
"Entahlah. Tidak hanya kuat orang itu memiliki kemampuan mengendalikan fikiran. Orang yang tidak kuat hati dan jiwanya lemah akan sangat mudah dikendalikan olehnya.
Yang membuat aku tidak habis fikir adalah orang itu mampu mengendalikan serangga. Sangat jarang bahkan aku tidak pernah bertemu orang dengan kemampuan itu." jelas Jin hu.
"Ya kakak kedua benar. Aku juga tidak pernah mendengar kemampuan itu." saut Huo nan membenarkan ucapan Jin hu.
"Di zamanku sebelumnya itu hanya ada dalam film hollywood dan kartun jepang." batin Ze.
Karena perjalanan yang cukup jauh dan menghindari perhatian, mereka tidur di kereta dan memilih hutan sebagai tempat berhenti.
Saat Ze tertidur tiba-tiba Hui tu memanggil-manggil dirinya.
"Gadis bodoh....!" panggil Hui tu dan tidak ada tanggapan.
"Hei gadis bodoh bangun kau!" seru Hui tu lebih keras dan masih tidak ada tanggapan.
"Hm sepertinya aku harus menggunakan cara lain untuk membangunkan gadis bodoh ini." ucap Hui tu lalu dia beralih pada Cece yang tertidur di dekatnya.
"Ceri emas bangun....!" tidak ada tanggapan.
Hui tu mengerahkan energi pada sebatang ranting dan melempar ranting itu ke arah Cece tertidur.
"puk... srak srak srak" tepat sasaran dan Cece mulai bergerak lalu menghampiri Hui tu.
"Ceri emas tolong bangunkan tuanmu segera! Tapi, ingat untuk tidak bersuara terlalu keras. Saat ini nyawa tuanmu dalam bahaya kau harus segera membangunkan dia segera." jelas Hui tu dan tanpa menunggu lama Cece segera keluar dari batu dimensi tanpa menjawab atau membantah.
Cece menggoyangkan tangan Ze membuat Ze menggeliat lalu membuka mata. Saat Ze akan bersuara Cece menaruh sulurnya untuk mencegah Ze bersuara.
"Hei gadis bodoh!" panggil Hui tu.
"Hui tu kau sudah bangun?" tanya Ze.
"Jangan bersuara kita harus mengurus sesuatu di luar sana yang sedang menargetkan kau dan 2 orang itu untuk menjadi santapannya." jelas Hui tu membuat Ze terbelalak.
"Hah? Santapan katamu?" tanya Ze tidak percaya.
"Ya santapan dari laba-laba api. Mereka segerombolan hewan roh liar pemakan daging yang mencari makanan di malam hari." jawab Hui tu.
"Apa yang berbahaya dari mereka itu?" tanya Ze.
"Racunnya itu sangat mematikan dan seketika membusukkan daging menjadi cairan hingga mereka dapat dengan mudah menghisap semua daging di tubuh mangsanya." jawab Hui tu.
"Apakah ada cara menangkap salah satu dari hewan itu?" tanya Ze.
"Mengapa kau menginginkan salah satu dari mereka?" tanya Hui tu.
__ADS_1
"Aku ingat jika aku membutuhkan racun dan tubuh laba-laba api untuk pembuatan pil Dewa." jawab Ze.
"Hm aku paham. Ada satu cara yang akan aku sendiri lakukan. Kau siapkan saja wadah untuk mengurung hewan itu." ucap Hui tu.
"Aku ada peti yang cukup besar untuk menyimpan hewan itu." saut Ze.
"Ini sangat aneh." ucap Hui tu dengan nada agak ragu.
"Apa yang aneh?" tanya Ze.
"Mereka masih belum bergerak sama sekali entah menunggu apa." jawab Hui tu.
"Apakah itu bukan sifat ataupun tingkah asli dari hewan roh laba-laba api?" tanya Ze.
"Bukan sama sekali." jawab Hui tu.
"Lalu bagaimana biasanya mereka berburu mangsa?" tanya Ze.
"Mereka akan langsung terus mendekat secara perlahan tanpa disadari oleh mangsanya. Lalu dengan segera memberi racun mematikannya dengan gigitan." jawab Hui tu.
"Seberapa kuat racun dari laba-laba itu?" tanya Ze.
"Sangat kuat karena hanya dalam waktu singkat mereka yang mendapat gigitan racunnya akan mati dan perlahan kulit serta dagingnya akan membusuk dan mencair. Saat itulah mereka mulai menghisap cairan dari mangsanya itu." jawab Hui tu.
"Astaga." ucap Ze karena mengingat tentang seseorang yang memiliki kemampuan mengendalikan fikiran dan juga mengendalikan binatang.
"Ada apa?" tanya Hui tu.
"Orang itu menemukan kita." jawab Ze.
"Orang? Siapa?" tanya Hui tu.
"Orang yang melukai ayah karena sedang mencari diriku yang sudah berhasil membawamu pergi dari gua Si hui tu." jawab Ze.
"Mengapa orang itu mencari kita?" tanya Hui tu.
"Itu urusan belakang untuk menceritakan padamu. Sekarang kita harus pergi dulu dari tempat ini segera." ucap Ze lalu membangunkan Jin hu.
"Kak Jin hu bangun." bisik Ze sambi mengguncang pelan lengan Jin hu.
"Hoam ad..." Ze segera menutup mulut Jin hu sebelum bertanya.
"Sstt kita harus segera pergi dari tempat ini. Aku curiga jika orang yang mencelakai ayah sudah menemukan kita." ucap Ze.
"Tidak perlu bertanya segera arahkan Horse dragon untuk pergi dari sini dengan kecepatan penuh." lanjut Ze.
__ADS_1
Jin hu segera melaksanakan apa yang dikatakan oleh Ze. Mereka pergi dari sana dengan kecepatan penuh.
"Ada apa sebenarnya inu?" tanya Jin hu.
"Di hutan tadi ada segerombolan laba-laba api yang mengawasi kita. Tapi, tingkah mereka sangat di luar dari sifat asli hewan itu. Satu-satunya alasan mereka bersifat berbeda hanya satu." jelas Ze.
"Mereka dikendalikan oleh seseorang." Jin hu melanjutkan penjelasan Ze karena sudah paham dengan maksud Ze.
"Iya kak Jin hu benar." saut Ze membenarkan pernyataan Jin hu.
"Mengapa orang itu dapat menemukan kita dengan sangat mudah?" tanya Jin hu heran.
"Aku tebak itu karena di kereta ini dan tubuh kita ada jejak racun yang berasal dari tubuh ayah. Sehingga pria misterius itu dapat dengan mudah menemukan kita." jawab Ze.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menghapus jejak racun itu dari tubuh kita?" tanya Jin hu.
"Sekarang ambil jalur yang berbeda dari arah istana api penyucian dulu dan cari sungai yang jauh dari keramaian. Kita akan membersihkan kereta dan juga diri kita dari jejak racun itu." Putus Ze.
"Apakah hanya dengan dibasuh air saja sudah bisa bersih kakak ipar?" tanya Huo nan yang ternyata sudah bangun dari tadi menyimak pembicaraan mereka.
"Tentu tidak. Aku akan membuat ramuan untuk dibalurkan pada kereta dan tubuh kita. Setelah itu tentu kita membutuhkan air yang banyak untuk membersihkan kereta dan tubuh kita dari ramuan itu." jelas Ze.
"Baik aku akan mencari tempat yang sesuai dengan keinginanmu untuk mendarat." ucap Jin hu karena sekarang mereka memang sedang dibawa terbang dengan kereta oleh horse dragon fly.
"Aku akan membuat ramuannya di dalam batu dimensi dulu." ucap Ze lalu masuk ke dalam batu dimensi.
"Mengapa pria misterius itu mencari kita?" tanya Hui tu lagi saat Ze sudah di dalam batu dimensi.
"Wah Hui tu kau sudah bisa membuka segel telur itu?" tanya Ze karena saat ini Hui tu sudah menampakkan wujud manusia sama persis saat Liu ku membuka sementara segelnya.
"Baru sedikit dan itu hanya bertahan sebentar. Aku masih harus meningkkatkan kekuatanku untuk dapat membuka total segel ini dan mencari tubuh yang sesuai." ucap Hui tu.
"Apakah artinya kita harus menghabisi seseorang untuk kau memperoleh tubuhnya?" tanya Ze.
"Tidak seperti itu juga. Aku masih dapat menempati tubuh yang sudah lama mati juga asal cocok dengan beberapa tetes darahmu." jawab Hui tu.
"Mengapa darahku?" tanya Ze.
"Kau pernah mengkomsumsi bunga kelahiran sehingga dalam darahmu juga mengalir khasiat dari bunga kelahiran. Hanya beberapa tetes darahmu saja, tubuh yang sudah membusuk dapat utuh kembali dan bisa hidup jika ada jiwa yang menempati tubuh itu." jelas Hui tu.
jangan lupa dukungannya dengan
vote, like dan koment
kalau ada tips juga boleh😉
__ADS_1