
Saat Ze membuka pintu, dia dapat melihat Jin hu sudah menunggunya dan menatap dia dengan tatapan tertegun. Jin hu tidak berkedip ataupun mengeluarkan suara sangking takjub melihat calon istrinya terlihat sangat cantik dengan riasan tipis pada wajahnya.
"Kau akan ikut melihat kondisi Wen yuan atau kau hanya akan berdiri mematung di sini?" tegur Ze membuyarkan Jin hu dari rasa takjub yang membuatnya tertegun.
"Maaf sayang, kau sangat cantik membuat aku tidak dapat mengalihkan mata dan pikiranku darimu." ucap Jin hu.
"Cukup untuk rayuan mu itu. Ayo, aku harus memastikan Wen yuan baik-baik saja sebelum aku selesai membuat obat untuknya nanti." ajak Ze.
Jin hu segera menutupi tubuh Ze dengan jubahnya. Bahkan Jin hu menutupi Ze dari kepalanya. Dia tidak rela banyak mata yang melihat Ze berpenampilan secantik malam ini.
"Aku takut kau kedinginan dengan udara malam ini yang lumayan dingin." ucap Jin hu beralasan membuat Ze memutar matanya jengah.
"Terserah kau saja, yang terpenting sekarang adalah memastikan Wen yuan baik-baik saja." ucap Ze sambil melangkah pergi.
Sedangkan di dalam ruangan Ze saat itu, Mei yin dan Luo yin mati-matian menahan tawa mendengarkan dan mengintip kelakuan Jin hu yang posesif akibat dari ulah mereka yang mendandani Ze.
Di kamar Wen yuan saat ini Sie li sedang membersihkan tubuh Wen yuan dengan kain basah. Sie li sebenarnya merasa canggung untuk melihat tubuh Wen yuan tanpa baju apa lagi dia harus menyentuh tubuh atletis itu.
Tapi, Sie li tidak memiliki pilihan lain. Jika dia tidak melakukannya, tidak ada yang dapat dia minta untuk melakukannya saat ini karena tidak ada orang lain di dalam sana. Wen yuan tentu tidak dapat melakukannya sendiri.
__ADS_1
"Apakah ada yang tidak nyaman?" tanya Sie li sedikit menunduk karena merasa semakin canggung saat Wen yuan menatap wajahnya.
"Aku baik-baik saja, mengapa kau menundukkan kepalamu? Apakah penampilanku saat ini tidak nyaman untuk kau lihat?" tanya Wen yuan.
"Bu bukan karena kondisimu, tapi..... " ucap ragu Sie li dengan wajahnya yang sudah memerah karena malu.
"Tapi?" tanya Wen yuan yang masih belum paham maksud Sie li.
"Kau tidak mengenakan pakaian saat ini." cicit Sie li membuat Wen yuan tersenyum melihat tingkah Sie li yang sangat lucu menurutnya.
"Bukannya kau tadi sudah menyentuh tubuhku ini? Mengapa sekarang kau justru malu untuk melihatnya?" goda Wen yuan membuat Sie li semakin menunduk malu.
"Ternyata menyenangkan menggoda gadis yang menggemaskan ini. Pantas saja tuan Jin hu sangat senang menggoda putri." batin Wen yuan tersenyum melihat Sie li.
"Karena kau sudah melihat dan menyentuh tubuhku tanpa balutan pakaian, kau harus bertanggung jawab untuk itu." ucap Wen yuan yang melupakan rasa sakit yang dialami tubuhnya karena senang melihat tingkah mengemaskan dari wanita yang tidak dia sadari telah menarik hatinya itu.
"I itu, aku harus bagaimana untuk bertanggung jawab?" tanya Sie li gugup.
"Karena kau telah melihat dan menyentuhnya, maka kau harus memilikinya bukan?" jawab Wen yuan.
__ADS_1
"Mak maksudnya?" tanya Sie li tidak paham.
"Menikah denganku." ucap Wen yuan.
"A apa?" tanya Sie li tidak percaya.
"Tok tok tok." suara ketukan membuat Sie li segera membuka pintu guna menghindari tatapan Wen yuan yang membuatnya semakin gugup.
"Bagaimana keadaan Wen yuan?" tanya Ze saat Sie li membukakan pintu untuknya dan Jin hu masuk.
"Sudah jauh lebih baik putri." saut Wen yuan.
"Mengapa wajahmu memerah Sie li?" tanya Ze.
"Apakah kau demam?" tanya Ze lagi.
"Aku baik-baik saja putri. Mungkin karena terkena uap air saat membawa air panas tadi." ucap Sie li berusaha mencari alasan.
jangan lupa untuk tetap semangat memberikan dukungan kalian untuk Ze dan yang lain.
__ADS_1