
Mereka semua kini sudah siap untuk kembali ke dunia bawah dengan ular api, ceri emas dan Hui tu yang kembali masuk ke dalam batu dimensi.
"Apakah kalian berdua sudah siap untuk kembali ke dunia bawah?" tanya Zili pada Ze dan Jin hu sambil menatap secara bergantian wajah mereka berdua.
"Ya kami sudah siap." jawab Ze dan Jin hu dengan mantap sambil menganggukkan kepala.
"Baik jika kalian berdua sudah siap, maka kini saatnya aku membawa kalian berdua ke dunia bawah." ucap Zili.
"Sekarang genggam tanganku dan pejamkan mata kalian. Aku akan segera membawa kalian kembali ke dunia bawah." tambah Zili lagi sambil mengulurkan kedua tangannya pada Ze dan Jin hu.
Ze dan Jin hu menyambut uluran tangan Zili dan segera menggenggamnya dengan erat. Mereka kemudian menutup mata mereka dan seketika itu pula cahaya keemasan kembali keluar dari genggaman tangan mereka.
Cahaya itu menutupi seluruh tubuh mereka bertiga dan tidak lama cahaya itu memudar dengan tubuh ketiga orang itu sudah menghilang.
"Kalian sudah dapat membuka mata kalian sekarang." ucap Zili dan segera Ze juga Jin hu membuka mata mereka.
"Dimana kita saat ini?" tanya Ze.
"Ini adalah Hutan Fujian. Tempat teraman untuk kalian di dunia bawah ini." jawab Zili.
"Apakah putri tidak mengenali tempat ini?" tanya Zili dan Ze hanya menggelengkan kepala.
"Apa saja tentang masa lalu putri yang sudah dapat putri ingat?" tanya Zili dan Jin hu ikut menyimak dengan serius menanti jawaban Ze.
__ADS_1
"Aku ingat tentang dunia yang berbeda yang kau bicarakan sebelumnya. Aku ingat ibu angkat ku, ayah, kakek, nenek, wen yuan, Liu yu dan Huo nan." jawab Ze membuat senyum di wajah Jin hu memudar.
Jin hu kecewa dan merasa amat sedih karena dari sekian banyak nama yang Ze sebutkan, dirinya tidak termasuk dalam daftar nama itu.
"Terakhir, kak Jin hu dan para penghuni baru dimensi milikku serta kemampuan alkemis yang aku miliki." lanjut Ze membuat Jin hu menatapnya dengan senyuman yang sudah kembali menghiasi wajahnya.
"Kau mengingat aku?" tanya Jin hu dan Ze mengangguk.
"Aku bahkan sering melihat dirimu dalam bayangan samar dalam kepingan ingatan ku saat aku masih berada di negeri naga." ucap Ze.
"Sekarang, apa yang akan kalian lakukan terlebih dahulu?" tanya Zili.
"Kita harus mengembalikan permaisuri pertama dan putra putri dari Raja Ruo. Mereka ada di hutan ini dan tidak ada yang dapat membawa mereka kepada Raja Ruo karena Ze menghilang sebelum ini." jawab Jin hu.
"Baiknya kau cari dulu Raja Ruo dan suruh dia menunggu keluarganya keluar dari hutan tepat di batas hutan Fujian ini. Tubuh putri belum sepenuhnya pulih untuk berhadapan dengan bahaya untuk mengantarkan mereka pada Raja Ruo. Putri harus tetap di dalam hutan Fujian untuk pemulihan sebelum dapat keluar dari hutan Fujian ini."jelas Zili.
"Hm, ayo kita antar Jin hu keluar dari hutan Fujian ini untuk menentukan....." kalimat Zili menggantung melihat Ze ternyata sudah tertidur pulas dalam posisi duduk bersandar pada batang pohon.
"Sebaiknya kita siapkan dulu tempat untuk putri tidur. Putri pasti kelelahan menahan sakit berhari-hari dalam tapanya kemarin." ucap Zili.
Mereka berdua segera menyiapkan tempat beristirahat seadanya untuk Ze dapat tidur dengan nyaman dan aman saat mereka meninggalkannya di dalam hutan Fujian untuk menentukan tepi hutan bagian mana mereka harus menunggu Jin hu dan Raja Ruo saat mereka datang untuk menjemput keluarga Raja Ruo.
Akhirnya sebuah gubuk kecil dengan alas dedaunan kering dan rumput berlapis kain jubah Jin hu, tiang dari batang kayu yang saling menopang dibuat membentuk prisma segitiga, dan atap daun dan ilalang yang tersusun rapih telah siap. Ze diangkat dan diletakkan perlahan oleh Jin hu dalam gubuk dadakan yang sudah diupayakan senyaman mungkin untuk Ze tidur.
__ADS_1
"Sekarang sudah aman. Kita dapat pergi ke perbatasan hutan Fujian untuk menentukan dimana kita akan bertemu nantinya." ucap Zili.
"Ayo kita pergi saja agar tidak mengusik tidurnya." ucap Jin hu dengan nada pelan takut mengganggu tidur Ze.
Zili hanya mengangguk dan mereka segera pergi dari sana untuk menjalankan rencana mereka.
"Untung saja untuk keluar dari hutan Fujian ini kita tidak memerlukan Ze. Sehingga Ze dapat beristirahat untuk memulihkan kondisinya." ucap Jin hu.
"Ya benar. Kasihan putri pasti akan sangat kelelahan jika terus bergerak tanpa istirahat setelah melakukan tapa di atas batu tapa penyiksa itu." saut Zili.
"Mengapa namanya batu tapa penyiksa?" tanya Jin hu.
"Karena siapa saja yang bertapa di atas batu itu, akan merasakan penderitaan dengan rasa sakit yang sangat menyiksa. Yah keberhasilan yang tinggi dan singkat tentu tidak geratis bukan." jawab Zili.
Haii para pembaca sekalian
Author mohon dengan sangat
tolong jika kalian tidak menyukai karya author ini, mohon abaikan saja
Tidak perlu berupaya untuk menurunkan rate novel ini
Bagi pembaca setia novel ini, mohon dukungannya dengan rate bintang 5 jangan dibawah bintang 5 karena akan menurunkan rate novel. Jangan lupa untuk tetap Vote, like dan komen.
__ADS_1
salam hangat dari author
Terima kasih.