
"Aku hanya lagi senang saja mendapat pencapaian cukup tinggi dalam kultivasi hanya dalam waktu singkat." ucap Ze.
"Hm tidak sia-sia energi itu aku berikan kepadamu. Kau sungguh memanfaatkan dengan baik energi itu." ucap Hui tu saat melihat pencapaian Ze yang meningkat sangat pesat.
Ze tersenyum bahagia menerima pujian dari Hui tu. Walau terdengar datar dan biasa saja.
"Aku adalah seorang jenius jadi wajar jika pencapaianku meningkat pesat dengan bantuan energi itu." ucap Ze bangga.
"Ceh." Hui tu berdecah sambil memutar mata jengah.
"Aku salah telah memujimu. Tanpa di puji kau sungguh sombong dan aku memujimu kau sudah akan terbang karena bangga." ucap Hui tu menyindir Ze.
"Aku mengatakan apa yang terlihat bukan menyombong jika kau belum paham." banyah Ze.
"Aku lelah jika harus berdebat dengan dirimu. Lebih baik aku lanjutkan tapaku saja." ucap Hui tu.
"Terserah aku juga harus segera keluar dari dimensi ini. Mungkin saja kami sudah dekat dengan tujuan kami." ucap Ze lalu segera keluar dari batu dimensi.
Saat Ze keluar dari batu dimensi ternyata hari sudah malam di luar batu di mensi. Jin hu juga Huo nan tengah tertidur lelap di dalam kereta karena lagi-lagi mereka memilih untuk singgah di hutan untuk beristirahat malam.
"Hm rupanya di luar sini langit sudah gelap. Sebaiknya aku tidur juga kebetulan aku sudah sangat lelah." ucap Ze lalu berbaring di bagian pinggir ruang di dalam kereta sedikit menjauh dari 2 orang yang terlelap itu.
Pagi harinya Jin hu terbangun lebih awal dan melihat Ze sedang tertidur dengan lelap.
"Sejak kapan dia keluar dari batu dimensi?" gumam Jin hu.
"Ah ka..." Huo nan yang baru bangun ingin bersuara sudah mendapat tatapan tajam dari Jin hu.
"Jangan berisik Ze sedang tertidur." tegur Jin hu dengan berbisik kepada Huo nan.
"Oh maaf aku tidak melihat kakak ipar tadi." ucap Huo nan yang juga berbisik.
"Ayo kita di luar saja agar tidak mengganggu tidurnya." ajak Jin hu.
"Ayo." saut Huo nan dan mereka berdua segera keluar dari kereta.
"Tampaknya dia sangat kelelahan usai bertapa. Sebaiknya kita mencari sesuatu yang dapat di makan di sekitar sini." ucap Jin hu.
"Baiklah kakak kedua aku akan membantu mencari sesuatu yang dapat kita makan di dalam hutan." tawar Huo nan.
"Hm aku akan mencari di sekitar sini saja. Aku tidak bisa membiarkan dirinya tidur tanpa pengawasan." Saut Jin hu.
__ADS_1
Ze terbangun tidak lama setelah Jin hu dan Huo nan keluar dari kereta dan berpencar untuk mencari makan.
"Mengapa aku merasa jika ada sesuatu yang salah?" gumam Ze lalu melangkah mencari keberadaan Jin hu dan Huo nan.
"Awas...!"seru Ze sambil berlari dan mengeluarkan senjata miliknya.
Ze melemparkan belatinya ke arah ular yang hampir saja mematuk Jin hu dan tepat sasaran. Belati Ze menancap sempurna di leher ular itu.
"Kau sedang apa saja hah?" tanya Ze dengan nada tinggi.
"Fokusmu kau alihkan ke mana saja hingga ular mendekat dan kau tidak menyadarinya?" tanyanya lagi dengan nada yang masih tinggi sangking dia terkejut hingga marah.
"Maaf aku terlalu fokus pada benda ini." jawab Jin hu sambil menunjuk sebuah benda di depannya.
"Astaga lepaskan benda yang kau pegang itu." ucap Ze.
"Ada apa?" tanya Jin hu.
"Lepaskan dulu benda itu lalu melangkah ke mari." ucap Ze.
Jin hu akhirnya mengikuti kata-kata dari Ze dan menghampiri Ze.
"Pejamkan matamu." perintah Ze pada Jin hu dan Jin hu hanya menurut saja.
Ze menatap cincin di jarinya dan fokus pada cincin itu lalu mengusap kedua mata Jin hu bergantian dengan batu pada cincin itu.
"Sekarang buka matamu." perintah Ze lagi dan Jin hu hanya menurutinya.
"Tadi benda seperti apa yang kau lihat?" tanya Ze.
"Bukankah kau melihatnya juga?" tanya Jin hu balik.
"Sebutkan saja bentuk benda itu." ucap Ze.
"Sebuah batu mirip batu sejati namun bercahaya membuat aku penasaran." jawab Jin hu.
"Sekarang lihat lagi apa yang tadi kau perhatikan dari tadi." ucap Ze menunjuk sebuah batu biasa memiliki tulisan seperti mantra di permukaannya.
"Apa itu?" tanya Jin hu.
"Itu mantra sihir. Artinya ular yang hampir mematukmu juga sengaja ada untuk mematukmu." jawab Ze.
__ADS_1
"Hutan ini sangat berbahaya. Ada kemungkinan kita berhadapan dengan orang-orang yang berhubungan dengan sihir hitam." jelas Ze.
"Mana Huo nan?" tanya Ze saat menyadari jika Huo nan tidak terlihat.
"Dia masuk ke dalam hutan mencari sesuatu yang dapat di makan." jawab Jin hu.
"Huo nan dalam bahaya sekarang ini. Kita harus segera menemukannya sebelum dia menjadi hidangan makan siang." ucap Ze.
"Apa maksudmu dengan hidangan makan siang?" tanya Jin hu.
"Aku jelaskan sambil kita jalan mencari Huo nan saja. Aku takut kita terlambat menyelamatkan Huo nan jika kita tetap di tempat sambil berbincang." ucap Ze khawatir sambil melangkah cepat masuk ke dalam hutan di ikuti Jin hu.
Ze teringat sesuatu dan kembali. Dia menarik horse dragon fly beserta kereta ke dalam batu dimensi.
"Tenang di sini dulu oke?" ucap Ze lalu keluar dari batu dimensi lagi.
"Ayo cepat." seru Ze lalu berlari masuk ke dalam hutan.
"Kau sengaja di buat terpaku pada benda bermantra dan mereka menyediakan ular mematikan di dekat mantra itu." ucap Ze sambil terus berlari masuk ke hutan.
"Jika untuk tumbal maka mereka akan membutuhkan dirimu dalam keadaan hidup bukan?" lanjut Ze.
"Benar juga. Lalu, apa yang kau simpulkan tentang ini?" tanya Jin hu masih berlari mengikuti langkah Ze.
"Ada satu alasan mereka menebar perangkap mematikan di hutan ini. Yaitu, mereka yang di dalam hutan itu adalah jenis pemakan segala termasuk manusia." jelas Ze.
"Mengapa kau menyimpulkan demikian?" tanya Jin hu.
"Saat kau berburu binatang untuk dipelihara tentu kau akan menggunakan perangkap yang aman bukan?" tanya Ze.
"Tentu." jawab Jin hu.
"Saat kau mencari hewan buruan untuk di makan, tentu kau tidak perduli jika hewan itu akan hidup atau mati. Sama sepertimu tadi jika aku tidak datang maka kau akan mati. Ular tadi adalah jenis ular yang bisanya mematikan." jelas Ze.
"Ya kau benar sekali. Itu bisa masuk akal." saut Jin hu.
Ze memelankan langkahnya dan Jin hu ikut memelankan langkah dan kini mengikuti langkah Ze yang mendekat perlahan dan dengan hati-hati.
"Huo nan ada di depan sana dan kemungkinan mereka yang menebar perangkap juga ada di sana." ucap Ze.
"Mengapa kau yakin jika Huo nan ada di depan sana bersama mereka?" tanya Jin hu heran.
__ADS_1
"Aku menaruh sesuatu di tubuh Huo nan dan tubuhmu semalam karena aku merasa sedikit tidak tenang. Aku dapat merasakan keberadaan kalian melalui benda itu." jawab Ze.