Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Membantu warga desa Shang


__ADS_3

"Desa Shang kami terkena kutukan." ucap pria itu.


"Bisakah anda percaya jika aku mengatakan ini bukan kutukan tapi ada yang meracuni kalian semua?" tanya Ze.


Pria itu menatap lekat-lekat wajah dan mata Ze mencari kebohongan dari sana tapi dia tidak menemukan itu.


Pria itu lalu mengulurkan tangannya dengan pasrah toh tidak akan rugi baginya yang tidak memiliki harapan lagi ini untuk memberi kesempatan gadis kecil untuk memeriksa keadaannya fikirnya.


Ze memegang pergelangan tangan pria itu dan mulai memeriksa nadi dari pria tadi dan saat dia berhasil mendeteksi gejala pada nadi pria itu, Ze terbelalak tidak percaya akan apa yang dia temukan.


"Astaga." ucap Ze terkejut.


"Ada apa kakak ipar?" tanya Huo nan.


"Kalian berdua jangan menyentuh apapun dan sedikit menjauh dari kami." ucap Ze.


"Mengapa....." ucapan Huo nan di potong oleh bentakan Ze yang mulai kesal.


"Lakukan saja tanpa bertanya!" bentak Ze membuat Huo nan dan Jin hu spontan mundur tanpa bertanya lagi.


"Berapa lama tuan mengalami sakit ini?" tanya Ze.


"Sekitar 25 hari." jawab pria tadi.


Ze mengeluarkan botol cairan dari kantungnya dan meneteskan sedikit pada luka di lengan pria tadi.


Tidak lama kemudian keluar ulat-ulat kecil halus dari luka itu.


"Apa itu?" tanya pria tadi.


"Penyebab dari penderitaan desa ini." jawab Ze.


"Kalian berdua baluri tangan dan wajah kalian dengan ramuan ini tapi ingat agar jangan sampai terkena mata lubang hidung apa lagi mulut. Itu racun mematikan." ucap Ze dan Huo nan serta Jin hu mengikuti arahan Ze tanpa berani protes lagi.


"Kumpulkan semua warga yang ada di sungai desa ini." ucap Ze pada pria itu dan pria tadi beserta Huo nan dan Jin hu pergi tanpa menunggu Ze menyuruhnya untuk kedua kali.


Ze menatap sekitar dan merasakan ada yang ganjil dari tempat itu.

__ADS_1


"Hm tampaknya seseorang sengaja menargetkan desa ini sebagai tumbal persekutuan dengan iblis layaknya di desa Youshan." ucap Ze.


"Aku harus mencari letak induk ataupun ratu dari para ulat penghisap inti kehidupan orang-orang di desa Shang ini." ucap Ze.


"Ah aku ada ide." ucap Ze lalu tersenyum penuh misteri.


Tidak lama setelah itu Ze sudah berada di tepi sungai beserta para warga yang sudah berhasil dikumpulkan oleh Jin hu, Huo nan dan pria tua warga desa itu.


"Aku dapat membantu kalian semua tanpa biaya atau sejenisnya. Cukup satu syarat dariku yaitu, turuti semua yang aku katakan tanpa bertanya terlebih lagi membantah." ucap Ze tegas.


"Baik putri kami akan ikuti apapun yang putri katakan. Kami sudah tidak kuat lagi menghadapi penyakit ini." ucap seorang warga.


"iya benar." saut yang lainnya.


"Jika kalian sudah setuju dengan syarat dariku, kecuali anak di bawah umur lima tahun turun berendam di dalam air sungai. Saat aku selesai meneteskan cairan di botol ini (menunjukan botol berisi cairan racun untuk ulat parasit) rendam kepala kalian cukup sebentar saja." Ze mengarahkan para warga.


Tanpa banyak bicara lagi mereka turun semua ke dalam air sungai. Mereka sudah diyakinkan dengan melihat ulat halus yang keluar dari lengan pria yang merupakan warga desa Shang pertama yang di jumpai Ze tadi.


"Kau juga turun karena parasit yang keluar itu masih sangat sedikit. Hampir di sekujur tubuh kalian itu terdapat parasit." ucap Ze dan pria tadi turun tanpa membantah.


"Ingat satu hal yang penting. JANGAN SAMPAI AIR SUNGAI TERTELAN oleh kalian jika kalian masih belum ingin mengucapkan salam pada raja neraka." ucap Ze.


Ze mulai pindah ke bagian atas aliran air sungai dan mulai meneteskan cairan dari botol yang dia tunjukkan tadi ke dalam air sungai.


Warga yang melihat itu mulai merendam seluruh tubuh serta kepala mereka. Setelah beberapa saat mereka merasa gatal hampir di seluruh bagian tubuh mereka.


"Akh mengapa sangat gatal." keluh seorang warga.


"Jangan di garuk! parasit dalam tubuh kalian sebentar lagi akan keluar." Ucap Ze tegas.


Tidak lama setelah itu, semua orang termasuk Jin hu dan Huo nan terbelalak melihat permukaan air sungai kini berubah warna menjadi putih karena di penuhi ulat-ulat halus yang telah mati.


"Astaga.... apa itu?" seru seorang warga terkejut.


"Ya Dewa inikah sumber penderitaan kita?" tanya warga lainnya.


"Aku serasa ingin muntah melihat ulat sebanyak itu." gumam Huo nan.

__ADS_1


"Naiklah ke sini dan yan memiliki anak yang belum turun berendam, silahkan usap pelan tubuh anak-anak kalian dengan kain yang telah di celupkan pada air dalam wadah ini. Hati-hati saat mengusap area wajah jangan sampai terkena area dalam mulut seperti lidah." ucap Ze dan mereka melakukan apa yang Ze pinta.


"Baik putri." jawab mereka kompak.


"Astaga kenapa di tubuh anak-anak juga jumlahnya sangat banyak?" seru seorang warga yang sedang mengusap kulit putrinya.


"Siapa warga pertama yang mengalami wabah ini?" tanya Ze.


"Dia putra ketua Min." jawab seorang warga.


"Di mana dia sekarang?" tanya Ze.


"Di kuil yang di buat oleh sekte Api surga." jawab warga lain.


"Bawa aku ke tempat itu." ucap Ze.


"Mari putri." ajak seorang warga.


"Cukup seorang saja dari kalian yang ikut. Akan berbahaya jika ada yang ikut lagi." ucap Ze.


Ze akhirnya hanya pergi berempat bersama Jin hu, Huo nan, dan seorang warga.


"Mengapa kakak ipar berfikir kalau pergi ke kuil tempat sekte api suci itu sangat berbahaya?" tanya Huo nan.


"Aku menduga jika induk atau ratu dari ulat-ulat tadi ada pada tubuh inang pertama. Aku curiga bahwa sekte api suci merupakan dalang dari parasit yang menjangkit desa. Mereka membawa korban pertama bukan untuk menyembuhkannya tetapi, untuk menjaga dan merawat induk atau ratu dari parasit-parasit tadi." jelas Ze.


"Astaga itu artinya kami telah di bohongi oleh mereka." seru warga yang mengantar mereka.


"Kemungkinan besar ya kalian di tipu. Tidak hanya sekedar di tipu, kalian dijadikan tumbal untuk keuntungan sekte itu." jelas Ze.


"Kami pernah sekali bertemu kasus yang hampir serupa. Walau cara penumbalannya berbeda tapi, ini jelas sama-sama kasus kerja sama manusia atau kelompok manusia dengan iblis dan menumbalkan nyawa orang lain untuk memperoleh hasil dari kerja sama itu." jelas Ze.


"Apa hasil yang mereka dapatkan?" tanya warga tadi.


"Ada bermacam-macam tapi yang jelas itu pasti berhubungan dengan nafsu dan keserakahan manusia." jawab Ze.


"Bisa untuk kekayaan, kekuasaan, kecantikan atau ketampanan, keberlangsungan sebuah sekte, hidup abadi atau hal yang serupa itu." lanjut Ze menjelaskan.

__ADS_1


"Hanya untuk hal seperti itu mereka tega mengorbankan banyak nyawa?" tanya warga tadi dengan nada tidak percaya.


"Jika keserakahan sudah menguasai hati seseorang maka mereka tidak akan memiliki belas kasih lagi. Jangankan orang lain, orang terdekat bahkan keluarga sendiri dapat di tumbalkan." jelas Ze.


__ADS_2