
"Aku sungguh tidak menduga jika usaha kita memulihkan dirinya akan gagal dan berakibat pada Rong yuo putraku yang semakin tertekan." ucap Raja Ruo yang paham dengan maksud dari lirikan Ze itu.
"Sebaiknya Yang mulia menjenguknya dan menghiburnya. Karena saat ini dukungan dari Yang mulia adalah satu-satunya cara untuk mengurangi rasa tertekan yang dia rasakan saat ini." ucap Ze.
"Baiklah aku akan menjenguknya sekarang juga. Bagaimana dengan ke amanan Rong yuo selama kalian pergi pagi hingga menjelang petang ini?" tanya Raja Ruo.
"Yang mulia dapat tenang karena aku sudah mengamankan tempat itu hingga tidak ada yang berani masuk dan mengganggu ketenangannya. Pangeran Rong yuo akan semakin tertekan jika bertemu dengan orang-orang yang tidak dia kenali. Maka dari itu aku membuat perangkap mematikan di setiap jalan masuk untuk para penyusup." jelas Ze.
"Oh baiklah terima kasih telah mengurus putraku Rong yuo." ucap Raja Ruo.
"Bukan masalah Yang mulia. Itu adalah tugasku sebagai orang yang bertanggung jawab atas kondisinya saat ini. Aku sudah sewajarnya menjaganya hingga aku berhasil memulihkan kondisinya kelak." saut Ze.
"Ayo kita ke tempat Rong yuo sambil kita dapat berbincang tentang hal lainnya di perjalanan kita ke sana." ajak Raja Ruo.
"Ya mari." saut Ze dan Jin hu hanya mengangguk.
Mendengar Ze dan Raja Ruo akan keluar orang yang menguping di depan pintu segera pergi dari sana. Karena takut ketahuan jika sedang mencuri dengar percakapan Raja Ruo.
"Kalian sungguh sangat dapat diandalkan dalam segala hal." puji Raja Ruo.
"Sebaiknya kita ke bangunan tempat Pangeran Rong yuo saja sekarang untuk membahas langkah selanjutnya yang akan kita lakukan. Hanya di sana tempat teraman dari para pencuri dengar karena tidak ada yang dapat merapat pada jendela kecuali dia akan mati setelahnya." ucap Ze.
"Baiklah ayo kita ke sana saja." putus Raja Ruo dan mereka bertiga pergi dari perpustakaan istana menuju ke bangunan tempat pangeran Rong yuo tinggal.
Sesampainya mereka di sana ternyata Pangeran Rong yuo dan Huo nan sedang berbincang-bincang berdua mengusir jenuh karena hanya berdua di tempat sebesar itu.
"Kakak kedua, kakak ipar, guru kalian di sini." sapa Huo nan saat melihat mereka bertiga memasuki ruangan tempat mereka berbincang.
"Ayah, Jin hu, putri Ze." sapa Rong Yuo sambil tersenyum membuat Raja Ruo merasa senang karena sudah dapat melihat kembali senyum terukir indah di wajah tampan putranya itu.
"Apa kau bosan Huo nan?" tanya Ze.
"Sangat-sangat bisan kakak ipar." ucap Huo nan.
"Mengapa kalian tidak jalan-jalan ke luar saja sebentar untuk melepas rasa jenuh kalian?" tanya Ze.
__ADS_1
"Apakah bisa?" tanya pangeran Rong yuo.
"Bukankah putri mengatakan jika aku tidak boleh ke luar dari bangunan ini untuk sementara waktu ini?" tanya pangeran Rong Yuo lagi.
"Hm aku mengatakannya jika pangeran akan pergi dengan status sebagai pangeran." ucap Ze membuat semua orang mengerut heran.
"Maksud putri apa?" tanya pangeran Rong yuo.
"Aku pun juga masih tidak faham dengan maksud dari putri Ze." ucap Raja Ruo.
"Pangeran akan ke luar dari ruangan ini sebagai kasim De." ucap Ze.
"Bagai mana aku bisa keluar sebagai kasim De?" tanya pangeran Rong yuo.
"Pakailah topeng ini dan kenakan pakaian seorang kasim tapi pangeran harus pergi bersama Huo nan untuk menghindari pangeran di perlakukan tidak sopan oleh orang lain. Karena status kasim yang pangeran kenakan selama keluar dari bangunan ini." jelas Ze menjawab pertanyaan semua yang sedari tadi bingung dengan maksudnya.
"Terima kasih putri Ze." ucap senang pangeran Rong yuo dengan mata berbinar.
"Aku tidak masalah tentang persyaratan itu asal dapat keluar walau hanya sebentar saja dari tempat ini." ucapnya lagi lalu segera menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
"Tok." Jin hu mengetuk kepala Huo nan dengan punggung jarinya.
"Akh sakit...!" pekik Huo nan.
"Mengapa kakak kedua mengetuk kepalaku begitu keras?" tanya Huo nan protes.
"Kau ingin mangatakan apa tentang Ze hm?" tanya Jin hu sambil menatap tajam Huo nan membuatnya tersenyum kecut.
"Maaf." ucap Huo nan.
"Aku mengirimnya kembali pada keluarga aslinya di kerajaan seberang sana. Karena ternyata yang menjualnya untuk menjadi kasim saat kecil dulu adalah paman dan bibinya sendiri agar dia tidak menjadi penghalang mereka merebut harta dari orang tuanya." jelas Ze.
"Dari mana kakak ipar tahu itu?" tanya Huo nan.
"Dari kasim De sendiri." jawab Ze.
__ADS_1
"Saat malam di hari pertama kita di sini aku tidak sengaja memergoki kasim De tengah menangis. Karena penasaran aku menanyainya apa yang terjadi padanya. Dia mengatakan jika dia merindukan keluarganya." jelas Ze dan Huo nan juga Raja Ruo menyimak ceritanya.
"Dia juga menceritakan apa yang terjadi padanya hingga menjadi kasim. Bibinya yang merupakan saudara satu-satunya dari sang ayah menginginkan harta kakaknya. Karena kehadiran kasim De bisa menghalangi rencananya merebut harta kakaknya bibinya beserta suami menculik dan menjualnya di kerajaan lain yaitu di sini untuk menjadi kasim." lanjut Ze menceritakan kembali kisah yang dia dengar dari kasim De.
"Lalu apakah memang yang kasim De ceritakan itu adalah fakta atau hanya cerita palsu?" tanya Huo nan.
"Karena kasihan dan tidak ingin salah menolong orang aku meminta kak Jin hu mengutus seseorang menyelidiki kebenaran ceritanya dan ternyata memang benar dan hingga saat ini orang tuanya masih mencari keberadaan putra tunggalnya.
Akhirnya aku membantu dia keluar dari istana namun sebelumnya dia harus di lihat masuk ke dalam sini dulu agar aku dapat memanfaatkan kepergiannya dan dengan cara ini aku dapat membantu pangeran Rong yuo.
Aku sengaja membuat topeng wajahnya untuk pangeran Rong yuo agar dia dapat ke luar menghirup udara bebas dan agar dia dapat terkena sinar matahari yang penting pula dalam proses pemulihan tubuh agar lebih segar dan sehat." jelas Ze.
"Kakak ipar yang terbaik." puji tulus Huo nan.
Setelahnya pangeran Rong yuo keluar dari bangunan itu dengan begitu semangat bersama Huo nan tentunya di sampingnya.
Raja Ruo sangat bahagia melihat putra sulungnya yang selama ini murung dan mengurung diri menjadi ceria dan penuh semangat hingga tanpa sadar air mata haru keluar dari mata seorang ayah. Dia bukan sebagai Raja yang kuat dan disegani saat ini.
Pria yang berdiri saat ini hanya seorang ayah yang bahagia dan menangis haru melihat putranya bahagia dan ceria. Dia tidak menghiraukan karisma atau citranya sebagai Raja agung dan seorang guru yang tegas luntur sangking bahagianya melihat senyum di wajah pangeran Rong yuo yang selama bertahun-tahun tidak pernah dia lihat terbit akibat segel es hati dan tangannya yang buntung.
Hai hai hai....
πππππ
masih kurang gak nih ceritanya?πππ
kalau masih kurang tambahin dong votenya biar author kasih tambahan up lagiπππ
oke gak tuh
sama-sama membantu kita
kalian bantu vote author bantu kasih bacaan seru lebih banyak.
Vote like dan komen kalian adalah hal berarti bagi author dan ze
__ADS_1
salam hangat dari author kalian ini