
Kecuali Ze dan Jin hu, semua orang yang ada di sana termasuk panglima besar Lin xu sudah pucat dan gemetar ketakutan. Bahkan ada beberapa orang yang sangking takutnya, sampai-sampai kencing di celananya. Sedangkan Ze dengan santainya berjalan mendekati ular api yang juga bergerak ke arahnya.
"A apa ya yang dilakukan oleh putri? Me mengapa dia menghampiri monster itu?" tanya panglima besar Lin xu gugup.
Ze membalik arah tubuhnya mendengar pertanyaan dari panglima besar Lin xu. Ze malah mengernyitkan alisnya bingung melihat seberapa kacaunya kelompok yang tadi sangat antusias ingin melihat ular apinya.
"Apa yang terjadi? Mengapa kalian begitu panik?" tanya Ze heran melihat beberapa orang yang telah lari tidak tentu arah. Bahkan ada beberapa orang yang terjatuh karena menabrak pohon atau bangunan dan bahkan ada yang saling tabrak.
Setiap kali mereka terjatuh, mereka akan segera bangkit lagi dan kembali berlari. Bahkan saat ini ada yang mematung tidak dapat bergerak sangking takutnya.
"Ada ular monster raksasa bagaimana kami tidak panik?" jawab panglima besar Lin xu.
"Astaga apakah yang kalian teriakkan sebagai monster raksasa adalah ular api ku ini?" tanya Ze heran.
"Bukankah kalian datang dengan semangat ke tempat ini juga karena ingin melihat ular api ini?" tanya Ze lagi membuat mereka yang mendengar itu melongo.
"Tunggu, jika yang putri maksud adalah yang sangat ingin kami lihat sehingga kami kesini adalah ular itu, maka apakah itu artinya ular raksasa itu adalah hewan roh milik putri?" tanya panglima besar Lin xu dengan mata terbelalak terkejut dan tidak percaya.
"Iya ini adalah ular api milikku. Hewan roh yang sangat ingin kalian lihat itu." jawab Ze sambil mengelus pelan kepala ular api yang kini sudah berada di sampingnya.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha" Tiba-tiba terdengar suara tawa dua orang pria yang sangat terdengar familiar suaranya bagi mereka.
Siapa lagi jika bukan pangeran Rong yuo dan Huo nan yang sudah tidak lagi dapat menahan diri untuk tertawa sangking lucunya melihat tingkah ketakutan dan reaksi ketakutan dari panglima besar Lin xu beserta para prajurit yang ikut bersama dengannya.
"Astaga perutku ha ha ha ha aduh sakit ha ha ha ha." seru pangeran Rong yuo memegang perutnya yang mulai sakit karena tidak dapat menahan diri untuk terus tertawa.
"Astaga aku sudah menduga ha ha ha ha jika semua akan berteriak ketakutan ha ha ha ha ha astaga perutku." seru Huo nan juga ikut tertawa lepas hingga perutnya juga ikut sakit.
"Apa yang kalian berdua tertawa kan?" tanya Ze.
__ADS_1
"Ha ha ha ha ha kakak ipar tidakkah kau merasa jika itu lucu ha ha ha ha sekumpulan orang-orang berlarian hingga menabrak pohon dan bahkan hingga saling tabrak ha ha ha ha ha." jawab Huo nan diselingi tawa yang tidak kunjung henti sedangkan pangeran Rong yuo tidak lagi dapat berkata-kata karena tawanya.
"Tunggu dulu. Tunggu sebentar, apakah tadi putri mengatakan jika itu adalah ular api?" tanya panglima besar Lin xu tidak yakin.
"Ya benar." jawab Ze singkat.
"Bukankah ular api adalah hewan roh yang mematikan yang sangat sulit bahkan hampir tidak mungkin untuk ditaklukkan?" tanya panglima besar Lin xu.
"Hm lalu?" tanya Ze tidak paham dengan maksud dari pertanyaan panglima besar Lin xu.
"Lalu bagaimana bisa putri memiliki ular api sebagai hewan roh? Tidak hanya sekedar ular api, bahkan ular api raksasa." tanya panglima besar Lin xu.
"Itu pemberian dari ayahku. Saat pertama kali aku menerima ular api dari tangan ayahku, ukuran ular api masih sangat kecil. Setelah cukup lama ber kultivasi, akhirnya ukuran ular api menjadi seperti sekarang ini." jawab Ze.
Setelah semua kejadian itu, mereka semua kembali ke tempat masing-masing. Ze, Jin hu dan Huo nan bersiap untuk kembali ke kediaman kakeknya Ze. Mereka bertiga berpamitan pada pangeran Rong yuo dan juga pada Raja Ruo.
"Maaf pangeran, tapi kami memiliki banyak hal yang harus segera kami selesaikan." Jawab Ze.
"Saat semua urusan kami selesai untuk di urus, kami masih dapat kembali berkunjung ke istana ini. Tapi, untuk saat ini kami harus segera pergi." ucap Jin hu.
"Baiklah, aku akan menunggu kalian datang kembali ke istana ini. Berhati-hatilah dan segera selesaikan urusan kalian." pasrah pangeran Rong yuo karena dia tahu tidak ada gunanya menahan mereka. Karena keputusan mereka untuk pergi sudah bulat.
"Ayo kita ke tempat Yang mulia juga untuk berpamitan pada beliau sebelum kita berangkat." ajak Ze dan kedua pria di depannya itu hanya mengangguk.
Saat mereka semua akan keluar dari bangunan tempat pangeran Rong yuo itu, ternyata mereka berpapasan dengan Raja Ruo yang ternyata datang ke tempat itu untuk melihat keadaan putranya.
"Oh kalian bertiga akan kemana?" tanya Raja Ruo yang heran melihat tiga orang itu sudah rapih dengan bawaan mereka juga.
"Kami baru akan menemui guru." jawab Huo nan.
__ADS_1
"Menemui aKu? Ada masalah apa?" tanya Raja Ruo.
"Sebaiknya kita berbicara di dalam saja. Tidak terlihat sopan kita berbicara di depan pintu seperti ini." saran Ze.
"Ah iya... Ayo kita masuk dulu ke dalam untuk berbicara." saut Raja Ruo dan mereka semua berjalan masuk kembali ke dalam bangunan itu.
"Kalian mau kemana membawa semua barang kalian?" tanya Raja Ruo.
"Karena masalah Yang mulia tinggal urusan keluarga dan keadaan pangeran Rong yuo kini sudah sangat baik, maka kami memutuskan untuk kembali ke tempat kami." jelas Ze menjawab pertanyaan dari Raja Ruo.
"Mengapa kalian harus pergi secepat ini?" tanya Raja Ruo.
"Kami terutama aku, memiliki banyak urusan yang harus segera diselesaikan di sana. Mengenai permaisuri pertama dan pangeran Yuo fan, Yang mulia dapat menemui kami di Kerajaan Doucan saat urusan Yang mulia di sini dengan istri dan mertua Yang mulia selesai. Kami akan membawa Yang mulia menjumpai mereka."jawab Ze menjelaskan.
"Jika itu sudah menjadi keputusan putri dan kalian juga, maka aku hanya dapat mengijinkan kalian bertiga pergi." pasrah Raja Ruo.
"Aku akan berusaha untuk sesegera mungkin menyelesaikan masalah yang ada di istana ini. Lalu setelah itu, aku akan segera menjumpai kalian untuk mempertemukan aku dengan mereka. Walaupun aku tidak rela berpisah lebih lama lagi dengan mereka, tapi demi keselamatan dan kebaikan semua, aku akan bersabar untuk tidak menjumpai mereka sebelum semua masalah terselesaikan. " lanjut Raja Ruo.
"Ya keputusan Yang mulia sudah sangat tepat untuk saat ini. Karena, tidak bersama dengan mereka untuk saat ini adalah yang terbaik untuk keselamatan mereka dalam situasi seperti sekarang ini." saut Ze.
"Ya ayah sudah melakukan yang terbaik dan sudah sangat berusaha untuk kebaikan kami semua termasuk untuk aku. Ayah pasti bisa menyelesaikan masalah yang tersisa dan kemudian menyatukan kembali keluarga kita." Saut pangeran Rong yuo.
"Baiklah aku akan ke tempat ular api karena tentunya aku tidak akan meninggalkan dia di sini." ucap Ze lalu pergi ke tempat ular api berada bersama ceri emas tentunya.
Masih seperti biasa, author tidak akan bosan untuk mengingatkan pada kalian untuk tidak lupa memberikan dukungan dengan
vote, like dan komen.
salam hangat dari author
__ADS_1