Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Hui tu adalah telur


__ADS_3

"Tolong jagakan ayahku sebentar. Aku dan kak Jin hu akan masuk ke dalam batu dimensi." jawab Ze.


"Baik kakak ipar. Kakak ipar tidak perlu khawatir aku akan menjaga ayah kakak ipar." jawab Huo nan.


"Hm terima kasih sebelumnya untuk itu." ucap Ze lalu dia fan Jin hu segera masuk ke dalam batu dimensi bersama-sama.


Ze berjalan menuju batu tapa di mana dia meletakkan telur segel dari jiwa Hui tu. Jin hu hanya mengikuti langkah Ze di sampingnya.


"Kau lihat benda berbentuk telur itu?" tanya Ze sambil menunjuk telur segel Hui tu.


"Ya aku melihatnya. Ada apa dengan benda itu?" tanya Jin hu.


"Aku mengambil telur itu dari dalam akar pemakan roh di pintu masuk gua Si hui tu. Apakah kau ingat saat itu aku masuk ke dalam akar pemakan roh saat gua Si hui tu terbuka?"tanya Ze.


"Iya aku ingat, saat kau keluar dari dalam akar pemakan roh kau hanya membawa beberapa buah batu sejati tingkat istimewa bersamamu." jawab Jin hu.


"Aku juga mengambil telur ini dan menaruhnya langsung ke dalam batu dimensi dengan beberapa batu sejati tingkat istimewa dan ramuan herbal langka. Aku membawa keluar batu-batu sejati yang kau lihat saat itu agar tidak ada yang curiga tentang batu dimensi dan tentang seberapa banyak harta yang aku peroleh dari dalam sana." jelas Ze.


"Apakah keistimewaan dari telur ini?" tanya Jin hu.


"Tidak lama setelah aku mengambilnya telur itu mulai berbicara kepadaku dan hanya aku yang dapat mendengar suaranya. Telur inilah yang memberi petunjuk tentang ruangan yang memiliki harta berharga di dalam gua Si hui tu. Telur ini juga yang menyelamatkan aku dari serangan paman dari putri Lui sia saat di hutan. Seandainya telur ini tidak ada saat itu, maka aku sudah tidak bernyawa lagi saat kau menemukan aku saat itu." jawab Ze.


"Telur ini adalah penyelamatku saat itu dan telur inilah yang disebut Hui tu oleh ayah tadi." jelas Ze.


"Telur berbicara? Hui tu? Aku masih belum paham." tanya Jin hu.


"Di dalam telur ini ada jiwa seseorang dengan kemampuan tinggi. Jiwanya disegel di dalam sana setelah dia berhasil dikalahkan dengan cara licik oleh seseorang." jawab Ze.


"Lalu, jiwa siapa itu yang tersegel di dalam sana? Apakah orang itu bernama Hui tu? Karena itu kau memanggilnya Hui tu?" tanya Jin hu.


"Ya nama orang yang jiwanya tersegel di dalam sana adalah Hui tu dan marganya adalah Si." jawab Ze.


"Tunggu dulu. Apakah tadi kau mengatakan jika marga orang itu adalah Si?" tanya Jin hu hampir tidak percaya.


"Ya Si hui tu adalah nama asli dari orang itu. Dia adalah pemilik istana Si hui tu yang diubah menjadi gua Si hui tu." jawab Ze.


"Hui tu adalah telur?" tanya Jin hu.


"Ya." jawab Ze.


"Lalu mengapa dia tidak berkomunikasi dengan kita saat ini?" tanya Jin hu penasaran.

__ADS_1


"Saat ini dia sedang bertapa. Dia sudah seperti ini semenjak kompetisi alkemish waktu itu selesai" jawab Ze.


"Oh jadi saat ini dia sedang bertapa? untuk apa dia menjalani tapa? Bukankah dia hanya tinggal roh saja?" tanya Jin hu.


"Agar dia cukup kuat untuk dapat melepaskan diri dari segel telur itu dan memilih tubuh sesuai untuk dia tempati. Dia ingin membalaskan dendamnya pada orang yang telah membuat dirinya menjadi seperti itu." jawab Ze.


"Hm sekarang aku paham." ucap Jin hu.


"Ayo kita kembali." ajak Ze.


"Ayo." saut Jin hu.


"Aku tidak tenang meninggalkan ayah lama dalam kondisi lemah dan terluka seperti itu." jelas Ze.


"Hm hal wajar jika kau seperti itu. Karena, paman memang sedang terluka." saut Jin hu.


Mereka melangkah menuju jalan keluar dari batu dimensi. Tapi saat mereka akan mencapai batas batu dimensi, selangkah lagi keluar dari sana, Ze menghentikan langkahnya.


"Tunggu dulu kak Jin hu." seru Ze.


Wajahnya tampak seolah sedang mengingat sesuatu dan mencarinya.


"Ada apa Ze? Apakah ada yang salah?" tanya Jin hu heran.


"Cece? Untuk apa kau mencari tanaman rohmu itu?" tanya Jin hu.


"Aku membutuhkan buah emasnya untuk ayah." jawab Ze.


"Buah emas itu? Apakah paman membutuhkannya?" tanya Jin hu.


"Buah dari Cece dapat mempercepat pemulihan dan meningkatkan fungsi penyembuhan dari pil yang aku akan berikan pada ayah." jelas Ze.


"Mengapa kau jadi suka bertanya hm? Kau jadi seperti Huo nan sekarang." gerutu Ze.


"Aku rasa kau sudah tertular penyakit ingin tahu dari Huo nan." ucap Ze dan Jin hu hanya dapat tersenyum menanggapi ucapan Ze yang sedang protes kepadanya.


Ze berjalan menuju tempat biasanya Cece berdiam dan benar saja dia ada di sana.


"Cece?" panggil Ze.


"Srak srak srak." Cece bergerak saat mendengar panggilan Ze.

__ADS_1


"Tu tu tu." panggil Cece yang artunya tuan.


"Bisa aku meminta buah emasmu untuk ayahku yang sedang terluka?" pinta Ze.


"Bi bi bi tu tu tu." jawab Cece yang berarti bisa tuan, lalu memberikan sebutir buah ceri berwarna emas pada Ze.


"Terima kasih Cece." ucap Ze.


"sa sa sa." jawab Cece yang artinya sama-sama.


"Aku harus segera kembali ke ayah kau baik-baik di dalam sini oke Cece?" ucap Ze.


"Ba ba ba tu tu tu." jawab Cece yang artinya baik tuan.


Ze lalu melangkah menghampiri Jin hu berada dan keluar dari batu dimensi.


"Kakak kedua, kakak ipar, kalian sudah kembali." ucap Huo nan saat melihat Jin hu dan Ze.


"Iya. Apakah ayahku masih tertidur?" tanya Ze.


"Iya kakak ipar. Grand master Ji masih belum bangun dari tadi." jawab Huo nan.


"Hm kak Jin hu bisa tangkapkan ikan itu?" tanya Ze sambil menunjuk ikan besar yang sedang berenang di tepi sungai jernih di dekatnya.


"Tentu bisa. Kau ingin ikan bakar lagi? aku akan membakarnya untuk dirimu." tanya Jin hu.


"Aku ingin membuat bubur untuk ayah." jawab Ze.


"Bubur? Bukankah kita tidak membawa beras dan wadah untuk memasak bubur?" tanya Huo nan bingung.


"Ah aku sudah menyiapkan segala keperluan jauh-jauh hari agar saat aku mengalami saat-saat sulit seperti ini aku masih memiliki bekal." ucap Ze lalu mengambil bahan dan alat yang dia butuhkan untuk memasak bubur.


"Wah kakak ipar. Kau sungguh seorang yang tak hanya beruntung tapi juga seorang yang jenius." puji Huo nan.


"Ini daging ikan yang kau butuhkan untuk bubur. Aku sudah menyisihkan tulang dan kulit serta telah mencincang halus agar gampang di campur dalam bubur." ucap Jin hu sambil memberikan pada Ze daging ikan yang dia maksud tadi.


"Kak Jin hu yang terbaik." puji Ze membuat Jin hu tersenyum.


"Aku juga sudah menyiapkan ikan untuk di bakar. Huo nan itu menjadi tugasmu untuk membakarnya." ucap Jin hu.


"Baik kakak kedua. Aku akan membakar ikan untuk kita semua." jawab Huo nan.

__ADS_1


jangan lupa tetap dukung Author dengan


Vote, like dan koment


__ADS_2