
Pagi harinya Ze di bangunkan oleh tarikan selimut dan teriakan dari ibu dan neneknya yang panik karena Ze masih tidur sedangkan waktu untuk melaksanakan upacara sakral pernikahan mereka akan segera dimulai.
"YA DEWI ZE.....!" pekik Mei yin yang sudah sangat kesal karena Ze tidak menanggapi panggilannya.
"Ada apa ibu?" tanya Ze malas.
"Hari ini adalah hari pernikahanmu dan kau masih pulas tertidur di saat yang lain telah bersiap." ucap Luo yin yang juga mulai cemas.
Ze terbelalak karena sempat lupa kalau ini adalah hari besarnya. Ze segera bangkit dan melompat turun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Selesai mandi, Luo yin dan Mei yin membantu Ze berpakaian dan berias.
"Tok tok tok." suara ketukan pintu terdengar.
"Siapa?" tanya Mei yin tanpa mengalihkan fokusnya dari rambut Ze yang dia tata.
"Saya Sie li nyonya." jawab orang di luar yang ternyata adalah Sie li.
"Masuklah ke dalam Sie li, pintunya tidak terkunci." ucap Ze.
"Ada apa putri mencari Sie li? Apakah ada yang bisa Sie li bantu?" tanya Sie li.
"Ambil pil ini dan segera berikan pada Wen yuan untuk menelannya." ucap Ze.
"Pil ini sudah jadi sejak beberapa hari lalu dan aku lupa untuk memberikan pada Wen yuan karena kasus gadis licik itu. Aku ingin Wen yuan yang sudah aku anggap keluarga dapat hadir dengan keadaan normal sehingga dapat turut bahagia di hari besar ku ini." ucap Ze.
"Terima kasih putri, Sie li akan segera memberikan ini pada Wen yuan." ucap Sie li.
Setelah cukup lama berias dan melewati drama pagi ibu dan neneknya yang cemas dan bingung dengan mata Ze yang sedikit bengkak karena banyak menangis malamnya, Ze akhirnya siap dengan tampilan bak bidadari.
__ADS_1
"Putriku sungguh cantik." puji Mei yin.
"Cucuku sungguh sangat mempesona dan anggun bak bidadari." puji Luo yin.
Segala proses upacara pernikahan dari awal hingga akhir berjalan lancar tanpa hambatan sedikitpun. Upacara itu hanya di hadiri keluarga Ze dan para rakyat istana atas awan.
Jin hu sengaja tidak mengundang keluarganya dari pihak ayah termasuk ayahnya untuk menghindari masalah lagi.
Senyum di wajahnya tidak pernah luntur sedikitpun mengingat sebentar lagi Ze akan menjadi miliknya utuh.
Setelah segala upacara sakral pernikahan usai, Mei yin dan Luo yin mendampingi Ze menuju kamar pengantin.
Sedangkan Jin hu harus tinggal beberapa saat untuk meladeni tamunya.
"Putri ibu akhirnya menjadi seorang istri, seorang wanita dan akan menjadi seorang ibu. Hidup bahagia ya putriku." ucap Mei yin dengan air mata mengalir di pipinya.
"Berbahagialah cucuku." ucap Luo yin.
Mereka berdua meninggalkan Ze yang mulai gugup karena akan melewati malam untuk pertama kalinya sebagai istri dari seseorang.
"kriet." pintu terbuka dan tertutup kembali.
Jin hu melangkah mendekati istrinya yang saat ini tengah gelisah. Jin hu tersenyum lalu duduk di depan Ze yang masih menutup wajahnya dengan kain berwarna merah.
Jin hu menyingkap kain itu dan tersenyum bahagia melihat wajah cantik istrinya.
"Kamu sangat cantik istriku sayang." puji Jin hu.
__ADS_1
"Mengapa kau diam saja? Apakah menyesal telah menikah denganku?" tanya Jin hu sedih.
"Bukan, aku hanya gugup." ucap Ze.
Mendengar jawaban Ze, Jin hu tersenyum. Dikecup nya singkat kening Ze lalu menggenggam erat tangannya.
"Mengapa kau harus gugup?" tanya Jin hu.
"Apakah kau gugup tentang malam pertama kita?" goda Jin hu dan...
"Blush... " wajah Ze memerah mendengar ucapan malam pertama.
"Tidak perlu gugup, aku akan sangat lembut." ucap Jin hu dan mulai menyatukan bibirnya dengan bibir Ze yang sudah menjadi candunya itu.
Ze memejamkan mata kala Jin hu mulai ******* lembut bibirnya. Setelah itu hanya mereka yang tahu apa yang terjadi πβ
THE END......
Terima kasih banyak atas dukungan kalian selama ini.
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang maha Esa atas ridho-Nya dan karunia umur yang masih ada serta anugrah kesehatan hingga novel ini dapat berlanjut hingga tamat.
Jangan lupa untuk baca novel author yang lainnya ya.
Terima kasih untuk yang sudah banyak kasih saran, udah kasih vote buat dukung novel ini, kasih like dan juga tip.
Sampai jumpa lagiπππππ
__ADS_1