
Zili menatap secara berganti tiga wajah penasaran itu yang tengah menatap dirinya penuh tanda tanya.
"Huo nan, dia telah kembali ke dunia bawah dua minggu sebelum kalian bangun dari tapa kalian." jawab Zili.
"Mengapa dia pulang lebih awal, tidak menunggu yang lain selesai?" tanya Raja Ruo.
"Huo nan tiba-tiba saja bangun dari tapanya dengan raut wajahnya penuh kecemasan saat itu. Kebetulan dia bangun saat aku juga terbangun dari tapa dan datang berkunjung untuk melihat kondisi kalian." jawab Zili.
Flashback on
Huo nan tampak sangat gelisah dengan keringat sudah membanjiri seluruh tubuh terutama wajahnya.
"Ada apa denganmu?" tanya Zili yang kebetulan memasuki gua tapa mereka saat Huo nan membuka mata dengan raut cemas.
"Entahlah, aku merasakan kalau ada hal buruk tengah menimpa keluargaku saat ini. Aku harus pulang untuk memastikan sendiri." jawab Huo nan.
"Kau ingin kembali sekarang juga?" tanya Zili.
"Ya, dapatkah kau membawaku kembali sesegera mungkin ke kediaman orang tuaku di istana?" pinta Huo nan dengan wajahnya yang tampak sangat cemas.
"Baiklah, aku akan membantu kau kembali ke dunia bawah dan langsung ke kediaman orang tuamu." ucap Zili.
"Terima kasih." ucap tulus Huo nan.
Flashback off
"Setelah itu aku meninggalkan dia di istana Beiceng dan segera kembali ke negeri hewan roh Suci." jelas Zili.
"Dia juga sempat meminta maaf pada kalian karena pergi tanpa pamit." tambah Zili.
"Oh, apakah yang terjadi di istana Beiceng?" tanya Ze.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, bukan ranah untuk aku ikut campur urusan mereka." jawab Zili.
"Kita akan menyusul Huo nan nanti untuk mencari tahu yang terjadi dan membantu jika perlu. Kita selesaikan dulu urusan kita di sini." ucap Jin hu.
"Baiklah." ucap Ze pasrah karena tidak ada yang dapat dia lakukan lagi untuk mengetahui apa yang terjadi pada orang yang selalu memanggilnya kakak ipar itu.
Mereka akhirnya membawa Raja Ruo pada keluarganya untuk dipertemukan dan mengantarkan mereka ke tempat Raja Ruo sebelumnya menginap.
Setelah mengantarkan Raja Ruo dan keluarganya, mereka lalu pergi ke kediaman tuan besar Shi kakek dari Ze.
"Mereka pasti sangat khawatir setelah sekian lama tidak mendapatkan kabar apapun tentang kita." ucap Ze sedih.
"Tenanglah, Wen yuan, Liu yu dan ayahmu tentu telah menjelaskan alasan kita menghilang sementara waktu. Mereka tidak tahu mengenai yang terjadi pada kita selama ini. Mereka pasti berpikir bahwa kita baik-baik saja selama ini jadi kau tidak perlu merasa bersalah karena itu. Lagi pula kita akan segera menemui mereka bukan?"ucap Jin hu berusaha menenangkan hati Ze.
"Ya, kau benar. Sebaiknya kita jangan membahas tentang musibah yang terjadi beberapa bulan lalu. Ibu dan yang lain akan khawatir jika mengetahui hal ini." pinta Ze.
"Sesuai keinginan tuan putri." ucap Jin hu berusaha membuat Ze lebih relaks dan itu berhasil. Ze kini cemberut kesal mendengar panggilan tuan putri yang terdengar seperti ledekan di telinganya.
Membuat Jin hu tidak tahan untuk mencubit pipinya. Sebenarnya Jin hu ingin mencium kekasihnya itu. Tapi, di sana ada Zili yang terus mengamati interaksi mereka.
"Aduh... Berhenti mencubit pipiku." kesal Ze.
"Lalu aku harus memanggilmu apa jika bukan tuan putri? Apakah aku harus memanggilmu istriku?" goda Jin hu dengan sedikit berbisik membuat Ze malu dan kesal secara bersamaan.
Ze mendorong dada Jin hu agar menjauh. Ze memalingkan wajahnya yang sudah agak memerah karena malu.
"Omong kosong apa yang kau katakan." ucap Ze dengan masih memalingkan wajahnya.
"Ceh.Aku merasa jika saat ini telah salah tempat. Sebaiknya aku duduk di luar saja." ucap Zili hendak berdiri dan keluar dari kereta tapi terhenti.
Ze menatap heran raut wajah Zili yang terlihat berubah tiba-tiba itu. Zili seolah sedang menahan kesal setelah dia berdiri dan kembali duduk tiba-tiba.
__ADS_1
"Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Ze penasaran.
"Hm." jawab Zili singkat sambil mengangguk mengiyakan.
"Pergilah jika kau harus pergi. Selesaikan masalah yang terjadi dulu. Setelah itu, kau dapat datang lagi untuk menemui kami. Aku dan yang lain akan baik-baik saja di sini." ucap Ze berusaha meyakinkan Zili agar pergi tanpa ada rasa beban.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku harus segera ke negeri hewan roh Suci untuk melihat seberapa serius masalah yang terjadi di sana sehingga membuat ayah memanggilku." ucap Zili.
"Pergilah segera, mereka pasti sangat membutuhkan kehadiranmu di sana." ucap Ze tersenyum tulus.
"Baiklah aku pergi dulu. Ambil plakat ini dan patahkan di saat putri merasa terdesak." ucap Zili sambil mengulurkan sebuah plakat emas pada Ze yang diterima oleh Ze dengan senang hati.
"Terima kasih." ucap tulus Ze.
"Tidak perlu berterima kasih padaku. Ini semua sudah merupakan kewajiban aku sebagai budak mu putri." ucap Zili.
"Jangan pernah sekali pun kau mengulang kata itu!" bentak Ze dengan wajahnya yang terlihat marah membuat Zili bingung.
"Kau bukan budak ku, kau adalah teman, keluarga dan saudara bagiku." ucap Ze membuat Zili tersenyum bahagia bahkan sampai meneteskan air mata haru.
Haii para pembaca sekalian
Author mohon dengan amat sangat
tolong jika kalian tidak menyukai karya author ini, mohon kalian untuk mengabaikan saja karya author ini
Tidak perlu berupaya untuk menurunkan rate novel ini dengan memberikan rate rendah
Bagi pembaca dan pendukung setia novel ini, mohon dukungannya dengan rate bintang 5 jangan dibawah bintang 5 karena akan menurunkan rate novel. Jangan lupa untuk tetap Vote, like dan komen.
salam hangat dari author
__ADS_1
Terima kasih.