Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Master?


__ADS_3

"Terima jasih karena telah hadir dalam hidupku." ucap Jin hu pada kekasih hatinya yang sedang tertidur itu.


"Kau memberi warna berbeda dalam hariku dan memberikanku rasa nyaman serta ketenangan batin saat kau berada di sisiku." ucap Jin hu lagi sambil tersenyum dengan tangan masih asik mengelus kepala Ze.


Setelah cukup lama mereka melakukan perjalanan dengan kereta akhirnya mereka sampai pada tujuan mereka, yaitu kerajaan api penyucian.


Karena kereta milik Jin hu yang khas dan mudah dikenali oleh orang-orang istana api penyucian, saat kereta mereka memasuki gerbang kota seseorang segera melaporkan kedatangan mereka pada raja Ruo.


Karena ternyata raja Ruo mengantisipasi kedatangan mereka dengan mengutus beberapa orang untuk melapor jika mereka memasuki kawasan kerajaan api penyucian.


Saat kereta mereka memasuki gerbang istana, para penjaga langsung membuka lebar gerbang tidak ada pemeriksaan sama sekali. Membuat kereta mereka meluncur dengan mulus memasuki kawasan istana.


"Tampaknya kehadiran kita sudah ditunggu-tunggu oleh guru." ucap Huo nan saat melihat perjalanan mereka memasuki istana begitu mulus.


"Kau terlalu menilai tinggi dirimu." ucap Jin hu dengan nada mengejek.


"Lihatlah perjalanan kita dari gerbang pertama hingga pada gerbang istana tidak ada lagi laporan atau sejenisnya yang mengharuskan kita turun dari kereta atau bahkan hanya sekedar berhenti. Bukankah artinya kehadiran kita sudah ditunggu-tunggu oleh guru?" bela Huo nan terhadap ejekan Jin hu.


"Bukan kita yang ditunggu, tapi Ze dan pil serta kemampuan pengobatan darinya yang ditunggu oleh guru." ucap Huo nan mengejek Huo nan.


"Apa kau lupa akan fakta itu?" tanya Jin hu dengan nada mengejek sambil tersenyum melirik Huo nan.


"Tidak bisakah kakak kedua biarkan aku sedikit berbangga diri?" gerutu Huo nan.


"Sudah jangan berisik. Itu kenapa ada banyak orang berkumpul di depan sana?" tanya Ze.


"Oh mereka adalah para kasim dan dayang istana awan ini kakak ipar. Kemungkinan besar mereka berkumpul di luar atas perintah dari Raja Ruo." jawab Huo nan.


"Oh baiklah aku fikir Raja Ruo memang sangat menantikan kita untuk segera datang. Raja Ruo sudah tidak sabar tentang putra pertamanya yang akan sembuh. Raja Ruo ini sungguh sangat menyayangi putranya itu." ucap Ze.


"Ya kau benar sekali. Guru adalah sosok ayah yang penyayang yang lebih mementingkan kepentingan dan keinginan dari anak-anaknya lebih dari apa pun itu. Tidak seperti seseorang yang lebih mementingkan kekuasaan dan kejayaannya di atas kebahagiaan dari putranya." saut Jin hu dengan suara sedikit lebih memelan yang terdengar begitu sendu tersirat kekecewaan dari matanya.


Huo nan yang mendengar pernyataan dari Jin hu sangat paham jika yang di maksud Jin hu adalah ayahnya sendiri yaitu Kaisar Liang yang rela mengorbankan apapun termasuk kebahagiaan atau bahkan hidup anaknya demi kekuasaan dan kejayaannya agar tetap bertahan atau bahkan bertambah.


"Ayo kita turun sekarang. Kasihan Raja Ruo lama menunggu kita di luar sana." Ze berusaha mengalihkan topik.


"Iya ayo kita turun." ajak Huo nan.

__ADS_1


Mereka bertiga turun satu per satu dari kereta lalu berjalan menghampiri Raja Ruo yang memang telah keluar menyambut mereka.


"Master Ze anda telah tiba. Aku sudah sangat tidak sabar menantikan kehadiran anda." ucap Raja Ruo.


Mendengar Raja mereka menyebut master pada Ze, mereka semua menatap Ze kagum ada juga yang menatap tidak percaya.


"Bagaimana bisa seorang gadis kecil yang terlihat biasa saja adalah seorang master?" bisik seorang kasim.


"Diamlah!" tegur temannya dengan berbisik pula.


"Apa kau meragukan Yang mulia Raja? Jika Raja kita sudah mengakuinya, itu artinya dia sungguh seorang master." jelas teman satunya lagi yang juga seorang kasim dengan berbisik juga.


Mendengar panggilan master di depan namanya dari Raja Ruo, Ze mengernyit tidak suka.


"Salam Yang mulia Raja Ruo." salam Ze sambil sedikit menundukkan badannya.


"Anda terlalu menyanjung aku tidak pantas untuk di sebut sebagai seorang master. Aku masihlah seorang murid." ucap Ze menolak gelar master sebagai embel-embel di depan namanya.


"Bagaimana mungkin seorang alkemish yang dapat membuat pil tingkat tinggi mendekati surga dengan kwalitas sempurna tidak disebut master?" tanya Raja Ruo menolak untuk tidak memanggil master pada Ze.


Mendengar pernyataan Rajanya tentang kemampuan Ze tadi, semua yang ada di sana menatap kagum pada Ze.


"Hormat kami guru." ucap keduanya kompak sambil menunduk hormat.


"Hm aku salah bertanya. Sudah sepantasnya Jin hu sekalu bersama master Ze dia calon istrinya." ucap Raja Ruo.


Mendengar pernyataan Raja Ruo beberapa dayang yang ada menatap iri pada Ze.


Jin hu adalah pria idaman banyak gadis jadi wajar jika banyak yang iri pada Ze.


Raja Ruo memeluk kedua muridnya itu bergantian.


"Ayo masuk." ajak Raja Ruo.


"Sebaiknya kalian istrirahat dulu oh aku hampir lupa sebaiknya kalian makan dulu setelahnya istirahat. Perjalanan kalian pasti cukup melelahkan Bahkan wajah Huo nan tampak pucat." ucap Raja Ruo.


"Astaga apakah wajahku terlihat pucat?" tanya Huo nan.

__ADS_1


"Sudahlah tidak usah heboh. Hal wajar jika kau pucat karena tadi pagi kau hampir saja mengucapkan salam pada raja neraka." tegur Jin hu.


"Apa yang terjadi?" tanya Raja Ruo.


"Panjang ceritanya guru. Intinya dalam perjalanan ke istana ini, kami menghadapi beberapa masalah." ucap Huo nan.


"Baik mari kita ke tempat perjamuan untuk makan siang. Untuk masalah itu kalian bisa menceritakannya nanti." ucap Raja Ruo.


Setelah usai makan siang mereka bertiga pergi ke kamar yang sudah disediakan untuk mereka masing-masing untuk beristirahat dan membersihkan diri tentunya.


Sore harinya Ze baru bertemu dengan putra pertama Raja Ruo yang akan menjadi pasiennya dalam beberapa hari ini.


"Apakah kau sudah siap bertemu dengan putra guru?" tanya Jin hu saat keluar kamar dan bertemu Ze yang kebetulan juga baru keluar kamar.


"Ya harus siap agar semua dapat selesai dengan cepat." jawab Ze.


"Aku tidak tenang meninggalkan ibu beserta kakek dan nenek di saat ada musuh berbahaya yang mengincar kami." jelas Ze dengan nada sendunya.


"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Mereka justru semakin dalam bahaya saat kita bersama mereka di saat seperti ini. Karena, kita tidak tahu seberapa hebat orang itu." ucap Jin hu berusaha menenangkan Ze.


"Ayo kita ketempat guru agar kita dapat segera menemui putra Raja Ruo." ajak Jin hu.


"Hm ayo." saut Ze.


"Salam guru." salam Jin hu.


"Salam Yang mulia." salam Ze.


"Anda sudah siap master?" tanya Raja Ruo.


"Master?" beo seseorang tiba-tiba dari balik pintu ruangan asal Raja Ruo keluar tadi.


Ternyata itu adalah Duo yao tao beserta orang tua dan tetua Duo yang datang berkunjung.


Mereka semua menatap penuh benci ke arah Ze. Sedang yang ditatap hanya berdiri santai tanpa perduli pada mereka.


"Ya dia adalah master yang aku maksud." jawab Raja Ruo.

__ADS_1


"Untuk apa guru memerlukan seorang alkemish baru yang belum tentu asli." tanya Yuo tao sarkas.


"Kau...!" Huo nan yang baru tiba kesal mendengar kalimat sarkas dari Yuo tao ingin marah namun dicegah oleh Ze.


__ADS_2