Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Hilang ingatan


__ADS_3

Cukup lama terjadi perkelahian dan saling serang dengan kekuatan tenaga dalam hingga akhirnya Zili dapat menang dan memusnahkan siluman merak menjadi debu. Zili kembali melakukan pencarian terhadayop Ze di setiap sudut negeri hitam yang belum dia datangi setalah itu. Setelah selama 5 hari mencari dan mengunjungi semua tempat, Zili keluar dari negeri hitam tanpa hasil yang memuaskan.


Zili keluar dari negeri hitam dengan perasaan lega sekaligus kecewa juga. Dia merasakan lega karena Ze bukan memasuki negeri hitam yang penuh dengan mahluk jahat yang sangat berbahaya itu. Dia merasakan kecewa karena, dia masih belum menemukan keberadaan Ze setelah beberapa hari melakukan pencarian.


"Sebaiknya aku melanjutkan pencarian tuan ke negeri siluman saja dulu. Karena selain negeri hitam, negeri siluman juga merupakan negeri yang berbahaya untuk seorang manusia masuki." gumam Zili sambil melangkah ke luar dari kawasan siluman merak. Zili kembali memejamkan matanya saat telah berhasil keluar dari kawasan siluman merak.


Tubuh Zili kembali bercahaya menandakan bahwa dia akan melakukan perpindahan lagi. Kini tujuan Zili adalah negeri siluman di mana itu adalah negri tempat para siluman tinggal. Zili sengaja memilih tempat yang paling berbahaya bagi manusia di antara 9 negeri ajaib untuk masuk ke dalamnya karena, dia takut jika negeri yang di masuki Ze adalah salah satu negeri berbahaya itu. Zili tidak ingin terlambat menyelamatkan Ze.


Zili memilih negeri siluman setelah dari negeri hitam karena, diantara para siluman, masih ada beberapa siluman yang masih gemar menyantap daging manusia.


Di suatu tempat di salah satu dari sembilan negeri ajaib, seorang gadis muda yang berparas cantik dengan tubuh mungil sedang terbaring di dalam gua di atas dedaunan kering. Bulu matanya yang lentik mulai bergetar menandakan si empunya mata akan membuka matanya segera.


"ugh...!" keluh nya sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Kau sudah bangun rupanya. Huft aku lega akhirnya kau siuman juga. kau sudah terbaring tidak sadarkan diri selama berhari-hari. Kami tidak tahu apa yang terjadi padamu karena kau tidak terluka di manapun di seluruh tubuhmu." racau seorang pemuda saat melihat gadis itu sadar dari pingsan atau mungkin tidurnya yang panjang.


"Kau siapa?" tanya gadis itu sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Aku Ruri." jawab pemuda bernama Ruri


"Apakah kau dapat menyebutkan namamu?" tanya Ruri dan gadis itu hanya dapat menggelengkan kepalanya karena dia melupakan identitasnya.


"Duoduo... kau telah sadar sayang.....!" seru pemuda lain yang melangkah masuk ke dalam gua.


"Duoduo?" beo gadis itu yang tidak yakin dengan apa yang pemuda tadi katakan.


"Ya kau adalah Duoduo ku yang telah hilang selama bertahun-tahun lamanya. Kau kembali padaku karena telah menyesal meninggalkan aku. Kau baru saja mengalami masalah hingga kau terluka dan kini kau sudah siuman. Apakah kau melupakan aku?" bohong pemuda itu lalu berpura-pura bertanya.

__ADS_1


"Maaf tapi, aku tidak mengingat dirimu sama sekali." jawab gadis itu.


"Kau adalah Duoduo kekasihku, calon istriku." ucap pemuda itu yakin.


"Apakah itu benar?" tanya gadis itu ragu pada pernyataan pemuda itu. Karena, dia tidak memiliki kesan apapun itu terhadap pemuda yang mengaku sebagai kekasih bahkan calon suami dari dirinya.


"Ya tentu aku benar." jawab pemuda itu.


"Kau pergi dari sini karena termakan hasutan buruk tentang diriku. Padahal pernikahan kita sebentar lagi akan diadakan. Setelah bertahun-tahun lamanya aku mencari dirimu, kau akhirnya datang sendiri karena sudah tahu kebenarannya bahwa aku tidak curang pada hubungan kita. Tapi naas kau justru terluka dan tidak sadarkan diri selama berhari-hari dan saat ini kau bangun malah melupakan aku. "jelas pemuda itu.


" Tapi kak Liyang, dia.... "belum selesai kalimat dari Ruti, pemuda bernama Liyang itu menatap tajam padanya.


" Diam kau Ruri!"bentak Liyang yang tahu jika adiknya itu ingin memprotes mengenai kebohongan yang dia karang untuk meyakinkan gadis itu.


"Biarkan kakak ipar mu beristirahat terlebih dahulu. Dia baru saja siuman dari pingsan berhari-hari. Berikan dia obat pereda rasa sakit karena, tampaknya Duoduo sakit kepala." ucap pemuda bernama Liyang itu.


"Duoduo sayang, beristirahatlah. Aku harus mengurus beberapa hal diluar sana dulu." ucap pemuda bernama Liyang itu lalu hendak memberi kecupan pada kening gadis yang dia panggil Duoduo itu. Tapi, karena masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda bernama Liyang itu dan karena merasa risih pada pemuda itu, gadis itu memalingkan wajahnya hingga Liyang hanya dapat mencium belakang kepalanya.


Liyang sedikit tidak suka namun berusaha tenang. Dia mengelus halus kepala gadis itu lalu melangkah keluar dari gua tersebut. Mendapatkan perlakuan itu gadis yang tengah duduk terdiam itu mengingat sesuatu dan bayangan seorang pemuda samar-samar terbayang sedang memegang kepalanya.


"Siapa pemuda yang ada dalam ingatanku yang tidak jelas itu?" tanya gadis itu dalam hati.


"Kau sebaiknya minum obat pereda rasa sakit ini untuk mengurangi rasa sakit kepalamu itu." saran Ruri sambil menyodorkan sebuah mangkuk berisi cairan berwarna hijau.


Gadis itu meraih mangkuk pemberian Ruri. Dia menghirup sebentar aroma dari ramuan tersebut dan segera meminumnya.


"Beristirahatlah dulu agar sakit kepalamu itu dapat segera mereda. Aku akan keluar menemui kakak Liyang sebelum dia marah karena terlalu lama menunggu." ucap Ruri lalu melangkah hendak keluar dari gua itu.

__ADS_1


"Tunggu dulu...!" cegah gadis itu.


"Ada apa?" tanya pemuda bernama Ruri.


"Sebenarnya ini ada di mana? Mengapa aku sama sekali tidak merasa nyaman berada di tempat ini?" tanya gadis itu.


"Beristirahatlah dulu. Kakak Liyang yang akan menjelaskan apa pun yang ingin kau ketahui nanti." jawab Ruri ragu karena dia tidak ingin membuat kakaknya itu marah besar jika dia salah berbicara di depan gadis itu.


Ruri melangkah keluar dari gua itu untuk menemui kakaknya yang pasti sudah tidak sabar untuk berbicara dengan dirinya di luar sana.


"Bagaimana mungkin kau merasa nyaman, sedangkan ini bukan tempat kau seharusnya berada. Jangankan tempat ini sedang seluruh negeri ajaib ini bukan tempat yang aman untuk dirimu." gumam pemuda itu lalu melangkah pergi.


"Mengapa aku menuliskan nama ini?" gumam gadis itu saat melihat tanah yang dia tidak sengaja gores dengan ranting membentuk sebuah nama "Jin hu" itulah nama yang dia toreh. Ya memang benar, gadis yang saat ini sedang kehilangan ingatan itu adalah Ze.


Hai para pembaca setia dari novel


"pindah dimensi membalaskan dendam putri yang tertindas."


Terima kasih atas segala dukungan dari kalian semua.


jangan lupa dan jangan bosan untuk tetap selalu memberikan dukungan berupa


Vote, like dan komen pada novel kesayangan kita ini agar dapat menempati posisi teratas tentunya.


salam hangat dari Author


selamat membaca

__ADS_1


__ADS_2