
Mao tian tersadar dari keterkejutan nya saat mendengar suara perintah dari Jin hu. Dia segera membuka jubah luarnya untuk menutupi tubuh polos adiknya.
"Ya Dewa bukankah itu Hia ling? Tidak aku sangka bahwa gadis yang terlihat tenang dan aku kira gadis baik-baik akan berbuat sekotor ini." ucap seorang dari mereka.
"Mana ada gadis baik-baik yang akan berhubungan dengan tidak pantas dengan pria yang bukan suaminya?" cibir yang lainnya.
"Kalau dengan suami itu bukan tidak pantas tapi keharusan." celetuk seorang pemuda di sana sambil tersenyum mengejek.
"Pastinya malam mereka begitu panas dan panjang hingga tidak terganggu dengan kebisingan kita." ucap seorang wanita tua yang juga ikut menyaksikan pemandangan tidak pantas itu.
"Pastinya, lihat saja betapa berantakan nya tempat ini dan juga seberapa banyak tanda pada tubuh mereka." saut yang lainnya.
Masih banyak lagi cibiran serta hardikan yang ditujukan untuk Hia ling dari beberapa orang yang hadir di tempat itu.
Sedangkan dua orang yang tengah menjadi bahan cibiran itu masih damai dalam tidur mereka tanpa terganggu oleh kebisingan yang ada.
__ADS_1
"Hia ling bangun." ucap Mao tian sambil menepuk pipi adiknya itu.
Hia ling perlahan membuka mata dan segera memegang kepalanya karena merasakan sakit kepala.
"Akh.. Kenapa kepalaku terasa sangat sakit?" ucap Hia ling yang masih belum menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya.
"Kakak apa yang terjadi?" tanya Hia ling masih bingung.
"Akh... Tubuhku mengapa terasa remuk semua?" gumam Hia ling lalu terbelalak dan teriak histeris kala dia mulai teringat apa yang telah dia dan pemuda yang baru terbangun di sebelahnya itu semalam hingga menjelang pagi.
"Tidak...... Kak mengapa aku yang berada di sini?" teriak Hia ling sambil tersedu menangis pilu.
"Cukup teriak-teriaknya! sekarang bawa mereka keruangan pengadilan istana untuk diadili." bentak panglima besar yang baru datang atas perintah Jin hu.
"Pakai pakaian ini segera dan ikut dengan kami sebelum kami menyeret kalian berdua pasangan tidak bermoral." ucap seorang prajurit sambil melemparkan masing-masing selembar pakaian pada Hia ling dan pemuda tadi.
__ADS_1
"Kak kenapa aku yang bersama pria ini seharusnya.... hmmm" ucapan Hia ling terhenti oleh tangan kakaknya yang membungkam mulutnya.
"Jaga ucapan mu itu. Lebih baik kau terima saja hukuman menjadi pelaku hubungan tidak pantas dari pada kita ketahuan ingin menjebak calon permaisuri." bisik Mao tian.
Hia ling hanya dapat mengangguk dengan air mata yang semakin deras mengalir. Dia tahu hukuman yang akan mereka terima jika ketahuan ingin menjebak anggota kerajaan atau calon anggota kerajaan.
Dia dan seluruh keluarganya akan dipenggal saat itu juga. Tidak perduli mereka terlibat atau tidak. Walaupun kejam tapi itulah peraturan yang ada.
"Aku akan membalas gadis jal*ang itu. Aku sangat yakin bahwa dia sengaja ingin menjebak aku. Dasar wanita licik kau Ze. Aku berjanji akan melakukan apapun untuk membuat hidupmu sengsara nanti." batin Hia ling yang saat ini tengah melangkah menuju ruangan persidangan istana di dampingi oleh kakaknya.
Sedangkan pemuda yang bersamanya semalam masih tampak linglung dan masih belum paham dengan apa yang terjadi.
Sedangkan di kamarnya Ze baru saja membuka mata saat mendengar kegaduhan. Dia melihat Ibu dan neneknya sedang membahas sesuatu dengan serius.
"Sungguh tidak tahu malu gadis itu. Aku mengira dia gadis baik-baik dan ingin menjodohkan dirinya dengan Liu yu karena melihat dia bersikap lembut dan sangat sopan." ucap Luo yin.
__ADS_1
"Benar ibu, aku juga merasa tertipu dengan sikap gadis baik-baik yang selalu dia tampilkan di depan kita semua." saut Mei yin.
jangan lupa untuk tetap memberikan dukungan kalian untuk Ze dan yang lain ✌