Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
kilasan ingatan masa lalu Ze


__ADS_3

"Tapi wajah pemuda itu tidak pernah terlihat jelas setiap kali dia masuk ke dalam ingatan aku. Wajahnya hanya akan muncul dan terlihat samar hingga aku tidak mampu untuk mengenali dia. Aku jadi berpikir kalau pemuda itu adalah seorang yang mungkin sangat penting dalam hidup aku sebelum ingatan aku hilang."jawab Ze menjelaskan.


"Itu mungkin juga." saut Ruri.


"Karena, kemungkinan besar bayangan itu berasal dari ingatan yang tersembunyi di kepalamu. Orang yang sering muncul dalam ingatan samar mu itu kemungkinan besar adalah orang yang selalu ada di sekitarmu atau juga mendampingi mu selalu sebelum kau kehilangan memori tentang dirimu di masa lalu."jelas Ruri lagi.


"Tapi mengapa harus samar bayangan yang muncul di dalam ingatanku itu?" tanya Ze.


"Itu karena ingatan yang kau miliki masih belum kembali. Kau masih saja lupa atau kehilangan semua memori tentang masa sebelum kau mengalami musibah yang membuat dirimu berada di dalam negeri naga ini. Gambaran-gambaran samar yang kau selalu dapat dalam mimpi dan bayangan singkat kemungkinan besar adalah hal yang istimewa bagi dirimu." jawab Ruri berusaha untuk menjelaskan pada Ze.


"Tidak perlu kau terlalu memaksakan diri untuk mengingat lebih cepat tentang masa lalu mu dulu. Kau hanya akan memperburuk keadaan tubuh juga ingatan dirimu yang hilang justru akan semakin sulit untuk kau dapat mengingat itu." ucap Ruri saat melihat Ze masih asik termenung.


"Kau sudah bisa melihat bayangan samar tentang masa lalu-mu itu adalah hal yang bagus. Itu pertanda bahwa secara perlahan ingatanmu sudah mulai akan kembali." jelas Ruri berusaha menenangkan adik angkatnya itu karena melihat wajah sendunya.


"Iya kak. Kakak benar, semakin aku berusaha untuk mengingat, semakin aku tidak bisa mengingat apa-apa. Kepala ini juga akan terasa sakit." saut Ze membenarkan kata-kata kakak angkatnya itu.


"Itu kau sudah paham sendiri. Sekarang tidurlah dulu. Aku harus pergi menemui ayah untuk meminta beliau menghapus hukuman kakak Liyang agar kita memiliki peluang besar untuk membawamu keluar dari negeri naga ini." ucap Ruri sambil mengacak pelan puncak kepala Ze.


"Baik kak Ruri." jawab Ze lalu dia berbaring.


Setelah melihat Ze berbaring dan sudah terlelap, Ruri segera pergi dari gua itu. Ruri segera pergi menuju ke tempat orang tuanya untuk membujuk ayahnya agar memberi keringanan hukuman terhadap kakaknya Liyang.


Tidak terasa Ze tertidur hingga pagi dan saat Ze membuka mata, Ze mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.


"Mengapa aku merasakan aura pembunuh dari orang yang mendekat ke sini ini?" batin Ze. Ze segera bangkit dan bersembunyi di balik celah dinding gua yang terletak tidak jauh dari tempat dimana ia berbaring.


"Aku belum pernah bertemu atau pun membuat masalah apa pun dengan siapa pun di tempat ini. Selain Kak Ruri dan saudaranya Liyang, aku tidak mengenal siapa pun di seluruh negeri naga ini. Lalu mengapa ada orang yang memiliki niat membunuh ke arahku saat ini?" batin Ze.


Suara langkah kaki itu semakin mendekat dan aura membunuh dari orang yang semakin mendekat itupun semakin terasa kuat.


"Dimana gadis ja*ang itu?" suara bentakan seorang gadis dapat Ze dengar dari luar tempat persembunyiannya.


"Maaf putri, sepertinya gadis itu sudah tidak ada di dalam gua ini. Karena, kami sama sekali tidak merasakan kehadiran gadis itu di dalam gua ini." lapor seorang pria pada gadis yang terlihat sangat marah itu.

__ADS_1


"Apakah ada gadis lain yang sedang mereka cari dan mereka pikir gadis itu masuk ke dalam gua ini sehingga mereka mengejar hingga ke dalam gua? Atau jangan-jangan gadis yang dia sebut sebagai ja*ang itu aku. Karena sedari tadi aku tidak merasakan kedatangan seseorang lain selain mereka." batin Ze.


"Bagaimana dia bisa pergi dari tempat ini tanpa kalian sadari hah? Kalian prajurit terlatih dari ras naga dan ja*ang itu hanya seorang gadis dari ras manusia yang tidak memiliki kelebihan apapun selain merayu calon suamiku." gadis itu makin meninggikan suaranya terlihat dia sangat emosi saat ini.


"Cari gadis ja*ang hina itu segera sebelum Ruri dan kak Liyang tiba. Dia sedang terluka bukan, maka dia tidak akan bisa lari jauh. Cari dan bawa gadis ja*ang itu ke hadapanku jika tidak bisa membawa ja*ang itu hidup-hidup maka habisi saja gadis ja*ang itu." perintah gadis itu sambil menatap marah seluruh prajuritnya.


"Baik putri....!" Seru para prajurit itu lalu bergegas berjalan keluar dari gua untuk mencari sosok Ze.


Beruntung plakat dan cincin dari King Phoenix masih belum luntur khasiat pelindungnya. Sehingga prajurit dan gadis yang adalah hewan roh jenis naga itu tidak dapat merasakan kehadiran Ze di dalam gua itu.


"Dia sudah berani menggoda kak Liyang yang sudah di jodohkan dengan aku. Maka dia sungguh ingin mengikuti nasib ja*ang lainnya yang juga ingin merebut calon suamiku. Duoduo sudah aku amankan dengan menjadikan dia sebagai budak dari ras naga kejam yang tergila-gila dengan tubuh seorang gadis manusia. Aku tidak akan ragu untuk menjadikan gadis ja*ang itu sebagai budak nafsu ras naga liar itu saat aku berhasil mendapatkan dia hidup-hidup." gumam gadis itu namun masih dapat tertangkap telinga Ze.


Mendengar nama Duoduo di sebutkan oleh gadis itu, Ze paham mengapa dia menjadi incaran sekarang. Dia sedang menjadi target dari seorang gadis yang sedang cemburu.


"Itu artinya Duoduo masih hidup? Aku akan memberitahu kak Ruri tentang ini saat kami bertemu nanti. Sekarang saatnya aku memikirkan cara untuk bisa menyelamatkan diri dari gadis ras naga itu dan para prajuritnya. Sebelum mereka menyadari keberadaan aku di sini." batin Ze.


Ze tiba-tiba teringat saat dirinya menjadi incaran Liu sia dan keluarga Duo saat di hutan belakang gua Si hui tu. Ze mengingat semua kejadian itu dan mengernyit heran.


Ze kembali merasa lemah dan segera mengeluarkan daun yiyang dari cincin penyimpanan miliknya. Ze kembali teringat saat Jin hu memberikan cincin itu pada dirinya.


"Cincin ini pemberian pemuda yang selalu muncul dalam mimpi juga kadang muncul dalam kilasan samar tentang masa laluku itu." batin Ze.


Ze lalu memakan daun yiyang itu dan saat merasakan dirinya sudah lebih baik, dia mengintip dan semua orang sudah keluar dari gua itu.


"Sebaiknya aku keluar dan mencari tempat persembunyian yang lebih aman sebelum mereka semua kembali dan menemukan aku di dalam gua ini. Aku sangat yakin jika mereka tidak menemukan aku di luar sana, mereka akan berpikir untuk kembali menyisir gua ini untuk menemukan aku." gumam Ze lalu melangkah secara perlahan keluar dari tempat persembunyiannya.


Saat Ze sudah di mulut gua, Ze dapat melihat orang-orang itu berpencar menyisir setiap tempat sekitar gua itu. Ze melihat pohon besar di dekat gua dan segera berlari ke balik pohon itu.


Ze melihat satu dari prajurit itu mendekat dan segera memegang belati pemberian Ruri sebelumnya. Ze menunduk dan bersiap untuk membungkamnya jika prajurit itu sudah tepat di depannya.


Ze membekap mulut dan menyayat dalam leher prajurit itu dan membiarkan tubuhnya menggelepar di tanah. Melihat darah segar dari leher serta tubuh bergetar prajurit itu, Ze kembali terbayang saat dia melakukan penyerangan di hutan saat menyelamatkan permaisuri pertama dari Raja Ruo.


"Apa semua itu? Apakah aku seorang pembunuh sadis? Mengapa ada banyak pembunuhan dalam ingatanku sekarang?" gumam Ze.

__ADS_1


Ze menutupi tubuh dari prajurit yang mati itu dengan semak lalu bayangan tentang cairan pelebur yang membuat jazad melebur menjadi debu muncul dalam ingatan Ze.


"Cairan apa itu? Oh apakah aku memiliki itu pada cincin penyimpanan ini?" gumam Ze sambil menatap cincin pemberian Jin hu.


"Tidak ada di dalam sana." gumamnya lagi saat mengintip isi dari cincin itu.


Ze kembali fokus pada orang-orang yang sedang mencari keberadaannya saat ini. Ze berpindah tempat ke balik pohon lainnya tanpa di sadari oleh mereka semua.


Saat menghela napas Ze memegang dada atas dekat lehernya dan tidak sengaja menyentuh batu dimensi di lehernya itu.


"Ini batu apa? Mengapa aku mengenakan ini sebagai bandul kalung?" gumam Ze.


"Sudahlah mungkin ini benda berharga dan harus aku yang memilikinya. Sebaiknya aku fokus pada orang-orang yang sedang mengincar nyawaku itu. Oh apakah aku salah menyebutkan. Mereka hewan roh, harusnya aku menyebutkan hewan-hewan yang sedang mengincar nyawaku itu." gumam Ze kesal.


Hai para pembaca setia novel


"pindah dimensi membalaskan dendam putri yang tertindas"


Terima kasih atas segala bentuk dukungan yang telah kalian berikan untuk kelangsungan cerita dalam novel


"pindah dimensi membalaskan dendam putri yang tertindas" ini.


Jangan lupa untuk tetap memberikan dukungan kalian dengan tetap memberikan


vote, like dan komen buat novel kesayangan kita ini.


salam hangat dari author


selamat membaca dan semoga hari kalian menyenangkan.


Terima kasih


Author

__ADS_1


__ADS_2