Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
rencana Ruri 2


__ADS_3

Sebenarnya dia sengaja menyebutkan itu pada kakaknya agar saat ayah mereka memberikan ijin untuk memasuki kawasan tapa mereka di negeri hewan roh Suci, kakaknya Liyang bisa menerima itu dengan senang hati demi untuk mendapatkan daun yiyang kapan pun dan sebanyak apapun yang mereka butuhkan.


"Soal daun yiyang ini, berapa lama waktu yang tersisa untuk persediaan daun yiyang yang ada akan habis?" tanya Liyang dengan wajah serius menatap adiknya.


"Hanya dua hari paling lambat dan bisa jadi sehari saja jika kondisinya memburuk." jawab Ruri.


"Kau fokus saja untuk perawatan dia agar tubuhnya tetap dalam keadaan baik-baik saja. Soal energinya yang terkuras dan daun yiyang, aku yang akan mengupayakan agar dapat mendapatkan daun yiyang itu. Apa pun akan aku lakukan untuk Duoduo agar tetap dapat bertahan hidup.Tidak hanya sekedar bertahan hidup, tapi dia harus bisa hidup dengan baik." ucap Liyang yakin.


Setelah itu mereka berdua kembali ke tempat di mana Ze saat ini sedang asik menyaksikan pemandangan yang sangat indah dan juga memenangkan di depannya.


"Ayo kembali ke gua. Kau masih tidak boleh terlalu kelelahan. Kau masih butuh banyak istirahat agar kondisi kesehatan tubuhmu tidak menurun." ajak Liyang.


Sebenarnya Ze ingin menolak tapi Ruri memberikan kode mengingatkan dia dengan rencana untuk berlaku baik pada Liyang dan harus terlihat sangat lemah agar Liyang tidak waspada dengan kemungkinan Ze akan melarikan diri dari sisinya.


Ze hanya bisa mengangguk lemah. Liyang tiba-tiba menunduk meraih tubuh Ze dan segera mengangkat tubuh Ze ala bridal style membuat Ze terkejut. Ze berusaha menahan kesal karena tubuhnya di angkat tiba-tiba tanpa ijin terlebih dahulu.


" Mengapa aku merasa sangat ingin memenggal leher pria ini? Apakah diriku yang sebenarnya adalah seorang wanita yang kejam?" batin Ze karena memiliki keinginan menghabisi nyawa orang yang dia tidak sukai.


Mereka bertiga hanya terdiam di dalam perjalanan menuju ke dalam gua tempat Ze harus beristirahat selama beberapa hari lagi sebelum dia berhasil keluar dari negeri naga itu dengan bantuan dari kakak angkatnya tentunya.


"Beristirahatlah jangan terlalu banyak bergerak agar kau tidak terlalu lelah." Ucap Liyang lembut sambil tersenyum hangat pada Ze dan tangannya mengelus lembut kepala Ze.


"Hm." hanya di jawab deheman oleh Ze sambil memaksa bibirnya melengkung lalu segera berbaring agar Liyang tidak lebih lama mengajak dia berbicara.


"Aku harus menyelesaikan hukuman dari ayah agar dapat memasuki kawasan tapa ras naga di dalam negeri hewan roh Suci. Jika tidak, aku terpaksa masuk melalui kawasan tapa dari hewan roh Suci yang lain di negeri roh Suci untuk mengambil daun yiyang." ucap Liyang.


"Ya aku akan mencoba untuk membujuk ayah agar mau menghapus hukuman kakak. Aku yakin sekali jika aku yang membujuk ayah, ayah pasti akan mendengarkan." saut Ruri.


"Terima kasih. Kau memang benar, ayah selalu mendengarkan dan menyetujui permintaan dari anak penurut nya ini." saut Liyang sambil tersenyum dan mengacak pelan puncak kepala adiknya itu.

__ADS_1


"Aku pergi dulu." pamit Liyang lalu melangkah pergi dari gua itu setelah sebelumnya dia menoleh ke arah Ze yang terlihat sudah terlelap.


Ze segera membuka mata dan terduduk setelah yakin bahwa Liyang sudah jauh dari sana. Ruri hanya menggeleng-geleng kan kepala sambil tersenyum melihat Ze yang sudah terduduk sambil tersenyum.


"Kau sebaiknya beristirahat. Aku akan mengunjungi tempat ayah dulu untuk membujuk ayah agar beliau mau menghapus hukuman kakak Liyang. Jika kakak Liyang sudah pergi ke dalam negeri hewan roh Suci, kita memiliki banyak peluang untuk mengeluarkan dirimu dari negeri naga ini saat kau pulih nanti." ucap Ruri lembut pada Ze.


"Baik kak." saut Ze sambil memasang senyum manisnya.


"Ambil daun Yiyang ini dan simpan dalam cincin penyimpanan yang kau gunakan itu. Hanya untuk berjaga-jaga, ambil senjata ini (menyerahkan tiga buah pisau kecil dan sebuah belati yang lebih besar pada Ze) kau harus berhati-hati menggunakan senjata ini, karena ke empat senjata ini telah aku lumuri racun yang mematikan." ucap Ruri sambil memberikan peringatan tentang senjata pemberiannya itu.


Saat memegang belati pemberian dari kakak angkatnya itu, Ze teringat akan sesuatu namun ingatan itu masih agak samar di memorinya. Ze melihat seorang gadis memegang dua belati dan menggunakan belati miliknya itu untuk memotong nadi pada leher lawannya.


"Akh...!" pekik Ze karena tiba-tiba sakit kepala kembali menyerangnya.


"Ada apa?" tanya Ruri khawatir.


"Apakah kepalamu kembali terasa sakit?" tanya Ruri lagi.


"Jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat semua dalam waktu singkat. Perlahan ingatan masa lalu mu itu akan kembali juga jadi cobalah secara perlahan saja. Jika kau terlalu memaksakan diri untuk dapat mengingat semua lebih cepat, kau pasti akan menderita sakit kepala yang hebat karena memaksa otakmu ini untuk bekerja terlalu kuat untuk menggali ingatan yang terkubur." ucap Ruri memberikan penjelasan pada Ze dan menasehati Ze agar membiarkan ingatannya kembali secara perlahan dengan sendirinya.


"Ya kak. Terima kasih atas nasehat kakak." ucap Ze.


"Dasar kau ini. Kau tidak menganggap aku kakak kalau kau masih mengucapkan terima kasih atas apa yang telah aku lakukan untuk dirimu. Sebagai seorang kakak, itu sudah tugasku untuk menjaga, merawat, menasehati dan menyayangimu." protes Ruri sambil mencubit ujung hidung Ze membuat Ze kembali mendapatkan sekelebat ingatan samar di mana seorang pemuda mencubit pelan ujung hidungnya dengan senyuman dan tatapan penuh kasih.


"Siapa sebenarnya pemuda yang selalu masuk dalam mimpiku juga muncul dalam sekelebat ingatan samar ku di setiap saat itu? " tanya Ze dalam hati.


"Apakah mungkin dia adalah seorang yang sangat penting juga spesial dalam hidupku sebelum aku lupa dengan jati diriku yang sesungguhnya? " Ze masih terus membatin mencoba menggali ingatan yang tersembunyi tentang pemuda yang selalu terbayang namun samar dalam ingatannya itu.


"Jika memang benar seperti itu, maka aku harus mencari pemuda itu segera untuk mencari tahu tentang jati diriku yang sesungguhnya." batin Ze yang masih asik dalam lamunannya membuat Ruri menegurnya.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau lamun kan adik kecil?" tanya Ruri sambil menepuk puncak kepala Ze membuyarkan lamunan Ze.


"Bukan apa-apa kak. Aku hanya baru saja mendapatkan bayangan samar tentang seseorang yang selalu melakukan hal sama dengan yang kakak lakukan barusan." jawab Ze.


"Apa yang telah aku lakukan yang kau maksud?" tanya Ruri penasaran.


"Mencubit pelan ujung hidungku sambil tersenyum hangat." jawab Ze.


"Tapi.... " Ze ragu untuk meneruskan kalimatnya.


"Tapi apa?" tanya Ruri makin penasaran.


"Tapi wajah pemuda itu tidak pernah terlihat jelas setiap kali dia masuk ke dalam ingatan aku. Wajahnya hanya akan muncul dan terlihat samar hingga aku tidak mampu untuk mengenali dia. Aku jadi berpikir kalau pemuda itu adalah seorang yang mungkin sangat penting dalam hidup aku sebelum ingatan aku hilang."jawab Ze menjelaskan.


Hai pembaca setia novel


"pindah dimensi membalaskan dendam putri yang tertindas"


Jangan lupa untuk tetap terus mendukung kelanjutan cerita dari novel


"pindah dimensi membalaskan dendam putri yang tertindas"


dengan memberikan Vote, like dan komen kalian.


selamat membaca dan semoga hari kalian menyenangkan.


salam hangat dari author


Terima kasih

__ADS_1


author


🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2