Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Persiapan pernikahan Ze dan Jin hu


__ADS_3

Jin hu memasuki ruangan dan langsung melangkah ke tempat duduk khusus untuk dirinya. Para wakil dan para menteri segera duduk juga menempati tempat mereka masing-masing.


"Katakan apa yang kalian butuhkan atau ada masalah apa?" tanya Jin hu langsung.


"Apakah pernikahan Yang Mulia Tuan Jin hu dapat di undur untuk mempersiapkan segala ritual yang di butuhkan? Karena, kami tidak ingin segala sesuatunya yang dibutuhkan terlupakan karena waktu yang singkat." pinta seorang pria yang duduk tepat di sebelah kanan Jin hu.


"Tenang, aku sudah menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk ritual itu. Kalian hanya perlu menyiapkan pesta untuk pernikahan kami." ucap Jin hu yang sangat paham dengan tradisi yang wajib dia lalui untuk dapat menikah sebagai seorang pemimpin Istana atas awan yang memang ajaib.


"Tuan sudah memerintahkan aku dan Liu yu untuk mencari segala yang dibutuhkan untuk proses ritual itu sebelum kami berpisah di hutan Fujian. Jadi wajar kalau semua sudah siap." batin Wen yuan yang sedang berdiri di belakang Jin hu.


"Baik Yang Mulia, kami semua akan menyiapkan pesta terbaik untuk Yang Mulia dan Tuan Putri Jin." ucap para menteri sambil menghela napas lega karena semua kekhawatiran mereka tentang Jin hu yang akan tidak peduli tentang ritual pernikahan itu ternyata tidak benar.


Mereka sangat yakin bahwa, jika Jin hu memaksa untuk menikah tanpa mengikuti ritual turun temurun Istana atas awan untuk keluarga kerajaan, maka akan ada bencana besar yang akan melanda kerajaan atas awan.


"Semua sudah selesai atau masih ada masalah lain yang harus dibahas?" tanya Jin hu.


"Beberapa bulan ini kita memperoleh banyak temuan berharga di dalam hutan Suci. Akan kita apakan benda tersebut?" tanya pria yang duduk di sebelah kanan Jin hu.


"Kita tidak dalam keadaan memerlukan uang bukan? Simpan benda tersebut dalam gudang penyimpanan saja dulu. Aku akan memeriksa semua nanti." ucap Jin hu.


"Baik Yang Mulia." saut pria itu.


"Masih ada?" tanya Jin hu.


"Tidak ada Yang Mulia." jawab semua.


"Kembali pada tugas kalian dan tentu tugas untuk persiapan pernikahan aku juga." ucap Jin hu.


"Baik Yang Mulia." saut mereka lalu semua keluar dari ruangan setelah Jin hu memberi mereka isyarat untuk keluar dengan kibasan tangan.

__ADS_1


"Periksa tempat kakek dan nenek Shi, paman serta tempat bibi. Pastikan semua yang mereka butuhkan tersedia lalu kau boleh beristirahat." ucap Jin hu pada Wen yuan.


"Baik Tuan." saut Wen yuan yang menunduk sebentar ke arah Jin hu lalu pergi.


"Sebaiknya aku melihat apa yang sedang di lakukan Ze. Membosankan tanpa dia." ucap Jin hu lalu melangkah pergi menuju kediaman pribadinya tempat Ze saat ini berada.


Sedangkan di posisi Ze, saat Ze hendak melangkah masuk ke dalam bangunan kediaman pribadi Jin hu, Ze terdiam dan memberikan isyarat pada wanita yang mengikutinya itu untuk tidak bersuara dengan menaruh telunjuknya di depan bibirnya.


Ze tidak sengaja mendengar nama Jin hu di sebutkan oleh seseorang dari balik sebuah pohon. Ze menyimak apa yang mereka bicarakan seperti dua orang yang sedang berbicara dengan satu orang yang terdengar sedang menangis.


"Sudahlah Hia ling, bukankah Yang Mulia Tuan Jin hu memang tidak pernah memberi harapan buatmu untuk menjadi pendamping dirinya selama ini? Mengapa kau harus sakit hati dengan kabar gembira dari Yang Mulia ini?" tanya gadis yang satu.


"Tapi, selain aku selama ini Yang Mulia tidak pernah menjawab sapaan gadis lain. Bahkan orang lain menganggap bahwa aku akan menjadi calon permaisuri hiks hiks hiks." protes gadis bernama Hia ling itu dengan tangisnya.


"Itu karena hanya kau yang berani menyapa Yang Mulia Tuan Jin hu selama ini. Apakah kau pernah bersentuhan dengan Yang Mulia selama ini?" tanya teman bicara Hia ling itu.


"Tidak bukan? Maka kau harus merelakan Yang Mulia Tuan Jin hu bersama dengan gadis yang dapat menyentuhnya bahkan yang mulia lah yang menyentuh gadis itu." saran teman Hia ling itu.


"Terserah padamu saja. Ingat untuk menanggung resiko jika dugaan mu itu salah." ucap temannya itu.


"Aku yakin dapat menyingkirkan gadis penggoda itu dari sisi Yang Mulia. Aku adalah calon permaisuri yang sesungguhnya dari Istana atas awan ini." ucap yakin gadis bernama Hia ling itu.


Pelayan yang bersama Ze ingin memaki gadis itu namun Ze menghentikan langkah wanita itu. Dia melanjutkan langkahnya memasuki bangunan milik Jin hu diikuti oleh wanita yang menjadi pelayannya itu.


"Mengapa aku masuk ke dalam bangunan ini. Ya Dewi, tamat riwayatku kali ini." ucap wanita itu dengan nada ketakutan.


"Tidak akan ada yang terjadi padamu. Aku akan menjamin ucapan yang aku lontarkan ini." ucap Ze.


Ze melangkah menuju kamar kecil di samping bangunan itu. Kamar kecil atau kamar mandi memiliki bangunan terpisah dari kediaman pribadi. Setelah Ze selesai dengan urusan di kamar mandi, Ze kembali ke dalam ruangan tempat pelayan wanita itu menunggunya dengan wajah penuh keringat.

__ADS_1


"Tidak perlu cemas tentang kak Jin hu. Tidak akan terjadi apapun padamu selama aku di sini." ucap Ze berusaha menenangkan wanita pelayan itu.


"Gampang untukmu mengatakan itu karena bukan nyawamu yang akan menjadi taruhan di sini putri." batin wanita itu.


Langkah kaki yang terdengar mendekat membuat pelayan wanita itu semakin ketakutan. Dapat terdengar oleh Ze detak jantung dari wanita itu sangking ketakutannya.


"Kau suka dengan bangunan ini sayang?" tanya Jin hu seraya melangkah mendekati Ze.


"Ma maafkan ham ba Tuan...." ucapan wanita itu terhenti oleh ucapan Ze yang menyelanya tiba-tiba.


"Aku yang menyuruh dia masuk ke dalam ruangan ini." ucap Ze menyela ucapan pelayan wanita yang tengah ketakutan setengah mati itu.


"Jika itu keinginan dari Tuan putriku tersayang, maka itu sama saja dengan perintah wajib dariku." ucap Jin hu membuat pelayan wanita itu merasa seolah baru mendapatkan oksigen.


"Kau tunggu di luar saja dulu. Aku akan memanggilmu saat kami membutuhkan dirimu." ucap Jin hu dan pelayan itu segera keluar dari ruangan itu.


"Aku kira Tuan putri Jin hanya membual soal aku akan baik-baik saja. Ternyata memang arti dari Tuan putri Jin bagi Yang Mulia sangat penting. Terima kasih Tuan putri Jin, aku akan menjadi pelayan setia untukmu selama hidupku." batin pelayan itu sambil melangkah ke luar dari ruangan itu.


Hai kalian semua para pembaca dan pendukung setia novel


"Pindah dimensi membalaskan dendam putri yang tertindas"


Jangan lupa untuk tetap terus semangat untuk memberikan dukungan pada novel kesayangan kita ini.


Vote, like dan komen sangat berharga bagi kelangsungan novel ini.


Dukung terus Ze dan Jin hu


Selamat membaca dan semoga kalian selalu sehat dan bahagia.

__ADS_1


salam hangat dan sayang dari Author


Terima kasih


__ADS_2