ke atas meja.


"Kamu gak sanggup bantu lagi kan, biar mommy lempar semua pekerjaannya ke BI Mirna" Sambung Mommy Liona seraya bersedekap dada.


Mendengar apa yang di ucapkan Mommy Liona. Membuat Luziana kayak gak bisa nolak. Apalagi wanita paruh baya itu, ibu suaminya.


"Masih sanggup banget kok Mommy lakuin kerjaan bersih-bersih nya" Jawab Luziana seraya menundukkan kepalanya.


"Ada apa ini" Tanya Meysa seraya mendaratkan bokongnya di sofa panjang, di samping Mommynya.


"Dia gak sanggup bersih-bersih rumah lagi" Ujar Mommy Liona. Luziana yang mendengarnya, mengerutkan dahinya. Padahal dia sudah bilang masih sanggup, kenapa Mommy Liona berbeda apa yang di ucapkan.


"Ouhh gak sanggup bersih rumah lagi Lo. Padahal Lo masih muda loh, belum nenek kan. Kemudian gak mungkin Lo cuman rebahan aja terus makan tidur di rumah mewah ini. Semua anggota keluarga ini kerja, masa Lo sendiri yang enak-enakan. Macam bos aja ya kan, tapi yang kerjanya bos aja gak lakuin itu. Jadi gimana ni" Meysa tertawa kecil seraya menatap sinis.


"Aku masih sanggup kok, siapa bilang gak sanggup" Balas Luziana ketus.


"Mommy gue!" Meysa menatap tajam kepada Luziana. Luziana yang kesal dengan perkataan Meysa, gak menyadari kalau Mommy masih berada di situ.


"So kalau masih sanggup, Lo besok bersihkan toilet cepat. Masa cuman cuci piring, sapu halaman, bocah pun bisa lakuin itu semua. Lagipun cuman dua kan dikasih kerjaannya. Terus kata Lo masih sanggup, tambah satu lagi bisa kan. Orang yang tua aja satu rumah bersihin masih sanggup. Masa Lo gak yang masih muda gak sanggup" Cibir Meysa seraya tersenyum miring.


Luziana yang di kasih kerjaan tambahan lagi menggerutu kesal. Bukannya makin berkurang makin bertambah lagi.


"Boleh juga itu, kamu tau Meysa toilet yang gak bisa yang di belakang rumah" Tanya Mommy Liona seraya tersenyum.


"Tahu emang kenapa?" Tanya balik Meysa.


"Tolong kamu kasih tahu Luziana lokasi, toiletnya dimana. Dan tolong di bersihkan yang Luziana" Titah Mommy Liona seraya beranjak pergi menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Dan ke keesokan harinya.


Luziana menganga melihat toiletnya cukup besar dan sangat begitu kotor. Macam gak pernah di bersihkan bertahun-tahun. Emang benar toilet itu belum di bersihkan selama bertahun-tahun. Karena toilet ada kendala yang harus di perbaiki.


"Lo bersihkan ini semua, jangan sampai ada tertinggal kotoran walaupun sedikit pun. Biar pas di perbaiki, orang tukangnya, gak jijik melihat toilet ini" Titah Meysa dengan ketus.


Luziana tersenyum tipis, baru pulang sekolah dah di suruh lakuin itu semua. Dan capeknya luar biasa. Kalau gak di lakuin ya begitulah.


Ia pun mulai melakukannya. Tapi pas ingin jongkok perutnya terasa sakit.


"Lo kenapa diam aja? cepat bersihkan mau magrib ini" Titah Meysa meninggikan suaranya.


"Sabar lah gak tau orang capek apa?" Balas Luziana ketus.


"Enggak mana ada capek itu.. bersih-bersih itu doang pun" Sahut Meysa santai.


"Ouh iya Lo bilang gak capek. Yaudah coba bersihkan ini toilet mau gak... gak mau kan. Jangan omongan doang gede, pas lakuin gak mau" Cibir Luziana sinis.


"Apa-apaan Lo suruh gue. Lo itu seharusnya kerjaan ini, kok enak banget Lo suruh gue. Lo di rumah ini cuman babu. Ngerti itu... dasar benalu. Pergi balik sana ke rumah Lo ngapain tinggal rumah orang gak tahu malu" Cibir balik Meysa yang sudah geram.


"Suka-suka gue lah siapa Lo usir-usir gue" Balas Luziana yang kini berdiri menatap Meysa sengit.


"Gue pemilik rumah ini. Lo itu siapa yang seenak jidat tinggal rumah ini. Dasar gak tahu diri. Lo hanya nikah sama kakak gue gausah belagu. Lagipun kakak gue mana peduli punya istri macam Lo. Cuman bisa bikin beban" Meysa menatap sinis.


"Hei apa-apaan ini kok malah bertengkar" Teriak pelayan tersebut seraya berlari kecil.


Luziana yang melihat kehadiran pelayan, menjadi lengah. Meysa dengan cepat mendorong Luziana hingga jatuh tersungkur dan kenak tempat duduk WC itu.


"Auuww.." Luziana memengang perutnya terasa sakit. Pelayan tersebut pun segera membantu Luziana.


"Nona Luziana gak papa" Tanya pelayan tersebut. Satu pelayan lagi menatap anak majikannya.


Meysa dengan nafas terengah-engah. Menatap gantian pelayan tersebut. Pandangan pelayan tersebut langsung menunduk takut, melihat tatapan Meysa.


"Lo Luziana cuman perempuan bodoh yang hanya hidup bergantung dengan orang. Kalau gak bergantung hidup dengan orang, Lo gak bakal hidup" Setelah mengatakan itu, dengan langkah panjang meninggalkan tempat tersebut.


"Nona gak papa.." Tanya pelayan itu lagi.


"Saya gak papa" Bohong Luziana, padahal perutnya terasa sangat sakit. Namun dia tahan.


Flash off


"Bu.." Belum melanjutkan perkataannya namu sudah di potong duluan.

__ADS_1


"Panggil aja Bi Mirna" Ucap wanita paruh baya tersebut. Luziana menanggapi tersenyum kikuk.


"Mau gorengan.." Tawar Luziana seraya menyodorkan piring yang di taruh gorengan.


"Enggak soalnya Bi Mirna, udah kenyang. Buat nona aja" Tolak Bi Mirna dengan halus. Luziana hanya mengangguk kepalanya sebagai jawaban. Lalu memakan gorengan itu dengan lahap. Bi Mirna yang sudah siap memasak duduk di kursi meja makan itu.


Wanita paruh baya itu ingin menanyakan sesuatu pada istri anak majikannya itu, tentang ada masalah apa sampai Meysa melakukan seperti itu, padahal Meysa itu baik banget orangnya, menurut BI Mirna. Namun dia urungkan, untuk apa terlalu kepo dengan urusan majikan.


"Bi pelayan dirumah ini ada berapa?" Tanya Luziana penasaran.


"Ada lima belas. Sepuluh kerja pagi sampai siang, kalau malam cuman ada lima pelayan. Dan lagipun sudah banyak di pecat oleh nyonya" Sahut Bi Mirna seadanya.


"Kenapa di pecat?" Tanya lagi Luziana seraya menyuapkan pisang goreng ke dalam mulutnya.


"Iya Bi mirna kurang tahu. Setahu Bi Mirna orang ni rekam kegiatan Nona Meysa, terus minta tanda tangan. Itu membuat nona Meysa risih. Non Luziana tahu sendiri kalau Nona Meysa itu penyanyi terkenal sekaligus musisi" Ujar Bi Mirna seraya menyesap tehnya.


"Kan emang gitu jadi resiko penyanyi terkenal pasti banyak minta tanda tangan" Ucap Luziana seraya menaikkan alisnya.


"Iya sih tapi setidaknya lagi orang makan jangan minta tanda tangan. Mau mandi minta tanda semua kegiatan minta tanda tangan. Yah gimana orang gak risih non. Bukan Nona Meysa doang tapi tuan Renaldy juga seperti itu. Malahan lebih parah, tuan Renaldy di goda sama mereka" Bi Mirna tergelak tertawa mengingatnya.


Luziana bergidik ngeri mendengarnya.


"Makanya di pecat, kalau kerja disini banyak peraturannya. Terus gajinya lumayan juga. Bukan lumayan lagi tapi dah banyak banget gajinya" Ucap Bi Mirna.


"Berapa gajinya?" Tanya Luziana seraya meminum air SOP buahnya.


"Yang pagi sampai siang itu lima juta. Yang modal nginap kayak Bi Mirna, itu sepuluh juta" Jawab Bi Mirna.


"Wah banyak banget, hampir seperti gaji pegawai. Padahal cuman bersih-bersih doang tapi dapat gaji sebesar itu" Spontan Luziana.


"Iya gitu.. belum lagi dapat bonusnya" Bi Mirna nampak terlihat senang menceritakan gaji yang lumayan besar bekerja di rumah Hervandez.


"Mending aku jadi pelayan di rumah ini. Daripada harus jadi menantu yang gak ada apa-apanya" Batin Luziana.


"Kok bisa banyak gitu ya.." Heran Luziana.


"Namanya orang kaya non. Orang kaya mah gitu. Apalagi mereka itu pengusaha sukses ternama satu di kota ini. Wajar dong mereka banyak uang. Bagi mereka uang sepuluh juta itu seperti seribu rupiah non Luziana. Apalagi anak Pak Devan dan nyonya besar udah pandai cari uang sendiri. Udah sukses-sukseslah" Ujar Bi Mirna seraya tersenyum.


"Iya juga sih, Bi Mirna saya mau pamit ke kamar dulu. Mau mandi soalnya bentar lagi magrib" Pamit Luziana seraya melentakan piring goreng ke tempat cuci piring.


"Iya Non" Bi Mirna mengangguk kepalanya.


Saat di kamar mandi. Dia melihat bercak darah di ****** ********.

__ADS_1


"Apa aku datang bulan ya?"


__ADS_2