
Setiap orang yang mereka lewati baik itu dayang atau kasim bahkan para prajurit dan penjaga mereka akan menunduk hormat pada mereka berdua. Ze dan Jin hu sudah berada di depan pintu ruang sidang istana dan segera menunjukkan plakat dari Raja Ruo dan penjaga pintu segera memberi jalan pada mereka.
Banyak mata menatap heran ke arah Ze dan Jin hu berjalan masuk. Mereka heran dengan kedatangan Ze yang merupakan wanita pertama yang pernah masuk ke dalam ruang sidang istana dan yang membuat mereka heran tidak hanya tidak di usir keluar dari ruang sidang, Raja Ruo justru menyambut kedatangan Ze dengan baik.
"Salam Yang mulia." ucap Ze saat sudah berada di dalam ruang persidangan istana.
"Salam hormat guru." ucap Jin hu.
"Oh kalian sudah di sini rupanya. Ayo masuklah dan silahkan duduk di sana (menunjuk tempat kosong di dekatnya) dan kita akan memulai sidang hari ini." ucap Raja Ruo.
Semua yang hadir saling berbisik menatap tidak suka ke arah Ze mendengar Raja mereka mempersilahkan 2 orang pemuda dan pemudi duduk di tempat yang hanya bisa di peruntukkan buat para pangeran dan putra mahkota.
Mereka sebenarnya tidak keberatan untuk Jin hu karena dia adalah Raja dari sebuah istana walau Jin hu tidak ingin dipanggil dengan gelar Raja, tapi untuk Ze yang mereka tahu hanya seorang gadis biasa, tidak hanya menempati tempat untuk para pangeran sedangkan sudut ruangan itu mereka sangat keberatan jika Ze menempatinya.
Itu karena, sejak dahulu yang mereka ketahui bahwa tidak pernah sekali pun ada seorang perempuan bahkan jika itu seorang ibu suri, menginjakkan kakinya di dalam ruang sidang istana khusus petinggi kerajaan itu.
"Mohon ampuni kelancangan mentri ini Yang mulia tapi, selama ini bahkan tidak pernah ada seorang pun perempuan baik tua atau pun muda, baik kasta rendah maupun keluarga kerajaan yang pernah memasuki ruang sidang petinggi kerajaan." ucap seorang mentri berusia tua sambil membungkuk hormat.
"Mohon ampuni panglima ini juga Yang mulia hamba sependapat dengan mentri Bing bukankah tidak tepat seorang gadis memasuki ruang sidang bahkan menempati tempat khusus para pangeran." seru seorang panglima yang terlihat lebih muda dan berbadan besar dan tegap sambil membungkuk hormat juga.
Sedangkan yang lain hanya mengangguk dan berbicara pada orang di sampingnya tentang ketidak setujuan mereka tidak berani untuk mengutarakan langsung pendapatnya untuk menentang keinginan sang Raja. Jin hu melihat mentri Qin hanya tersenyum sinis melihat banyak orang yang menentang kehadiran Ze di dalam ruang sidang itu.
__ADS_1
"Kau lihat pria tua yang duduk sebelah kanan paling dekat dengan guru?" bisik Jin hu pada Ze dan Ze mengangguk sambil melihat ke arah yang di maksud Jin hu.
"Dia adalah mentri Qin dan di sebelahnya adalah mentri Yun. Tuan Qu adalah orang ke 5 sebelah kiri kita dan tuan Zu orang ketiga dari tuan Zu." ucap Jin hu.
"Lalu...?" tanya Raja Ruo ingin tahu tujuan dari pernyataan dua orang tadi.
"Mohon ampun jika panglima ini lancang bertanya pada Yang mulia Raja, tapi mengapa Yang mulia mengundang seorang gadis biasa masuk ke dalam ruang sidang ini? Bahkan anggota kerajaan dan putri dari kerajaan ini tidak ada yang pernah menginjakkan kaki di dalam ruang sidang petinggi istana ini." saut pangglima tadi.
"Ampuni mentri ini Yang mulia jika mentri ini juga lancang. Bahkan putri dari Raja istana ini sejak dulu tidak ada yang memasuki ruangan ini. Tapi, mengapa gadis ini yang bukan putri di istana ini di ijinkan untuk masuk bahkan untuk menempati tempat khusus para pangeran." ucap mentri Qin sambil menunduk hormat.
"Bukankah masalahnya hanya karena belum pernah ada seorang wanita pun yang memasuki ruang sidang para petinggi istana selama ini?" tanya Raja Ruo.
"Benar Yang mulia Raja." saut mereka semua bersama. Ze dapat melihat ada senyum puas dan wajah menang dari wajah mentri Qin mendengar ucapan dari Raja Ruo. Dia berfikir bahwa Raja Ruo akan mengusir Ze dari ruang sidang setelah mendengar pernyataan dari beberapa orang yang menentang kehadiran Ze di dalam ruangan itu.
"Master?" gumam mentri Qin.
"Ampun yang mulia dia ini seorang gadis itu masalahnya." jawab tuan Qu.
"Bukankah hanya belum pernah ada orang berjenis wanita, gadis atau perempuan yang pernah masuk ke sini?" tanya Raja Ruo lagi.
"Ya Yang mulia Raja...!" saut mereka dengan raut bingung.
__ADS_1
"Kalian harus ingat ini baik-baik. Hanya belum pernah ada wanita masuk ke dalam ruang sidang ini, bukan tidak boleh ada wanita masuk ke dalam ruang sidang ini. Karena, aku tidak pernah mendengar atau pun membaca adanya larangan untuk seorang wanita masuk ke dalam ruang sidang istana." jelas Raja Ruo membuat mereka semua terdiam dan saling lempar pandang.
"Mereka para putri, selir, permaisuri dan bahkan ibu suri tidak pernah masuk ke dalam ruang sidang para petinggi istana selama ini bukan karena di larang untuk masuk bukan?" tanya Raja Ruo membuat mereka tidak ada yang berani menjawab.
Karena apa yang dikatakan Raja Ruo itu memang benar, tapi mereka masih merasa keberatan dengan kehadiran Ze di dalam sana.
Mereka merasa walau itu bukan larangan untuk seorang gadis masuk ke dalam sana, tapi mereka menganggap itu adalah aturan tidak tertulis yang merupakan bagian dari budaya istana selama ini.
Tapi, mereka juga tidak bisa menemukan bahasa yang pas untuk mengutarakan maksudnya agar Raja mereka tidak merasa kesal atau tersinggung.
"Mereka tidak masuk ke dalam sini karena mereka tidak memiliki tujuan untuk hadir di tempat ini.
Sedangkan master Ze ah aku lupa anda tidak suka dipanggil dengan sebutan master. Putri Ze hadir atas undangan aku. Aku mendengar dari beberapa orang di kerajaan milik Kaisar Liang yang menangani banjir di daerah rawan banjir di sana, hingga dapat teratasi dalam waktu yang sangat singkat.
Bahwa yang dapat memecahkan masalah yang telah terjadi selama puluhan tahun saat musim hujan tiba itu adalah putri Ze ini.
Jadi aku berharap putri Ze dapat mendengarkan masalah yang terjadi pada wilayah barat kerajaan ini tepatnya di desa Juoju dan sudi membantu kita menemukan sousinya." ucap Raja Ruo membuat beberapa orang di sana mulai mengangguk paham dengan maksud Raja mereka itu.
Ze dapat melihat wajah kesal dari mentri Qin mendengar ucapan Raja Ruo barusan. Ze memperhatikan wajah dari 4 orang yang akan dia buat topengnya dengan seksama.
"Aku dapat melihat jika semua orang merasa keberatan aku berada di dalam sini. Sebaiknya aku menunggu di luar saja Yang mulia." ucap Ze.
__ADS_1
"Tidak ada yang dapat mengusir penyelamat diriku dari ruangan ini. Kami juga membutuhkan putri Ze untuk menyampaikan pendapat untuk mengatasi banjir di desa Juoju sama seperti dikerajaan milik kaisar Liang itu." jelas Raja Ruo dan sudah banyak dari mereka mengangguk setuju.
Jangan lupa setelah membaca untuk klik Like berikan Vote dan juga koment buat Author.