Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Itu bukannya motor Luziana


__ADS_3

Luziana menatap langit-langit kamar. Perempuan itu kini tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan susah untuk memejamkan matanya kembali. Ia pun menatap suaminya yang sedang tertidur tenang di sampingnya.


Tangan mulusnya pun terulur memegang lengan suaminya itu. Pria itu yang merasa ada pergerakan. Matanya pun terbuka. Luziana yang melihatnya menarik kembali tangannya.


"Hmm? kau kenapa," Tanya Renaldy dengan suara parau.


Luziana tersenyum tipis. "Gak ada apa-apa" Sahutnya seraya mengeleng kepalanya pelan.


"Kenapa belum tidur? lapar" Tanya lagi Renaldy seraya menaikkan alisnya.


Luziana mengeleng kepalanya pelan. "Enggak, cuman haus aja" Balas Luziana seraya tersenyum.


"Kalau haus kenapa gak minum. Apa pengen saya ambilkan?" Tawar Renaldy kepada istrinya. Ntah kenapa dia malam ini mau melakukan apa istrinya pinta. Kayak seperti ada ikatan batin.


"Boleh, tapi saya ingin minum teh bolehkan.." Ucap Luziana dengan sumringah.


Renaldy mengangguk kepalanya mengiyakan apa yang istrinya minta. Pria itu pun beranjak menuju dapur. Sedangkan Luziana tetap di dalam kamar menunggu teh yang di buat suaminya, sembari rebahan.


Tangannya ntah kenapa ke pengen mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Kalau tanya, apa orang yang bisa melihat buncitnya? jawabannya enggak. Karena perut Luziana beda dengan perut buncitnya ibu hamil pada umum biasanya. Perut nya lebih versi lebih, ke kecil. Karena mungkin faktor hamil muda atau nutrisi cabang bayi belum terpenuhi. Tapi Luziana bisa merasakan perutnya sedikit mengembung.


"Apakah aku benaran hamil! itu gak mungkin. Soalnya aku gak pernah berhubungan badan. Gak mungkin kan ada bayi di rahim ku.." Gumam Luziana seraya mengeleng kepalanya pelan, membuang pikiran yang tidak masuk akal baginya.


Renaldy pun datang dengan membawa teh dan beberapa cemilan ringan. Melihat suaminya datang, tangan Luziana segera bergeser dari perutnya. Lalu ia duduk di tepi kasur.


Renaldy pun mengasih teh yang masih hangat, ia buat. Luziana pun menerima tehnya, lalu meminumnya dengan pelan-pelan.


"Makasih ya.." Ucap Luziana setelah meminum tehnya.


Renaldy tidak mengeluarkan suara, hanya mengangguk kepalanya sebagai jawaban.


"Ini ada beberapa cemilan, kalau mau ambil" Ucap Renaldy kepada istrinya.


Luziana pun mengambil cemilan ringan yang berada di piring. Dan langsung memakannya. Pas di dalam mulut cemilan begitu enak di dalam mulutnya. Gimana gak enak nih pasti cemilan ringan mahal.


"Ini mas beli.." Tanyanya dengan cemilan itu masih di dalam mulut. Renaldy yang melihatnya, kayaknya itu sudah kebiasaan bagi Luziana.


"Bukan.." Sahut Renaldy datar. Kenapa Luziana masih mau berbicara dengan suaminya yang dingin, sekutub utara. Ya Luziana sudah terbiasa dengan sifat orang seperti itu. Jadi di bawa biasa saja. Mereka hanya malas mengeluarkan suara, kalau bukan bicara hal yang penting.


"Ouhh.." Luziana manggut-manggut kepalanya.


"Katanya mas ingin pergi bertugas. Terus misalnya dah pulang bertugas ceraikan aja saya. Biar kamu bisa menikah dengan wanita yang lain, yang lebih terpandang. Dengan sama halnya dengan mas. Kalau mas merasa saya sakit hati, saya gak hati sama sekali kok. Gak sama sekali. Lagipun gak ada gunanya nikah sama saya. Luziana masih status sekolah. Di sekolah pun gak pintar-pintar amat. Kalau nikah yang sama mas mau pasti, lebih bahagia. Kita kan menikah karena di jodohkan. Jadi pasti dari kita-kita ada pengen punya pasangan kita mau. Bukan karena hal dijodohkan" Ujar Luziana dengan pandangan menunduk.


Luziana wanita bodoh yang hidup bergantung dengan orang. Dia gak tahu harus hidup mandiri seperti apa, dengan dunia kejam dengan dirinya. Orang baik di luar sana? belum tentu ada. Luziana orangnya gak enakan. Bikin hidup orang susah karena dirinya.


Renaldy menghela nafas panjang, dengan jalan pikiran istrinya.

__ADS_1


"Apa yang kau bilang, saya tidak pernah sedikitpun berpikir seperti itu" Balas Renaldy terdengar suara helaan nafas berat. Ntah kenapa perkataan istrinya sungguh menusuk hatinya.



"Ouh.. Luziana menikah dengan kakaknya Meysa" Ucap Seseorang pria yang menggoyang gelas berisi alkohol.



"Sepertinya bakal mudah untuk membunuh Meysa" Ujarnya seraya tersenyum Smirk. Tiba-tiba terdengar suara barang jatuh. Semua pandangan pun tertuju di tempat barang jatuh itu.



"Langit?.." Gumamnya.



Langit yang sudah ketahuan menguping, langsung lari meninggalkan bar tersebut.



"Kejar dia jangan sampai lolos?" Titah Pria itu dengan Lantang. Para Anak buahnya pun mengejar Langit.



Langit yang membawa motor pergi dari bar. Melihat di kaca spion motor nya, ada yang mengejar dirinya mengunakan motor dan mobil.




Tiba-tiba ada sebuah truk di depannya. Langit yang tidak tahu gimana lagi membelok motornya ke arah trotoar. Ia pun terjatuh dengan berguling. Motornya yang masih hidup terseret jauh.



"Fathan-fathan tolong gue.. Lo datang di lokasi ini segera"



"Kayaknya Lo gak luka sehari, gak bakal hidup ya?" Ucap Meysa melihat sepupunya yang penuh dengan luka.


Langit tersenyum tipis. "Lo niat ingin nebeng sama gue, apa niat ingin ngomel sih. Dasar nenek" Ketus langit.


"Enak aja gue di katain nenek gue bidadari tahu.." Ucap Meysa gak kalah Ketus.


Saat ingin mengeluarkan motornya di parkiran. Dia melihat Luziana yang juga mengeluarkan motornya. Tatapan Meysa sama Luziana bertemu. Meysa seraya bersedekap dada dengan memutar bola matanya sinis.

__ADS_1


Luziana yang melihatnya tidak peduli. Ia pun menghidupkan mesin motornya dan segera meninggalkan parkiran sekolah. Itu semua tidak luput dari pandangan langit.


"Lo kenapa sih dendam banget sama Luziana?" Tanya Langit penasaran.


"Gausah kepo!" Balas Meysa Ketus.


"Kayaknya Lo iri sama dia ya? gimana gak iri coba cantik, putih, mukanya glowing, kalau senyum ada lesung pipinya lagi. Gak kayak Lo kayak nenek Lampir kerjanya ngomel mulu!" Cibir langit seraya duduk di atas motornya.


"Ck ngapain gue iri sama dia. Hidup gue itu lebih enak daripada hidupnya. Dia itu rakyat jelata, kalau gue itu putri ratu.." Balas Meysa dengan gaya sombongnya. Langit melihatnya memutar bola matanya jengah.


"Tumben Lo muji cewek, Lo suka ya... sama Luziana. Bilang aja, gue bantu dekati kok Lo sama dia" Goda Meysa seraya memainkan alisnya. Langit hanya mengeleng kepalanya melihat tingkah sepupunya itu.


"Kalau gue maunya hanya sama Lo gimana?" Bisik langit ditelinga Meysa.




"Makasih babu.. udah anterin gue pulang" Ucap Meysa seraya melambaikan tangannya, gara-gara Mommynya pecat semua pekerja rumahnya dia harus nebeng dengan sepupunya itu. Karena sopir biasa antar jemput dirinya, mobilnya sedang mogok. Langit mendengar kata babu untuk dirinya, hanya memutar bola matanya jengah.



Langit menatap rumah mewah milik orang tua Meysa. Rumah itu sama sekali tidak pernah berubah. Cuman rasanya sekarang lebih mewah saja. Pandangan Pria itu berhenti di garasi.



"Itu bukannya motor Luziana?" Gumam Langit. Dia teringat dengan orang percakapan semalam, apa yang di maksud Luziana itu? Luziana musuh Meysa ini bukan?. Pikir Langit.



"Sya bukannya kakak Lo dah nikah?" Ucap Langit dengan menaikkan.



Raut wajah Meysa langsung berubah. "Emang kenapa? kalau kakak gue dah nikah" Balas Meysa dengan nada tidak selow.



"Ya gue cuman bilang aja! kalau gue boleh tau siapa nama istri kakak Lo itu?" Tanya Langit. Kok langit yang sepupu dengan Meysa yang pasti juga sepupu dengan Renaldy. Enggak tahu siapa istri Renaldy. Ya karena pas nikahan Renaldy dengan Luziana langit gak datang. Makanya gak tahu. Lagipun waktu nikahan mereka dia lagi dalam masalah. Jadi tidak peduli dengan urusan pernikahan mereka.



...----------------...


__ADS_1


**Jangan lupa follow Instagram author: maulyy\_0**5


__ADS_2