
Mereka berlima memutuskan berangkat bersama menuju tempat kompetisi. Namun, sebelum berangkat Jin hu memberikan cincin penyimpanan miliknya pada Ze.
"Ayo kita segera berangkat menuju tempat kompetisi. Master tang dan grand master Ji pasti telah menunggu kita di tempat kompetisi." ajak Huo nan penuh semangat.
"Hm kau benar." jawab Ze
"Tunggu dulu." cegah Jin hu
"Ada apa?" tanya Ze heran
"Ambil ini (menyematkan cincin ruang di jari tengah Ze) tidak mungkin kau akan memamerkan bahan obatmu pada semua orangkan?" tanya Jin hu dan Ze menggeleng sebagai jawaban.
"Tidak mungkin juga kau membuka batu dimensi di tempat umum bukan?" tanya Jin hu lagi dan Ze kembali menggeleng
"Maka gunakan ini dan taruh semua bahanmu di dalam cincin ruang ini." ucap Jin hu dan Ze tersenyum sambil mengangguk
"Terima kasih sayang." ucap Ze sambil memasukkan semua bahan obat baik yang bagus atau kwalitas tinggi dan bahan kwalitas paling rendah.
"Hanya ucapan saja?" tanya Jin hu agak kecewa membuat 3 orang lainnya mengernyit curiga.
Ze tampak sedang berfikir tentang maksud dari pertanyaan dari Jin hu.
"Dia minta di beri ciuman. Dasar gadis bodoh dan tidak peka." celetuk Hui tu
"Wah aku tidak memikirkan itu. Terima kasih Hui tu." jawab Ze sambil tersenyum lalu segera mengecup singkat pipi Jin hu
"cup, terima kasih sayang." ucap Ze sambil terus tersenyum membuat Jin hu tersenyum bahagia.
"Sama-sama sayang." jawab Jin hu sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Ze hendak kembali meraup bibir Ze.
"Khem khem" deheman dari Huo nan menghentikan Jin hu dari niat mencium bibir Ze.
"Ya sudah kita berangkat mau tunggu apa lagi?" ucap Huo nan.
__ADS_1
"Hm ayo." ajak Ze
Mereka segera keluar dari kamar tempat Ze dan Jin hu menginap itu. Saat hendak menaiki kereta milik mereka, tiba-tiba ada yang menegur Jin hu dan Huo nan.
"Kak Jin hu....! kakak ketiga....!" suara seruan seorang gadis.
"Huh, ini yang dikatakan seorang musuh akan selalu bertemu. Orang yang kemarin kita bahas akhirnya muncul juga." ucap Hui tu dengan nada sinis.
"Hm kau benar. Tapi, biarkan saja dulu dan kita lihat dulu apa sebenarnya maunya gadis ular itu." saut Ze
"Baiklah aku hanya akan menjadi penonton setia dalam aksi balas dendammu itu." jawab Hui tu
"Kakak Jin hu, Kakak kedua kalian hendak kemana?" tanya gadis yang sudah mendekat yang ternyata adalah putri Liu sia dan beberapa saudara seperguruan mereka.
Jin hu hanya diam tidak menjawab ataupun menoleh ke arahnya. Jin hu hanya memeluk erat tubuh kekasihnya itu.
"Kakak pertama, adik ke 5, putri Duo liu sia," sapa Huo nan tidak lagi mau menyebut Liu sia adik keenamnya. Bahkan panggilannya kini berkesan seperti mereka adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal.
"Kami hendak ke gunung whusan mengantar kakak ipar untuk mengikuti kompetisi." jawab Huo nan
Ze mulai terlihat jengkel karena tau apa tujuan akhir dari gadis ular itu menyebut jika tujuan mereka sama.
"Bagaimana jika kita bersama-sama menuju ke gunung whusan itu?" tawarnya
Ze hanya mencoba tetap tenang dalam pelukan Jin hu tanpa menoleh ke arah mereka. Jin hu merasa kesal mendengar gadis ular yang dia abaikan itu terus saja tanpa tahu malu berusaha mengakrabkan diri pada rombongannya.
"Maaf putri Duo, aku tidak terbiasa berjalan bersama dengan seorang yang asing." tolak Jin hu membuat keempat orang di hadapannya itu mengerutkan keningnya heran dan juga kesal.
"Adik kedua apakah kau tidak berlebihan terhadap adik keenam?" tegur Duan si kesal
"Kakak pertama mengapa kau begitu kesal?" tanya Jin hu
"Bagiku dia bukan siapa-siapa lagi selain orang asing." lanjutnya
__ADS_1
"kakak Jin..."
"Aku sudah pernah memperingati dirimu untuk tidak memanggilku dengan panggilan seakrab itu. Aku peringatkan sekali lagi jika kau berani memanggilku dengan panggilan itu, maka kau akan menyesal." ancam Jin hu
"Adik kedua kau sungguh sudah berlebihan mengapa kau harus sekasar itu pada adik keenam?" tegur Duan si
"Heh berlebihan kau bilang?" tanya Jin hu dengan nada sinis
"Apakah kejadian di hutan waktu itu dia tidak berlebihan? Dia hampir memb***h istriku saat itu" ucap Jin hu sambil menunjuk ke arah Liu sia tanpa menoleh sedikitpun ke arah tunjukannya.
"Itu karena dia merasa cemburu saja pada istrimu." bela Duan si sedangkan You tao dan Guo fan di belakang hanya diam menyimak tidak berani berkomentar.
" Cemburu? Pantaskah dia cemburu dan berusaha menyingkirkan istriku karena cemburu di saat aku sama sekali tidak menganggap keberadaannya?" bentak Jin hu yang mulai tersulut emosi
"Jangan berteriak di dekatku. Aku tidak suka itu." tegur Ze dengan wajah sedihnya
"Maaf sayang, aku sedang emosi pada orang di depan kita ini." jawab Jin hu lemah lembut dan penuh kasih sayang. Dia mengecup singkat kening Ze lalu kembali memasang wajah dingin ke arah 4 orang di depan mereka itu.
Melihat perlakuan Jin hu yang sangat berbeda pada Ze membuat Liu sia mengepal kuat tangannya hingga putih sangking emosinya.
"Apakah kau tahu jika dia telah mengarang cerita bohong tentang istriku kepada guru dengan niat ingin menggunakan guru sebagai alat untuk menyingkirkan istriku?" tanya Jin hu membuat Duan si terkejut dan menggeleng tidak percaya.
Liu sia terkejut mendengar penuturan Jin hu. Matanya membola, wajahnya memucat dan keringat mulai keluar di keningnya. Dia tidak menyangka jika Jin hu akan tahu mengenai kebohongannya pada gurunya.
"Aku tidak yakin dengan ekspresimu itu. Apakah artinya kau tidak tau atau kau terlejut aku tau tentang itu." ucap Jin hu
"Aku tidak...." Duan si
"Tidak perlu membuat alasan apapun lagi. Itu bukan urusanku. Aku salut pada keluarga Duo. Karena telah berani ingin memanfaatkan guru yang seorang raja dari api penyucian untuk memuluskan rencana mereka." ucap Jin hu mrmbuat Liu sia semakin memucat bahkan You tao ikut berkeringat dan memucat di belakang sana.
"Tidakkah kalian takut jika guru akan murka pada kalian saat tahu jika dirinya hanya dihasut untuk dimanfaatkan?" tanya Jin hu lagi Duan si sedah tidak lagi mampu berkata-kata
"Kakak..." Liu sia
__ADS_1
"Apakah aku harus memotong lidahmu itu agar kau berhenti memanggil namaku dengan sangat akrab?" tegur Jin hu sebelum Liu sia sempat membela diri.
"Aku sungguh tidak menyangka jika kau dan keluargamu berani memperdaya guru kita adik keenam. Aku tidak berani lagi berdiri dipihakmu dan aku sungguh kecewa padamu." ucap Guo fan lalu pergi meninggalkan mereka semua dengan rasa kecewa.