Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Mengapa harus berbohong


__ADS_3

Setelah Li gui dan para rekannya itu tak lagi terlihat, Mei yin baru bertanya pada Jeong nam mengapa dia harus berbohong kepada Li gui?


"Ayah?" Panggil Mei yin ragu -ragu pada ayahnya.


"Ya, ada apa Mei yin?" tanya jeong nam menanggapi panggilan Mei yin.


"Mengapa ayah harus berbohong pada Li gui?" tanya Mei yin dengan suara pelan.


"Iya, akupun sebenarnya ingin menanyakan hal yang sama padamu suamiku. Mengapa kau berbohong pada anak itu?


Melihat dari sikapmu itu aku dapat melihat jika kau seolah sangat tak nyaman dengan kehadirannya.


Mengapa kau seperti tak menyukai anak itu hingga harus sampai berbohong padanya?" saut Luo yin ikut bertanya pada suaminya sebelum jeong nam swmpat menjawab pertanyaan anaknya.


"Memangnya aku telah berbohong tentang apa hm?" tanya jeong nam balik pada ke 2 orang terkasihnya itu.


"Memang benarkan, jika Ze dan Jin hu saat ini sedang menjalin hubungan dan berencana akan menikah dalam waktu dekat? Apakah aku salah mengatakan itu?" Lanjut Jeong nam kembali membalikkan pertanyaan pada mereka berdua.


"Eh?" Mei yin bingung harus berkata apa lagi untuk pertanyaan Jeong nam.


"Kau tau betul jika bukan itu yang jadi fokus pertanyaan kami." protes Luo yin kesal.


"Lalu apa hm?" tanya Jeong nam sambil tersenyum jahil pada istrinya itu.


"Yang dipertanyakan ibu dan nenek adalah mengapa kakek berbohong tentang tujuan kalian datang ke tempat ini." saut Ze karena sejujurnya diapun penasaran ingin tau mengapa sikap kakek dan ayahnya sangat dingin pada Li gui.


Jika itu sikap dari Ji liu ku pada Li gui yang dingin Ze masih paham. Kerena, Ji liu ku sepertinya memang tak mengenalinya. Bahkan, Li gui hanya menyebutnya Grand Master Ji dan bukan paman ji.


Tapi, dari sikap kakeknya yang dingin terhadap Li gui itu Ze penasaran. Karena, dari yang dia tahu jika mereka mengenali Li gui sejak kecil.


"Ah kau memang cucu yang dapat diandalkan Ze. Nah suamiku tuan Shi sekarang jawab pertanyaan kami tanpa mengalihkan kearah yang lainnya lagi." tuntut Luo yin pada sang suami dengan nada yang mulai terdengar kesal.


"Khem khem. Baiklah baiklah aku akan jawab. Tapi, jangan cemberut seperti itu oke istriku sayang." Jeong nam berusaha merayu istrinya itu yang sudah kesal padanya itu.


Ze hanya bisa tersenyum melihat pasangan yang sudah tak muda itu masih saja bisa bersikap seperti pasangan muda. Merajuk dan merayu mereka sangat romantis menurut Ze.

__ADS_1


"Semoga aku dan pasanganku kelak bisa seperti kakek dan nenek yang masih terus saling menyayangi hingga tua." do'a Ze dalam hati.


"Ceh gadis bodoh rupanya kau tetaplah seorang gadis yang juga masih memiliki mimpi tentang pasangan masa depanmu." ledek Hui tu


"Diamlah Hui tu." seru Ze.


"Baiklah baiklah aku akan diam saja." pasrah Hui tu.


"Maka katakanlah sekarang." ucap Luo yin sambil menatap suaminya itu.


"Aku sengaja berbohong seperti itu agar anak itu tak lagi mendekati Ze. Itu tak akan baik jika dia menjadi duri dalam hubungan cucu kesayangan kita bukan?" jelas jeong nam.


"Kalau hanya itu lalu mengapa kau bersikap dingin pada Li gui padahal kita sudah mengenalnya sejak anak itu masih kecil?" tanya Luo yin lagi.


"Itu karena dia dan keluarga Gu selama ini tidak dengan tulus mendekati kita. Mereka memiliki tujuan yang tersembunyi dari usaha mendapatkan ze.


Mereka itu sangat licik dan serakah. Mereka mengincar Ze agar dapat memanfaatkan dirinya.


Mereka menjadikan Ze akses untuk dapat memasuki hutan fujian dengan bebas." jawab jeong nam membuat Mei yin dan Luo yin terbelalak karena terkejut tak percaya.


"Aku tak sengaja mendengar percakapan keluarga itu." jawab Jeong nam.


"Kalian sebaiknya tidak memberi jalan pada keluarga Gu termasuk anak itu untuk bisa mendekati Ze. Karena, dia sama liciknya dengan orang-orang tua di keluarganya.


Aku takut jika dia akan berusaha menghancurkan hubungan Ze dan Jin hu dengan berbagai cara kotor nantinya." Jeong nam memperingati keluarganya.


"Dan untukmu (menunjuk Jin hu) sebaiknya kau waspada terhadap apapun yang terasa aneh saat dia di sekitar kalian berdua." ucap Jeong nam


"Baik kakek. Aku akan mengingat itu." jawab Jin hu sembari tersenyum dan masih terus merangkul pinggang Ze.


"Sekarang apakah semuanya telah selesai dibahas?" tanya Ze tiba -tiba


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Jeong nam balik


"Aku sudah sangat lapar saat ini." jawab Ze dengan wajah memelasnya.

__ADS_1


"Oh astaga, Ha ha ha ha aku tak tau jika kau bisa menggunakan wajah seperti itu kakak ipar." ucap Rui huo nan melihat wajah Ze yang memelas manja.


"Oh kau lebih suka wajah seperti ini?" saut Ze lalu tersenyum mengerikan menatap Huo nan


"Gleg" huo nan menelan salivanya dengan berat wajahnya sudah memucat melihat senyum Ze yang biasanya dia lihat saat ingin menyiksa lawannya.


"Seharusnya anda belajar menjaga mulut anda itu pangeran. Aku turut prihati padamu." bisik Wen yuan.


Huo nan kini sedang merutuki dirinya sendiri karena selalu tak bisa menahan mulutnya dari mencari masalah untuk dirinya.


"Sudahlah. kali ini kau terampuni karena kau sedang senang. Tapi, lain kali kau berani mengganggu kesemanganku dengan mulutmu itu siap -siap saja." bisik Ze


"i iya te terima kasih kakak ipar." jawab Huo nan.


"Sangking asiknya berbicara kita sampai lupa waktu. Wen yuan pesankan makanan di bawah untuk kita semua." ucap Jin hu


"Sebaiknya kau pesan untuk kalian saja. kami sudah ada janji makan siang dengan kenalan lama kami tadi." ucap Luo yin dan diangguki oleh Jeong nam dan Mei yin.


"Setelah itu kami akan langsung kembali ke kediaman kami saja." saut Jeong nam


"Mengapa tidak di sini saja dulu?" tanya Ze


"Kami kesini hanya untuk memastikan keadaanmu saja. Sekarang melihat dirimu dalam keadaan baik -baik saja kami sudah senang.


Kami tidak terbiasa meninggalkan kediaman kami sejauh ini. Maka kami akan segera kembali saja.


Saat urusan kalian selesai di sini dan kalian sungguh ingin menikah segera, maka segera temui kami untuk melangsungkan pernikahan di tempat kami." ucap Jeong nam


"Baik kakek." jawab Jin hu penuh semangat.


"Kami bertiga juga harus kembali ke tempat kompetisi untuk mendaftarkan dirimu. Kami juga memiliki janji makan siang dengan para master di tempat lain." ucap Liu ku


Setelah itu mereka semua pergi dari kamar Ze dan jin hu menyisakan 5 orang yang memang sudah bersama-sama dari awal.


"Kalian bertiga turunlah makan. Wen yuan pesankan makan siang dan suruh antarkan ke kamar kami." titah Jin hu

__ADS_1


"Baik tuan." jawab wen yuan.


__ADS_2