
Setelah Ming hui pergi dari penginapan tempat Ze menginap, Ze dan rombongan segera bersiap menuju ke kediaman tuan Shi.
"Kamu sudah siap sayang?" tanya Jin hu pada Ze
"Ya . Ayo berangkat...!" jawab Ze dengan seruan penuh semangat.
"Kau terlalu bersemangat pagi ini." ucap Jin hu menatap Ze dengan senyumnya.
"Tentu aku sudah sangat penasaran ingin melihat wajah mereka yang terbiasa angkuh itu. Seperti apa rupa mereka setelah selalu memiliki hari yang tidak pernah tenang." jawab Ze.
"Baiklah mari kita berangkat segera." ajak Jin hu
"Hm ayo." seru Ze lagi.
Mereka berlima akhirnya melakukan perjalanan untuk kembali ke pusat kota dan setelah di pusat kota mereka akan meneruskan perjalanan mereka menuju ke kediaman tuan Shi, kakek dari Ze.
"Kita akan singgah sebentar dan berkunjung ke beberapa tempat di kota nanti." ucap Jin hu.
"kemana kita akan berkunjung?" tanya Ze tidak paham.
"Bukankah kau ingin melihat keadaan orang-orang yang telah kau hukum itu sayang?" tanya Jin hu balik
"Oh oke aku paham. Kau memang yang paling mengerti apa yang aku mau." ucap Ze girang.
"Itu karena aku paling menyayangimu." saut Jin hu mengacak lembut rambut di puncak kepala Ze
Mereka segera pergi mengendarai kereta Jin hu yang biasanya membawa mereka. Seperti biasa Huo nan lebih memilih berdesakan dengan Wen yuan dan Liu yu di depan dari pada duduk bersama Ze dan Jin hu di dalam kereta yang akan membuat hatinya lelah dengan pertunjukan kasih sayang 2 sejoli yang kasmaran.
"Kau masih saja tertidur tiba-tiba." ucap Jin hu saat melihat Ze tertidur bersandarkan tubuhnya.
"Aku tidak akan membiarkan dirimu lepas dari pengawasanku meski hanya sesaat. Aku tidak ingin kau tertidur di tempat berbahaya tanpa perlindungan." ucapnya sambil mengelus pelan rambut Ze dan sesekali mendaratkan kecupan sayangnya di kepala Ze.
Setelah cukup lama akhirnya kereta mereka sampai di pusat kota. Ze terbangun tepat saat kereta berhenti.
"Kau sudah bangun?" tanya Jin hu
"Hm. Kita sudah sampai di mana sekarang?" tanya Ze
"Kita sudah di kota sebaiknya kita singgah untuk makan siang dulu." jawab Jin hu.
__ADS_1
"Ya aku memang sudah merasa lapar sekarang." ucap Ze
"Ayo kita turun dulu. Di depan ada rumah makan. Huo nan dan yang lain sudah masuk memesan tempat dan makanan untuk kita." ajak Jin hu.
"Hm ayo." saut Ze dan mereka berdua turun dari kereta.
Jin hu turun terlebih dulu lalu membantu Ze turun dari kereta. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan masuk ke dalam rumah makan yang terlihat cukup ramai pengunjung itu.
Tanpa mereka sadari ada beberapa pasang mata tengah mengamati mereka semenjak turun dari kereta hingga memasuki rumah makan.
"Tuan ruangan kita ada di lantai dua." lapor Wen yuan saat Jin hu dan Ze sudah berada di dalam rumah makan.
"Hm." Jin hu hanya mengangguk dan berdehem sebagai tanggapan terhadap laporan Wen yuan tadi.
"Ayo sayang bukankah kau berkata jika kau sudah sangat lapar tadi?" ajak Jin hu dengan senyum menatap wajah kekasihnya itu.
Mereka baru akan memasuki ruangan yang telah disediakan untuk tempat mereka makan seseorang sudah menyapa mereka.
"Kakak?" sapa seorang pria berparas tampan dengan penampilan rapih dan mewah. Dia di dampingi oleh beberapa orang di belakangnya. 2 orang pria berparas cantik dengan tubuh kecil yang berpakaian sederhana mereka nampaknya seorang kasim. 6 orang bertubuh tinggi besar dan tegap dengan pakaian layaknya prajurit.
"Hm ada apa kau memanggilku?" tanya Jin hu datar tanpa ekspresi.
"Aku hanya menyapa kakakku apa itu perlu dipertanyakan seperti itu?" tanya pria itu balik.
"Kurang ajar begitukah caramu berbicara kepada seorang putra mahkota?" pekik suara seorang wanita yang terlihat anggun dari arah belakang.
"Ada apa dengan cara bicaraku ini?" tanya Jin hu pada Ze
"Tidak ada yang salah dengan itu." jawab Ze polos
"Kau hanya seorang pangeran terbuang. Sudah beruntung jika putra mahkota sudi menyapamu dan kau masih saja berbicara dengan nada angkuhmu itu?" ucap wanita itu yang ternyata permaisuri ibu kandung dari putra mahkota.
"Dia hanya seorang putra mahkota yang belum tentu pasti menjadi raja atau kaisar. Sedangkan orang yang kau sebut pangeran yang terbuang ini adalah pemimpin sebuah istana yang sama halnya seorang raja." ucap Ze sambil tersenyum sinis memandang permaisuri dan putra mahkota.
"Apakah seorang raja dari istana yang terkenal sangat disegani oleh raja ataupun kaisar lain harus tertunduk hormat pada seorang putra mahkota?" tanya Ze sambil terus menatap dengan tatapan merendahkan khasnya.
"Kau siapa berani ikut campur dalam pembahasan kami?" tanya permaisuri pada Ze.
"Dia adalah calon permaisuri tunggal dari istana awan." jawab Jin hu sambil merangkul erat pinggang Ze.
__ADS_1
Kasim De yang berdiri di sebelah kiri putra mahkota menatap Ze lekat seolah mengenali sosok Ze.
"Bukankah gadis itu adalah putri yang telah diusir dari kediaman tuan An setelah pertunangannya dengan putra mentri Wei yang bernama Wei tian mo dibatalkan?" tanya kasim De.
"Astaga... Sungguh pasangan yang serasi. Pangeran dan putri yang terbuang bersatu." ucap permaisuri dengan nada meremehkan.
Jin hu mulai tersulut emosi dan hendak memaki permaisuri namun Ze segera mencegahnya dengan menggenggam erat tangan Jin hu.
"Yah kami terbuang tapi kami sudah berada di puncak. Sedangkan kalian belum tentu mencapai puncak karena masih banyak rintangan untuk itu." ucap Ze
"Aku heran dan bertanya-tanya tentang satu hal sedari tadi." lanjut Ze
"Tentang apa itu sayang?" tanya Jin hu dengan suara lemah dan menatap Ze dengan penuh kasih.
"Apa yang membuat seorang putra mahkota dan seorang permaisuri berkumpul di tempat sederhana ini?" tanya Ze membuat permaisuri dan putra mahkota sedikit merubah raut muka mereka.
"Aku mendengar kakak ada di tempat ini dan aku berada di dekat sini maka aku sengaja datang menyapa." jawab Putra mahkota dengan wajah khawatir.
"Aku mendengar putra mahkota menjumpai pangeran terbuang maka aku datang ke sini untuk mencegahnya merusak nama baiknya karena terlihat akrab bersamanya." jawab permaisuri dengan nada angkuhnya namun masih ada tertangkap kekhawatiran dari wajahnya.
"Kami baru saja tiba dan kalian sudah berada di tempat ini. Hebat sekali." ucap Ze dengan nada ejekannya.
"Kau...." permaisuri menghentikan ucapannya karena putra mahkota mencegahnya memperpanjang debat mereka.
"Sudahlah ibu jangan membuat keributan lagi. Kita bisa ketahuan jika ada yang mengenali kita di tempat ini." bisik putra mahkota.
"Hm kali ini aku memaafkan dan akan melepaskanmu." ucap permaisuri.
"Aku tidak meminta maaf padamu." ucap Ze membuat permaisuri ingin memakinya namun menahan amarahnya karena keadaan.
Hai readers yang baik hati
Maaf karena author lupa mengabari hiatus sementara novel ini.
Novel ini akan up lagi sekitar 5 hari setelah idulfitri.
Up hari ini sebagai ucapan maaf karena lupa menginfokan hiatus novel ini pada para readers.
salam sayang
__ADS_1
Author
🙏🙏🙏🙏🙏