Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Kakak Karina?


__ADS_3

Kini Luziana sekolah macam seperti hari biasanya, hal kejadian di pesta ekskul malam kemarin. Tidak ada ada pengaruh di sekolah. Biasanya hal seperti itu bisa jadi sampai heboh satu sekolah, tapi kini tampak seperti biasa-biasa saja.


Luziana yang sedang berjalan di koridor sekolah ingin menuju kedai, yang biasa mereka kumpul pas waktu, jam istirahat. Tapi seorang diri. Temannya? lagi sedang ingin jajan di kantin sekolah.


Dan seperti biasanya, gak ada angin gak ada hujan. Setiap harinya kayaknya mereka selalu berpapasan. Luziana yang melihat Meysa langsung pura-pura membuang muka.


"Gausah pura-pura buang muka, aku dah liat Lo dari jauh ya" Ucap Meysa sembari memperhatikan dengan mata sinis.


Luziana yang mendengarnya, hanya mengacuhkan.


"Lo gausah pura-pura gak dengar, ku sumpahin Lo budeg benaran, baru tau rasa" Belum beberapa detik ada yang meludah dari atas.


"Lo maunya apa sih" Luziana yang membalikkan badannya, menatap Meysa lalu seketika langsung menatap jijik.


"Iihh... ludah siapa ni.. kenak kepala gue lagi anj" Meysa langsung menatap ke arah atas, karena kayaknya ludah berasal dari lantai kelas atas.


Meysa melihat ada seseorang, dengan berlari cepat ia menaiki tangga.


Luziana tiba-tiba terkekeh sendiri. "Haha.. mampus Lo kan" Perempuan itu pun melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi sambil mengeleng kepalanya, melihat rambut Meysa ada ludahnya.


"Langit....."Cowok tampan yang berusia 19 tahun, seketika menoleh. Meysa pun berjalan mendekati cowok itu, lalu mengacungkan jari telunjuknya.


"Lupanya Lo ludah dari sini ya." Langit menaikan alisnya.


"Emang kenapa?" Tanya Langit dingin.


"Ludah Lo kenak kepala gue setan..." Emosi Meysa menggebu-gebu.


"Gak papa anggap aja itu shampo" Ucap Langit enteng. Meysa mendengarnya, menatap dengan tatapan gak percaya.


"Shampo kepala bapak kau" Sergah Meysa dengan mukanya merah padam, menahan amarah. Cewek itu pun menarik nafas dalam-dalam.


"Gak mau tau, aku harus balas" Meysa pun meludahi cowok itu. Tapi tidak kenak.


"Cih jorok banget sih Lo jadi cewek" Ucap Langit dengan gaya coolnya.


"Lo yang lebih jorok, gue kayak gini karena Lo duluan ya..." Ucap gak terima Meysa yang dikatakan jorok. Meysa pun meludahi cowok itu lagi, tapi tetap saja cowok itu tidak kenak ludah Meysa, karena cowok itu langsung menghindar.

__ADS_1


Berakhirlah dua remaja beda jenis kelamin itu, main kejar-kejaran.


"Gila.. itu cewek gak ada capeknya kejar gue" Dengan perasaan gak nyangka Meysa masih mengejarnya, padahal Langit sudah berlari satu sekolah untuk menghindari Meysa. Tapi tetap saja cewek itu terus mengejarnya.


"Mana ya anak biadab itu" Meysa celingak-celinguk mencari Langit.


"Nah itu dia" Cewek itu pun berlari lagi dan memegang baju cowok itu.


"Nah mampus Lo kan gak bisa kemana-mana" Ucap Meysa dengan nafas terengah-engah.


"Sumpah gue ngaku kalah, capek banget gue lari-lari mancam di kejar setan aja, terus cepat pula Lo lari" Ucap Langit sembari mengatur nafasnya.


"Tullah Lo gak pernah dengar pepatah, orang pendek itu lebih cepat lari dari pada orang kurus tinggi" Kedua ujung bibir Meysa terangkat menjadi sebuah bentuk senyum lebar.


"Ehemm ciee.... Langit" Arlan menaikan alisnya turun naik sembari menatap mereka berdua. Meysa yang memengang baju cowok itu langsung melepaskannya.


"Kapan kalian jadian ni.." Dua beda jenis kelamin itu menatap sinis kepada Arlan.


"Sepupu sama sepupu masak pacaran gila Lo ya.."


*


*


"Cuman dua puluh ribu neng.." Balas ibu tukang gerobak jus buah itu. Luziana pun mengasih uang lebaran, yang berwarna hijau itu.


"Makasih ya neng" Ucap ibu setelah menerima uangnya. Luziana mengangguk kepalanya sebagai jawaban, ia pun berjalan mendekati Hondanya, dan menghidupkan mesin Hondanya. Saat baru beberapa senti berjalan Hondanya, tiba-tiba ada yang menghalangi Hondanya dari depan.


"Astagfirullah.." Ucap Luziana sembari menginjak rem mendadak. Kemudian ia pun menatap pelakunya.


Pria yang berumur dua puluh enam tahun itu, tersenyum menatap Luziana. Luziana yang melihat mengerutkan dahinya bingung, ni pria kayak gak asing bagi dirinya.


"Mau kemana Luziana" Tanya Pria itu membuka suara, setelah beberapa menit diam.


"Kok kamu tahu nama saya?" Ujar Luziana mengerutkan dahinya heran.


Pria itu mendengarnya, membulat lebar matanya. "Kau gak kenal saya lagi?" Lontar pertanyaan dari pria itu.

__ADS_1


Mengeleng kepalanya. "Enggak, emang kita pernah kenalan?" Luziana menatap Pria itu dari kepala sampai ujung kaki, kayaknya pria di depannya gak asing, tapi ni pria siapa ya?


Pria itu yang bernama Kevan itu menghela nafas panjang. "Saya kakaknya Karina! masa kau kenal?" Ujar Kevan santai.


"Ouhhh iya... kakaknya Karina? yang namanya Kak Kevan kan" Ucap Luziana yang sudah mengingat siapa pria yang di depannya ini.


"Telat..." Luziana yang mendengarnya terkekeh.


"Minggir Kak Kevan, saya mau lewat" Pinta Luziana, karena Kevan berdiri di depan Hondanya. Dan itu bikin menghalanginya.


"Enggak boleh.." Kevan tersenyum jahil menatap Luziana.


"Awas kak Kevan, saya mau pulang." Kevan tetap berdiri di depan Honda Luziana, dan menghalangi perempuan itu agar tidak bisa lewat.


"Nih... saya tabrak ya" Ucap Luziana memajukan Hondanya. Tapi tetap saja, pria itu menghalanginya.


Dari kejauhan ada yang menatap mereka berdua dengan tatapan susah di tebak.


"Kak Kevan maunya apa sih?.." Tanya Luziana dengan nada kesal. Pria di depannya ini beda sekali adiknya yang bernama Karina. Soalnya Karina sifatnya dingin sedangkan kakaknya tukang jahil.


"Kau di situ tadi ngapain?" Tanya Kevan pura-pura kepo sembari menunjuk ke arah gerobak jual jus itu.


Luziana menoleh pandangannya, di tempat yang di tunjuk oleh Kevan.


"Ya beli jus! itu kan ada tulisannya gerobak jus" Ucap Luziana kembali menatap Kevan.


"Jadi... bagi dong jusnya" Ucap Kevan tersenyum lebar.


"Enggak boleh beli sendiri sana, capek tau ni saya belinya" Luziana memasang wajahnya kesal, soalnya sudah berapa menit dia masih disini. Dan itu ulah kakaknya Karina yang menghalangi Hondanya.


"Jeh.. jangan pelit dong nantik kuburannya sempit loh" Canda Kevan.


"Saya emang pelit kenapa gak senang?" Ketus Luziana. Kevan mendengarnya tertawa.


"Jangan marah-marah nantik cepat tua.." Rasanya Luziana ingin sekali menabrak kakaknya Karina yang nyebelin.


Tanpa sadari Renaldy sudah di depan mereka, pria yang memperhatikan mereka tadi adalah Renaldy.

__ADS_1


"Hei Tuan Renaldy..." Sapa Kevan. Luziana yang melihat suaminya ada disini, langsung menunduk pandangannya.


__ADS_2