
"Kau pernah mengkomsumsi bunga kelahiran sehingga dalam darahmu juga mengalir khasiat dari bunga kelahiran. Hanya beberapa tetes darahmu saja, tubuh yang sudah membusuk dapat utuh kembali dan bisa hidup jika ada jiwa yang menempati tubuh itu." jelas Hui tu.
Ze seolah sedang berfikir tentang penjelasan dari Hui tu.
"Jika darahku sehebat itu, mengapa kau mengatakan jika aku dalam bahaya saat laba-laba api tadi muncul?" tanya Ze.
"Bukankah seharusnya aku akan baik-baik saja?" tanya Ze lagi.
"Racun laba-laba api itu membusukkan dan mencairkan tubuh mangsa hingga ketulang-tulangmu. Bahkan khasiat dari bunga kelahiran tidak akan berguna." jawab Hui tu.
"Ada beberapa hal yang harus kau ingat baik-baik jika kau tidak ingin celaka." jelas Hui tu.
"Apa saja itu?" tanya Ze.
"Pertama jangan sampai ada orang luar yang tahu tentang kau yang pernah memakan sari bunga kelahiran. Karena, jika ada yang tahu dan orang itu tau tentang khasiat darahmu itu,dia bisa menguras habis darahmu dan kau akan mati tanpa darah." jelas Hui tu.
"Lalu yang kedua?" tanya Ze.
"Hindari jenis racun yang dapat membusukkan darahmu karena akan sangat sulit untuk pemulihanmu. Kau tidak akan mati, tapi kau akan mengalami penderitaan panjang menahan rasa sakit hingga berhari-hari sebelum kau sembuh dengan sendirinya.
Laba-laba api tak hanya membusukkan tapi juga mencairkan seluruh bagian tubuhmu. Setelah itu menghisap habis cairan dari tubuhmu itu. Hingga kau akan sungguh-sungguh mati dan tidak akan bisa bangkit lagi." jelas Hui tu.
"Racun dari hewan apa sajakah yang harus aku hindari?" tanya Ze.
"Ular api, laba-laba api, kalajengking salju, laba-laba air dan yang terakhir ular salju." jawab Hui tu.
"Ular api juga ya? Ah aku hampir lupa." ucap Ze tiba-tiba.
"Apa yang kau lupakan lagi gadis bodoh?" tanya Hui tu.
"Aku sungguh sangat merindukan dirimu. Tentu dengan kata-kata tajammu itu." ucap Ze.
"Ceh." tiba-tiba Hui tu kembali pada wujud telur.
"Kau sudah kembali menjadi bentuk telur." ucap Ze.
"Hm untuk saat ini aku hanya dapat mempertahankan wujudku dalam waktu singkat." saut Hui tu.
"Ah aku lupa tentan ular api yang menjadi hewan roh baruku." ucap Ze.
__ADS_1
"Hewan roh baru?" tanya Hui tu.
"Ya seekor ular api yang masih usia muda." jawab Ze.
"Kau serius memiliki hewan roh seekor ular api? Mengapa aku tidak dapat merasakan keberadaannya di dekatmu?" tanya Hui tu.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggilnya untukmu." Ze meniup peluit pemberian ayahnya dan tiba-tiba kolam air suci di dekatnya bergetar.
Tidak lama muncul kepala ular yang sangat besar membuat Ze cukup terkejut.
"Astaga....!" seru Ze.
"Ini yang kau katakan ular api muda?" tanya Hui tu.
"Aku juga tidak tahu mengapa ular ini cepat sekali bertumbuh menjadi sebesar ini." jawab Ze menatap takjub hewan rohnya itu.
"Panggil ceri emas dan tanya padanya saja." saran Hui tu.
"Cece....! Cece....!" panggil Ze dan tak lama Ceri emas itu keluar dari balik batu tempat kegemarannya.
"Apakah kau memberikan buahmu kepada ular itu?" tanya Hui tu.
"Cece pasti kesepian selama ini. Jadi dia bahagia saat ular api ada di sini." ucap Ze.
"Sekarang aku tahu alasan pertumbuhan yang sangat cepat dari ular api milikmu itu." ucap Hui tu.
"Apa alasannya?" tanya Ze.
"Ular itu memakan ceri emas yang sangat berguna untuk kultivasi hewan roh dan ular itu bertapa di dasar kolam air suci menambah percepatan pertumbuhan dan kultivasinya." jelas Hui tu.
"Begini ada baiknya juga. Kau akan makin aman jika ada ular api itu menjagamu." ucap Hui tu.
"Kau sudah selesai dengan ramuanmu?" tanya Hui tu karena dari tadi Ze berbicara padanya sambil mencampur ramuannya.
"Belum selesai tapi, akan selesai sebentar lagi." jawab Ze.
"Kau masih belum menjelaskan tentang pria misterius yang berhasil melukai ayahmu yang hebat itu." ucap Hui tu mengingatkan Ze.
"Oh iya aku hampir lupa akan hal itu." ucap Ze.
__ADS_1
"Kau masih sangat muda dan kau sudah menjadi pelupa." sindir Hui tu.
"Kau ingin aku bercerita atau ingin terus menyindir aku?" tanya Ze kesal.
"Baiklah aku akan diam menyimak kau menceritakan tentang orang itu." ucap Hui tu.
"Sebelum aku bercerita aku ingin memberikan titipan dari seseorang untuk dirimu." ucap Ze sambil meletakkan kotak kecil di dekat telur Hui tu.
"Bukalah." ucap Hui tu.
Ze membuka tutup kotak itu dan tiba-tiba muncul bayangan seorang wanita cantik sedang tersenyum sendu.
"Maafkan aku telah menghianati kepercayaanmu padaku. Aku sama sekali tidak ada niat untuk mencelakaimu dan orang-orang di kerajaanmu saat itu." ucap wanita itu dan Ze menyimak tanpa berkomentar sedikitpun.
"Aku melakukan itu karena dia berjanji tidak akan mencelakai dirimu ataupun orang lain. Dia hanya akan mencari sesuatu dan setelah menemukan yang dia cari, dia akan melepaskan aku dan calon anak kita." dalam bayangan itu wanita itu tampak meneteskan air mata saat mengatakannya.
"Aku belum memberi tahumu tentang aku yang tengah mengandung buah hati kita saat itu, karena pria licik itu meracuni aku dengan racun janin yang jika dia tidak memberikan penawarnya maka buah hati kita yang belum lahir akan gugur." Ze terbelalak mendengar pernyataan dari wanita itu yang kini suaranya terdengar begitu getir menahan pilu.
"Aku terpaksa mengikuti apa mau dari pria licik itu demi menyelamatkan calon buah hati kita yang sama berartinya dengan dirimu di hidup aku. Lagi pula dia berjanji tidak akan membunuh siapapun juga.
Ternyata dia berbohong padaku karena itu adalah racun mematikan. Setelah itu dia memberi aku penawar namun masih terus mengawasiku.
Aku kabur dari dia setelah tau jika dia mengincar anak kita saat dia lahir nanti entah untuk apa tapi pasti itu bukanlah hal baik.
Aku tidak menyangka jika aku akan menjadi alasan runtuhnya dirimu beserta kerajaamu. Aku sengaja menyegel jiwamu dalam sebutir telur agar kau dapat hidup kembali suatu saat nanti.
Aku bisa saja langsung membangkitkan dirimu dengan energi kehidupan aku saat itu juga. Tapi, aku ingin menyelamatkan anak kita juga.
Setelah melahirkan juga aku masih belum bisa karena putra kita masih sangat membutuhkan diriku.
Kini saatnya kau keluar dari segel telur itu dan mencari tubuh yang sesuai dengan jiwamu. Saat kau sudah terlepas dari segel itu berarti aku sudah tidak bernyawa lagi.
Tolong temui putra kita di desa Taoxi kau akan mengetahuinya saat melihatnya karena wajah kalian berdua sangat mirip.
Namanya adalah Si guo tu perpaduan nama kita Wei guo dan Hui tu. Jaga dan kasihi dia karena dia tidak bersalah padamu sama sekali." Setelah kalimat terakhir dia ucapkan ada cahaya samar yang terbang ke arah telur Hui tu.
Jangan lupa tetap dukung Author dengan
Vote like dan komentnya
__ADS_1