
"Apa kau pikir aku dapat dengan mudah tertipu? Aku sangat tahu bahwa kau telah berbohong tentang hewan roh itu." jawab Jin hu membuat Ze hanya mampu tersenyum malu karena kebohongan yang dia lakukan ketahuan.
"Aku.. " ucapan Ze terhenti dengan ucapan Jin hu lagi.
"Tidak perlu mencari alasan lagi. Aku sangat tahu saat kau berbohong." ucap Jin hu yang tahu jika Ze sedang ingin membuat alasan lagi.
"Aku bukan marah padamu, aku hanya sangat khawatir, aku sangat takut jika harus mengalami sekali lagi saat aku harus melihat dirimu terluka. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana hidupku ini kelak jika kau tidak ada di sini di sisiku." lanjut Jin hu menjelaskan.
"Aku ada di sini dan tidak akan kemana-mana." ucap Ze yang menyadari bahwa saat ini Jin hu benar-benar sedang ketakutan. Tubuh pria kuat itu bergetar memikirkan jika saja dia datang terlambat lagi hari ini, bisa saja dia akan betul-betul kehilangan orang yang sangat dia sayangi itu.
"Maaf, maafkan aku." ucap Jin hu lirih dan kini mata pria tangguh dan dingin itu sudah mengeluarkan air mata yang sudah tidak mampu untuk dia bendung.
"Mengapa kau meminta maaf? Seharusnya aku yang meminta maaf aku yang salah." tanya Ze sambil mengusap pelan pipi kekasihnya yang tengah dialiri air mata itu.
"Sekali lagi aku lalai dari janjiku untuk selalu menjagamu dari segala macam bahaya. Aku hampir saja kehilangan dirimu jika saja aku terlambat hari ini." ucap Jin hu penuh penyesalan dan ketakutan.
"Maaf, maafkan aku." ucap Jin hu lagi sambil tertunduk penuh penyesalan.
Ze meraih tubuh kekasihnya lalu menepuk pelan punggungnya.
"Kau tidak bersalah sama sekali. Kau sudah menepati janji yang telah kau ucapkan." ucap Ze berusaha menenangkan kekasihnya itu.
"Bukankah aku masih bisa berada di sini dan dalam keadaan sehat karena dirimu?" lanjut Ze lalu memberi sedikit jarak antara dia dan Jin hu. Ze tersenyum menghapus jejak air mata di wajah Jin hu.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kau sudah melakukan yang terbaik yang dapat dilakukan oleh siapapun itu. Kau sudah melindungi aku selama ini dan selalu berada di sekitar aku walaupun aku sangat tahu jika kau bukanlah orang tanpa kesibukan. Kau selalu memberikan apa yang aku ingin dan membebaskan aku melakukan hal yang melanggar aturan sekalipun." ucap Ze lalu mengecup singkat pipi kanan Jin hu dan kembali memeluk tubuh kekasihnya itu.
__ADS_1
"ceh gadisku sudah belajar untuk menjadi penggoda hm?" ucap Jin hu lalu sedikit memberi jarak antara dirinya dengan Ze agar dapat melihat wajah kekasihnya itu. Kini dia menatap wajah Ze dengan senyuman maut yang sudah menghiasi bibirnya. Siapa saja wanita yang melihat senyum itu pasti akan meleleh dibuatnya.
Bahkan Ze sempat tertegun melihat senyum itu. Jin hu adalah pria dingin yang hampir tidak pernah tersenyum. Selama bersama dengan Ze dia hanya sekedar tersenyum tipis saja dan ini pertama kali Jin hu menerbitkan sebuah senyuman lebar yang terlihat sangat menawan.
"Mengapa kau menatapku tanpa berbicara apa pun? Apakah kau baru menyadari bahwa calon suamimu ini sangat tampan dan menawan hingga kau terkagum-kagum sampai tidak sanggup untuk berkata-kata lagi?" ucap Jin hu sombong membuat Ze mendecah kesal.
"ck ck kau terlalu percaya diri tuan. " bantah Ze sambil mencubit lengan Jin hu.
"Apakah aku tidak tampan menurutmu hm?" tanya Jin hu lalu kembali tersenyum.
"Jangan tersenyum seperti ini pada wanita lain kapan dan di manapun." ucap Ze dan Jin hu menaikan sebelah alisnya mendengar ucapan kekasihnya itu. Jin hu lantas tersenyum bahkan sedikit tertawa mendengarnya.
"Ada apa hm?" tanya Jin hu menggoda Ze.
"Kau cemburu?" tanya Jin hu semakin melebarkan senyum melihat tingkah kekasihnya yang sedang salah tingkah karena malu.
"Bukan aku hanya tidak suka jika... " jawab Ze terjeda karena sedang memikirkan alasan tepat untuk apa yang dia katakan tadi.
"Baiklah sayang. Aku tidak akan tersenyum dan memang aku tidak pernah tersenyum pada wanita lain sebelumnya dan akan tetap seperti itu hingga kapan pun itu." jelas Jin hu.
"Aku hanya akan tersenyum kepada kekasihku ini. " ucap Jin hu sambil mencubit ujung hidung kekasihnya itu.
"Baik aku percaya kepadamu." saut Ze.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, mereka akhirnya tiba di istana kerajaan api penyucian. Ze dan Jin hu segera ke tempat pangeran Rong yuo dan Huo nan berada. Sedang beberapa orang prajurit dan bahkan panglima besar Lin xu langsung berjalan menuju ke belakang bangunan tempat pangeran Rong yuo untuk melihat hewan roh milik Ze. Mereka ke sana bahkan sebelum berjumpa dengan keluarga mereka sangking penasarannya dengan hewan roh milik Ze itu.
__ADS_1
"Kakak kedua, kakak ipar, kalian disini? " ucap Huo nan saat melihat Ze dan Jin hu masuk ke dalam ruangan tempat dia dan pangeran Rong yuo sedang berbincang-bincang saat ini.
"Tentu kami disini, jika tidak lalu siapa yang sedang berdiri di sini saat ini?" jawab Ze sambil memutar matanya jengah.
"Ha ha ha ha. " pangeran Rong yuo dan Jin hu tertawa melihat wajah cemberut Huo nan karena ucapan Ze.
Pangeran Rong yuo mengerutkan keningnya saat mendengar suara langkah kaki yang banyak di luar bangunan tempat dia dan yang lain sedang berada saat ini.
"Apa yang telah terjadi? Mengapa ada banyak orang di luar sana saat ini?" tanya pangeran Rong yuo.
"Iya, apakah ada buronan atau apa? Mengapa mereka mengelilingi bangunan ini?" tanya Huo nan juga.
"Oh, itu pasti panglima besar Lin xu dan beberapa orang prajurit yang penasaran ingin melihat ular api di belakang bangunan ini. Mereka ingin melihat langsung hewan Roh seperti apa yang menjadi hewan roh milikku." jawab Ze santai.
"Astaga. Ha ha ha ha ha, itu pasti seru melihat reaksi mereka melihat ular api." seru Huo nan sambil tertawa.
Huo nan dan Pangeran Rong yuo segera berjalan menuju jendela belakang untuk melihat orang-orang itu kaget dan ketakutan melihat ular api raksasa milik Ze sama seperti mereka saat pertama kali melihat ular api. Ze hanya mengerut heran melihat tingkah laku dua orang itu.
Hai pembaca setia novel
"pindah dimensi membalaskan dendam putri yang tertindas"
Jangan lupa terus dukung Author dan Ze dengan memberikan Vote, like dan komen kalian.
salam hangat dari author dan Ze.
__ADS_1