Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
kalian tidak pantas menjadi lawanku


__ADS_3

Semua orang terkejut menyaksikan kejadian tidak terduga itu. Ze masih saja fokus pada tungku dan Jin hu berdiri di belakangnya kini.


Liu sia tersungkur dengan belati tertancap di dada kiri dan perutnya. Orang tua dan kakaknya kini sedang merengkuh dan menangisi tubuh lemah Liu sia.


Flash back on


Liu ku dan Jin hu terus memperhatikan dan mewaspadai tingkah dari Liu sia. Mereka tidak ingin kembali lengah dan akhirnya ceroboh dalam melindungi Ze. Terutama Jin hu yang merasa pernah teledor sekali.


"Aku harus tetap mengawasi gerak gerik dari gadis licik itu. Aku tidak ingin Ze kembali menderita karena seorang gadis liar sepertinya. Dia pasti berniat buruk pada Ze. Karena dia tidak akan mau rugi sendiri." batin Jin hu.


Liu ku dan Jin hu menangkap gelagat mencurigakan dari Liu sia dan mereka bersiap dengan belati di tangan masing-masing.


Saat Liu sia hendak menghunus pedang kearah Ze, Jin hu serta Liu ku melempar belati mereka ke arah Liu sia.


"Jleb... jleb" belati Jin hu menembus dinding perut Liu sia dan belati Liu ku menusuk dada kiri Liu sia.


"Akh bruk." Liu sia ambruk seketika dengan darah keluar dari dua luka di perut dan dadanya.


"Ze!" seru Jin hu lalu segera berlari untuk melindungi Ze dari kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi saat keluarga Duo naik ke atas panggung.


Melihat Jin hu naik ke atas panggung Liu ku memilih mengawasi dari bawah panggung saja.


"Huft nasib baik kami masih dapat melindungimu." ucap Jin hu sambil menghela napas lega.


"Liu sia..!" seru orang tua Liu sia lalu berlari ka atas panggung.


"Adik...!" seru You tao juga ikut berlari naik ke atas panggung.


Saat sampai di dekat tubuh Liu sia, tuan Duo mengangkat tubuh putrinya lalu memeluknya erat. Nyunya Duo turut memeluk tubuh putrinya yang telah tidak lagi bernyawa itu.


You tao berlutut di depan ketiga orang terkasihnya itu dengan wajah syok tidak menyangka jika adiknya akan berakhir dengan cara seperti ini.


"Putriku bangun sayang hiks hiks" seru nyonya Duo sambil terisak pilu.


Mereka bertiga membawa tubuh Liu sia pergi dari tempat itu. Sedangkan Ze yang masih saja terfokus dengan proses pembakaran pil dalam tungkunya mengabaikan saja yang terjadi di dekatnya.


Hingga 15 menit berlalu dan Ze selesai dengan proses pembuatan pil miliknya.


"Apakah sudah selesai sayang?" tanya Jin hu

__ADS_1


"Hm sudah. Mengapa kau ada di sini dan ada apa ini?" tanya Ze heran


"Kau terlalu fokus pada tungkumu hingga tidak menyadari sekitarmu. Lain kali kau tidak aku izinkan untuk membuat pil tanpa pengawasan." omel Jin hu


"Ada apa? Mengapa kau tanpak khawatir?" tanya Ze makin heran


"Gadis licik itu hampir saja melukaimu lagi jika saja aku dan paman Ji tidak bertindak cepat menyerangnya balik." jawab Jin hu.


"Tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi pada diriku di saat dua orang yang sangat hebat dan yang menyayangiku ada di dekatku." ucap Ze membuat Jin hu tersenyum bahagia mendengarnya.


Keluarga Duo sudah meninggalkan tempat kompetisi karena ketua Yui telah memberikan izinnya.


"Bagaimana denhan kompetisi ini ketua?" tanya tuan Shu pada ketua Yui.


"Lanjutkan saja. Kita tidak bisa menghentikan kompetisi ini begitu saja mengingat ada banyak orang yang berasal dari tempat yang sangat jauh hanya untuk menghadiri kompetisi yang diadakan hanya sekali dalam 5 tahun ini." jelas ketua Yui.


"Baik ketua aku akan melanjutkannya." jawab tuan Shu.


"Tunggu dulu." Ze mencegah tuan Shu mengumumkan kelanjutan acara.


"Ada apa nona Shi?" tanya tuan Shu.


"Hapus aku dari kompetisi ini." ucap Ze membuat banyak orang terbelalak kaget mendengarnya.


"Kemampuan kalian yang tidak seberapa itu sangat tidak adil jika aku yang menjadi pesaing mereka.


Aku mengira sebelum ini jika di dalam kompetisi ini akan ada banyak alkemis hebat. Tapi, aku salah di sini hanya ada orang awam saja.


Aku tidak ingin menjadi penindas jika harus ikut bersaing dengan orang yang lemah." jelas Ze membuat para juri dan ketua Yui serta hampir semua orang di sana terdiam tidak mampu berkata apa lagi.


"Baru kali ini aku menjumpai orang yang jelas-jelas menyombongkan dirinya namun dengan wajah biasa saja." ucap master Shen


"Iya anda benar bahkan tidak ada raut bangga di wajahnya itu saat mengatakan itu." saut nyonya Liu.


"Kita hanya dapat mengelus dada saat menghadapi seorang yang memiliki kemampuan dan keberuntungan tidak terbatas sepertinya." ucap ketua Yui.


"Ya hanya itu yang dapat kita lakukan. Bersabar menghadapi kata-kata merendahkannya itu dan tidak bisa membantah karena kita memang hanya debu baginya." saut master Kuo


"Jadi, peserta dalam sesi ini hanya dua orang saja?" tanya tuan Shu

__ADS_1


"Ya hanya mereka saja." jawab Ze


" Kau tidak mungkin akan menolak keinginanku ini bukan?" lanjut Ze bertanya.


"Mengapa kau tidak meneruskan saja kompetisi ini hingga akhir?" tanya seorang peserta.


"Kalian tidak pantas menjadi lawanku." jawab Ze santai.


Membuat peserta yang menyaksikan dan mendengarnya menahan napas sangking kesalnya.


"Baiklah kau akan dihapus dari kompetisi." jawab tuan Shu.


"Ini ada 10 butir pil Zhixie level surga kwalitas sempurna untuk para juri masing-masing 1 dan sisanya untuk peserta juara 1, 2 dan 3 saja." ucap Ze sambil menyerahkan 10 pil yang dia maksud pada tuan Shu.


"Wah apakah aku termasuk yang mendapatkannya?" tanya tuan Shu dengan wajah oenuh harap


"Ya juga ketuamu itu juga bisa mengambil 1." jawab Ze


"Terima kasih master muda." seru semua juri


"Aku bukan master jadi berhenti menyebut itu." protes Ze.


"Apakah ada yang dapat kami berikan kepada anda sebagai rasa terima kasih kami?" tanya tuan Shu


"Hm apa ya? Oh iya ada satu yang ingin aku tanya dan minta jika ada." jawab Ze


"Apa itu?" tanya ketua Yui semangat


"Adakah diantara kalian yang memiliki bunga api yang telah mekar sempurna? Jika ada aku membutuhkannya dan aku akan menukarnya dengan hal lain yang juga berharga." jawab Ze


"Aku memilikinya" seru seorang pemuda dan maju di antara kerumunan.


"Apa yang kau butuhkan sebagai penukarnya?" tanya Ze


"Jadikan aku muridmu." jawab pemuda itu


Mendengar itu Jin hu merasa harus waspada karena seorang pria asing ingin berada di sisi Ze.


"Aku tidak mengangkat murid. Katakan permintaan lain yang masuk akal atau tidak perlu sama sekali." sebut Ze

__ADS_1


"Maka aku tidak jadi memberikannya." putus pemuda itu.


"Maka tidak perlu. Aku bukan tidak memilikinya juga. aku hanya ingin menyelesaikan tugasku segera saja." saut Ze lalu pergi bersama Jin hu diikuti yang lain.


__ADS_2