
Raja Ruo semenjak istri pertama yang dia sayangi meninggal, pencapaiannya terhenti di situ saja. Karena kesedihan yang mendalam membuat dirinya kurang fokus hingga saat ini semua itu masih berdampak pada pencapaiannya.
Meski dia telah mencoba merelakan kematian istri tercintanya itu, pencapaiannya pun masih tetap tidak bisa meningkat.
Bahkan pencapaian asli Jin hu yang dia sembunyikan sudah mampu melampaui pencapaian gurunya itu. Tapi, demi kesopanan dan karena sudah menganggap Raja Ruo sebagai ayah, Jin hu selalu menganggap Raja Ruo adalah guru.
"Apakah kau sedang bergurau denganku?" tanya Raja Ruo tidak percaya.
"Apakah saat ini anda sedang meragukan kemampuanku?" tanya Ze balik.
"Tentu aku tidak berani meragukan kemampuan dari putri Ze. Tapi, pencapaianku sudah tidak mendapat terobosan sejak lama meski sekuat apa pun aku mencobanya." jawab Raja Ruo membuat para petinggi kerajaan yang hadir makin terkejut.
Sejak kapan seorang Raja Ruo tidak berani pada seorang gadis? Mereka sudah menandai Ze sebagai orang yang tidak akan mereka singgung. Seorang Raja Ruo saja tidak berani menyinggung perasaannya.
"Itu karena sejak Yang mulia mengalami tekanan batin yang kuat, aliran darah dan energi di tubuh Yang mulia juga menjadi tertekan dan akhirnya kacau hingga menutup beberapa titik syaraf yang sangat penting untuk aliran energi saat ingin menerobos pencapaian. Minum secara rutin ramuan itu selama seminggu dan aku akan membuka titik-titik syaraf itu saat aku kembali." jelas Ze.
"Baiklah." jawab Raja Ruo.
"Maaf tapi kami harus pergi segera agar kami dapat menemukan bahan ramuan terakhir yang kami butuhkan." ucap Ze.
"Ya pergilah dan tetap berhati-hati." ucap Raja Ruo lalu berdiri.
"Iya." ucap Ze dan berbalik pergi.
"Aku pergi dulu guru." pamit Jin hu.
"Ya hati-hati dan jaga calon istrimu itu baik-baik." ucap Raja Ruo.
"iya." jawab Jin hu mereka berpelukan lalu Jin hu segera menyusul Ze.
Mereka berdua menaiki kereta dan pergi dari kawasan istana api penyucian.
"Perjalanan ke desa Guoin masih ada sekitar 2 dupa (4 jam) lamanya." ucap Jin hu.
__ADS_1
"Istirahatlah jika kau lelah." lanjutnya lagi.
"Ya aku akan beristirahat dulu." ucap Ze lalu berbaring di samping Jin hu.
Setelah kurang lebih 4 jam perjalanan akhirnya mereka memasuki desa Guoin yang menjadi tujuan mereka. Ze sudah terbangun sesaat sebelum kereta memasuki kawasan desa Guoin.
Ze mengintip melalui jendela samping kereta dan terpesona dengan pemandangan indah dari desa itu. Karena diapit oleh hutan dan gunung udara di sana terasa segar.
"Desa ini terbilang sangat sepi sebagai desa yang indah dan asri." ucap Ze.
"Ya memang benar desa Guoin ini indah dan udaranya segar. Tapi, ini justru tempat paling mematikan." saut Jin hu membuat Ze menatapnya dengan kening berkerutnya.
"Mematikan?" tanya Ze memastikan.
"Ya mematikan, desa Guoin ini dikenal dengan desa indah namun mematikan. Karena, desa ini adalah desa yang diapit oleh sarang perampok dan sarang pemberontak.
Gunung di sebelah kanan kita adalah sarang kelompok perampok terkenal sadis dan Hutan di depannya yang menjadi tujuan kita adalah sarang pemberontak terbesar dan yang paling bertahan lama di kerajaan ini." jelas Jin hu dan Ze menyimaknya dengan serius.
"Jika hutan di sana adalah sarang pemberontak dan permaisuri saat ini menyekap permaisuri terdahulu di sana, maka besar kemungkinan para pemberontak ini ada hubungannya dengan permaisuri saat ini dan kerajaan ayahnya atau bahkan mereka adalah dalang atau atasan dari kelompok pemberontak itu." tebak Ze.
"Keluarga picik sekali mereka itu. Aku yakin saat permaisuri pertama kembali dan pangeran Rong yuo pulih, pemberontakan kembali bergejolak." ucap Ze mengutarakan pemikirannya.
"Ya kita sepemikiran tentang itu. Aku juga berfikir demikian karena sangat aneh sejak permaisuri saat ini terangkat dari selir menjadi permaisuri, pemberontak yang masih ada hanya berdiam di tempat tanpa pergerakan sedikit pun." jelas Jin hu.
"Sebaiknya kau berganti pakaian layaknya pria saja untuk berjaga-jaga. Karena wanita akan sangat mencolok di tempat ini." saran Jin hu.
"Baik aku akan masuk ke dalam batu dimensi untuk berganti pakaian." ucap Ze lalu segera masuk ke dalam batu dimensi.
"Beruntung aku memasukkan beberapa pakaian pria ke dalam sini sebelumnya." ucap Ze sambil berganti pakaian dengan pakaian pria.
Ze mengenakan pakaian berwarna biru gelap dan mengikat rambutnya ke atas membuatnya terlihat seperti pria kecil yang cantik. Ze lalu keluar dari batu dimensi membuat Jin hu terkesima melihatnya.
"Mengapa dia justru terlihat semakin sangat menggemaskan dengan pakaian pria?" gumam Jin hu sambil menatap tanpa berkedip Ze.
__ADS_1
"Kak Jin hu." panggil Ze sambil menepuk pundak Jin hu membuatnya terkejut. Karena malu wajah Jin hu terlihat memerah.
"Mengapa wajahmu memerah?" tanya Ze.
"Ini terlalu panas." jawab Jin hu.
"Udara di sini saat ini begitu dingin jika kau lupa." protes Ze.
"Maksud aku wajah aku terasa panas mungkin masih efek dari ramuan yang aku minum." bohong Jin hu.
"Iya kah?" tanya Ze dan Jin hu mengangguk.
"Baik mungkin seperti itu." ucap Ze.
"Sebaiknya mulai dari sini kita berjalan saja. Naik kereta akan menarik perhatian perampok dan perompak." ucap Jin hu.
"Ya ayo kita turun saja dulu." saut Ze.
Mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki untuk menghindari perhatian kedua kelompok berbahaya itu.
"Sebaiknya kita menelan pil penyamaran agar tidak di sadari oleh mereka" ucap Ze dan mereka segera menelan pil penyamaran bersama.
Mereka memasuki hutan dengan lincah melompati setiap dahan untuk memantau sekitar mereka memutuskan memasuki hutan dari atas pohon. Dari dahan satu ke dahan yang lain mereka berpindah dengan lincah tanpa meninggalkan suara gaduh juga.
Setelah lama dan cukup dalam memasuki hutan, mereka akhirnya melihat beberapa orang yang sedang berkeliling hutan seperti sedang berpatroli.
Mereka mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala dan ikat pinggang warna merah. Ze mengkode Jin hu untuk menyingkirkan mereka satu persatu.
Ze mengeluarkan belati miliknya dan mulai menyerang sembunyi sembunyi para pemberontak yang ada.
Ze perlahan turun dari pohon dan menagkap satu orang membekap mulut dan dengan gerakan cepat mengiris leher orang yang dia dapatkan.
Jin hu juga turun dari pohon tanpa senjata Jin hu hanya mematahkan leher orang yang dia dapat dengan tangan kosong sekali putar ataupun tekuk lawannya tumbang.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya
Vote like dan komentmu sangat berarti buat author