Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Berpamitan


__ADS_3

Jo melangkah dengan mata berderai air mata haru. Ze tersenyum melihat Jo datang mendekat ke arahnya.


Jo segera memeluk kakak tersayangnya itu. Ze membalas pelukan adiknya dengan air mata yang juga mengalir mulus.


"Kakak sudah bangun, kakak tidak akan pernah pergi lagi kan?" tanya Jo membuat hati Ze terasa teriris pilu.


"Jonya kakak sudah dewasa, kau harus melepaskan masa lalu dan menjalani hidup yang normal dengan gadis yang mencintaimu juga kau cintai." ucap Ze yang tidak bisa menjanjikan apa yang adiknya pinta.


"Alex, Axel.....!" panggil Ze lemah sambil tersenyum.


Alex langsung memeluk gadis yang dia sayang dan sangat dia nantikan untuk bangun itu. Tanpa terasa air matanya sudah benar-benar deras mengalir membasahi pipinya.


"Terima kasih karena telah menjaganya untukku." ucap Ze tulus.


"Kau kesini sayang." panggil Ze lemah pada gadis yang berdiri dengan air mata yang juga sesekali dia seka dari pipinya.


Ann mendekati Ze dan duduk di sebelah Ze tempat yang di tunjuk Ze untuk Ann duduk.


"Cantik, baik dan tulus." puji Ze tersenyum sambil memegang tangan Ann.


"Terima kasih karena sering mengajak aku berbicara dan menceritakan banyak hal saat aku tertidur selama ini." ucap Ze.

__ADS_1


"Itu sudah menjadi tugasku kak." ucap Ann.


"Jo.... " panggil Ze.


"Ya kak, Jo ada di sini. Apakah kakak memerlukan sesuatu?" tanya Jo.


"Jangan menyia-nyiakan perasaan tulus yang ditujukan untukmu. Terlebih aku melihat ada cinta dari sini." ucap Ze menunjuk mata Jo.


"Apa yang terjadi padaku adalah takdir bukan salah siapapun termasuk dirimu. Jangan menyalahkan dirimu akan hal itu. Tidak semua gadis berhati busuk. Jika kau menganggap seperti itu, kau apa sudah lupa kalau aku dan mendiang mama adalah wanita?" ucap Ze membuat Jo menunduk.


Alex menangkap gelagat yang aneh dari Ze. Dia terus memerhatikan Ze dan mulai bersuara.


"Apakah kau akan pergi lagi?" tanya Alex.


"Kenapa kak? Kakak tidak mengatakan yang sesungguhnya bukan? Kakak pasti hanya bercanda bukan?" tanya Jo tidak percaya.


"Maaf, kakak tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Relakan kakak dan hiduplah lebih baik lagi. Jalani hidup dengan bahagia jika kau menyayangi kakakmu ini." ucap Ze.


"Kau tidak menyayangi kami Ze? Mengapa kau ingin meninggalkan kami lagi setelah lama kau tertidur." tanya Axel yang juga sudah tidak sanggup lagi untuk menahan tangisnya.


"Maaf, to long ja ga Jo." ucap Ze yang sudah terbata karena ternyata waktunya untuk kembali hampir tiba.

__ADS_1


"Jo, kakak sangat sa yang padamu. To long hidup bahagia demi kakak a gar kakak bisa te nang di sana." pinta Ze.


"Tolong jaga dan terus sayangi adikku yang bodoh ini." pinta Ze sambil menggenggam tangan Ann.


"Kak? Kak Ze?" panggil Jo saat Ze memejamkan mata menahan sesak di dadanya dan sakit pada kepalanya.


Ze membuka matanya dan berusaha tersenyum lalu memegang pipi adiknya itu.


"Maafkan kakak yang tidak dapat bertahan di sini. Waktu kakak akan segera tiba relakan kakak agar dapat tenang pergi dari sini." ucap Ze.


"Ber jan jilah Jo, Kau a kan hi dup bahagia. Ber jan jilah." pinta Ze.


"Ya kak, Jo berjanji." ucap Jo.


Ze menyatukan tangan Jo dan Ann lalu tersenyum dan akhirnya jiwanya kembali terpisah dari tubuhnya itu dan kali ini untuk selamanya.


Ze terbangun dan sudah kembali berada di kamarnya di dimensinya yang lain sebagai Ze lan. Dia mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan Sang penjaga lagi di sana.


Ze menyeka air matanya lalu tersenyum namun masih terlihat sendu.


"Terima kasih atas kesempatan untuk kembali berjumpa dengan adikku." ucap Ze lalu kembali membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


Jangan lupa untuk tetap semangat memberikan dukungan pada Ze ✌


__ADS_2