
Ze dan jin hu baru saja menyelesaikan sarapan mereka saat itu dan tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"tok tok tok" Ze menoleh pada jin hu
"mungkin huo nan dan yang lain sudah siap untuk kembali berangkat" ucap jin hu dan ze mengangguk
"tok tok tok" pintu kamar mereka kembali di ketuk namun suara ketukannya terdengar lebih keras.
"Tok tok tok" suara ketukan yang sedikit lebih keras terdengar lagi.
"Siapa yang mengetuk pintu begitu sangat tergesah gesah dan keras?" tanya ze pada jin hu dan di jawab jin hu dengan gendikan bahu tanda jika dia juga tak tau pasti.
"Aku buka pintu dulu untuk memastikannya mungkin seseorang sedang butuh bantuan di luar sana." ucap jin hu di angguki oleh ze
"Hm kau benar bukalah pintunya segera." saut ze
"Tok tok tok" masih saja suara ketukan terdengar
"Tok tok tok" ketukan kembali terdengar lebih kencang lagi dan lebih banyak seolah orang yang berada di luar sana sudah tidak sabaran ingin segera masuk ke dalam kamar mereka.
"Ya tunggu sebentar!" seru jin hu sembari berjalan menuju pintu dengan perasaan penasaran.
"Siapa orang yang tidak sabaran ini huh?" gerutu jin hu
"ada apa kena... oh Bibi mei yin, kakek jeong nam, nenek luo yin kalia...n?" ucap jin hu terkejut melihat jika ternyata orang yang mengetuk pintu kamarnya dengan begitu keras dan tergesa gesa itu adalah keluarga dari ze.
"Ji jin hu sayang kau kau sehat ka kau baik baik saja ma mana ze apa kau tak ja jadi me ngor..."
"Tidak bibi aku dan ze baik baik saja sekarang ini. Mari kita masuk ke dalam dulu jika ingin berbicara ze ada di dalam." Jin hu yang tau maksud dari kekhawatiran mei yin memotong kalimat mei yin untuk menenangkannya karena dari cara bicara dan raut wajahnya saja sudah bisa di lihat jika mei yin sedang panik.
Mereka semua masuk ke dalam kamar di susul Rui huo nan, wen yuan dan liu yu yang baru tiba juga. Mereka hanya mengekor tanpa suara karena penasaran apa yang terjadi.
__ADS_1
"Sayang lihat siapa yang datang." seru jin hu pada ze yang sedang bermain bersama cece karena ternyata cece keluar dari batu dimensi saat jin hu membuka pintu hingga ze tak menghiraukan tamu yang datang.
"ibu...! kakek....! nenek...!" seru ze girang lalu segera bangkit dari duduknya setelah cece masuk kembali ke batu dimensi menyadari kedatangan mereka.
Zemenghambur memeluk satu per satu keluarga yang di rindukannya itu.
Ze paling akhir memeluk kakeknya dan tetap dalam pelukan kakeknya sambil bertanya pada mereka mengapa bisa menemukan keberadaan mereka.
"mengapa kalian bisa ada di sini dan bisa tahu di mana kami berada?" tanya ze penasaran
"Mengapa ibu dan nenek menangis?" tanya ze khawatir saat melihat pipi mei yin dan luo yin sudah basah dengan air mata.
"Dasar kau anak nakal. Mengapa tak mengabari kami jika kau terluka hm?" tanya jeong nam semakin mengeratkan pelukannya pada cucu kesayangannya itu.
"Aku sudah sehat kakek lihatlah sendiri sekarang aku lebih dari sekedar baik baik saja. Aku sangat baik dan sehat sekarang." ucap ze menenangkan jeong nam saat merasakan jika tubuh pria paruh baya yang menyayanginya itu bergetar seolah ketakutan akan kehilangan dirinya.
Jeong nam sangat takut jika dia akan sungguh sungguh kehilangan orang yang di sayanginya lagi.
Saat mendengar jika ze terluka parah dia jadi sangat takut jika ze tak mampu bertahan lagi sampai sampai dia hampir kehilangan kesadarannya karena terguncang menerima kabar buruk tentang ze.
"Huh kau pandai berkata kata kemarin siapa yang meraung raung hampir pingsan mendengar cucunya kritis dari guru tang?" ejek luo yin membuat jeong nam tertunduk malu.
"i itu ka karena a aku belum melihat kondisi cucuku ini dan guru tang bilang jika dia terluka parah." jawab jeong nam gelagapan menutupi malunya.
"Sudahlah berhenti berdebat dulu. sekarang lebih baik kita duduk dulu lalu ceritakan padaku bagaimana kalian tau kondisiku dan bagaimana bisa kalian menemukan aku di tempat ini?" tanya ze sambil tersenyum melihat tingkah kakek neneknya itu.
Mereka memilih duduk di tepi ranjang karena jeong nam dan luo yin ingin terus memeluk cucunya itu. Tak akan muat untuk duduk ber 3 jika di kursi.
"Karena merindukan dan mengkhawatirkan keadaanmu kami ber 3 memutuskan menyusul dirimu ke gunung jiu li.
Untuk memastikan langsung bahwa cucu kesayangan kami ini baik baik saja (menunjuk ujung hidung ze dengan lembut)
__ADS_1
Saat kami tiba di sana kami bertemu dengan liu ku di gerbang pertama gunung jiu li dan dia membawa kami menemui master tang.." penjelasan dari luo yin terjeda oleh ze
"Tunggu tunggu dulu nenek biarkan aku mencerna sesuatu yang aneh di telingaku." potong ze karena merasa ada yang janggal.
"Ada apa ze sayang apa yang aneh?" tanya luo yin heran
"Mengapa nenek memanggil guru tang master sedangkan guru ji yang notabenenya adalah guru dari guru tang hanya nama belakang saja?" tanya ze penasaran membuat jin hu dan yang lain kecuali mei yin dan luo yin ikut penasaran.
"Bagaimana mungkin kau ingin seorang ibu memanggil putranya sendiri dengan sebutan guru atau master hm?" tiba tiba suara yang sedikit akrab di telinga ze terdengar dari arah pintu.
Ji liu ku datang bersama ke 2 master tang dan langsung masuk karena memang pintu kamar tak tertutup saat rombongan mei yin masuk.
Meski hanya bertemu sebentar dengan liu ku dan saat itu dia terluka ze hapal dengan suara liu ku. Karena perlakuan liu ku seolah bukan orang yang baru kenal padanya saat itu.
"Ibu? putra? apa maksudnya itu?" tanya ze bingung.
"Ya liu ku adalah putra kami." jawab jeong nam
"Mengapa nama marga guru adalah ji bukan shi jika dia putra dari kakek dan nenek?" tanya ze dan trio yang sekarang selalu jadi ekor ze dan jin hu itu manggut manggut ikut bingung dan penasaran.
"Liu ku adalah menantu kami yang sudah kami anggap anak sendiri dari awal bahkan sebelum dia menikahi mendiang putri kami shi ruan yin kakak dari mei yin ibumu.
Sama seperti halnya jin hu yang sudah lama kami anggap anggota keluarga bahkan sebelum kalian memutuskan menjalin hubungan" jelas jeong nam dengan raut sedih menyebut nama mendiang putri sulungnya itu.
"Mengapa aku tak pernah ingat jika aku memiliki seorang bibi? Apakah aku tak pernah bertemu dengan bibi ruan yin?" tanya ze
"Jangan pernah menyebut bibi pada ruan yin." tegur liu ku
"Mengapa aku tak boleh memanggil bibi bukankah dia kakak dari ibu kandungku?" tanya ze
"Bukan dia bukan bibi mu tapi....
__ADS_1
"Liu ku....! a apa ya yang ingin ka kau ka takan?" tegur mei yin dengan suara meninggi membuat ze semakin penasaran dengan cerita apa di balik semua hubungan ini.
"Sudah saatnya ze tahu yang sebenarnya." jawab liu ku meyakinkan mei yin