Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Istana atas awan


__ADS_3

Ze membuka tirai jendela kereta dan memandang sekeliling. Ze memandang takjub lingkungan baru yang dia lihat sekarang ini.


"Di mana kita sekarang?" tanya Ze tanpa menoleh pada siapapun yang dia tujukan untuk pertanyaan itu karena sibuk mengagumi pemandangan yang unik dan sangat indah menurutnya.


"Bukankah aku tadi sudah mengatakan padamu bahwa kita sudah memasuki wilayah istana atas awan?" tanya Jin hu balik namun Ze hanya fokus dengan pemandangan di luar kereta.


"Itu artinya saat ini kita sudah berada di wilayah Kerajaan atas awan." jawab Jin hu tersenyum melihat ekspresi wajah calon istrinya yang terlihat makin menggemaskan kala memandang takjub seperti saat ini.


"Mengapa yang ada di sini bisa serba putih?" tanya Ze kini tatapannya beralih pada Jin hu. Ze menunggu Jin hu menjawab pertanyaannya karena dia sungguh sangat penasaran dengan alasan di balik pemandangan yang aneh, unik namun menakjubkan itu.


Bagaimana tidak, daerah itu terlihat serba putih. Mulai dari tanah, bangunan, bahkan daun dari rumput serta pohon yang tumbuh di sana serba putih.


"Sejak dulu sekali bahkan dari jaman kakek moyangku, tempat ini memang sudah seperti ini. Tidak ada daun dari pohon apapun yang tumbuh di tempat ini akan berwarna lain selain putih. Bahkan tidak jarang kami membawa bibit dari pohon hijau di luar wilayah istana atas awan ini tapi, lagi dan lagi hanya ada daun berwarna putih yang akan tumbuh dari pohon tersebut."jelas Jin hu.


"Itukah yang menjadi alasan negeri ini dinamakan istana atas awan?" tanya Ze yang merasa seolah diatas awan sungguhan karena pemandangan serba putih itu.


"Ya, kau benar tentang hal itu. Setiap orang yang memasuki wilayah istana atas awan akan merasakan bahwa mereka seolah sedang berada di atas awan. Itulah alasan munculnya nama ini." jawab Jin hu.


"Apakah setiap bangunan harus berwarna putih di tempat ini atau memang keinginan warga sendiri?" tanya Ze.


"Kami juga tidak jarang membawa bahan untuk membangun rumah dari luar daerah ini. Bahan yang kami pilih sengaja dari bahan berwarna cerah dan tidak lama setelah kami pakai untuk membangun, semua bangunan yang kami bangun tetap berwarna putih." jawab Jin hu.


"Kami akhirnya menyerah dan menganggap bahwa itu adalah keistimewaan dari tempat kami ini." tambah Jin hu.

__ADS_1


"Apakah semua pemimpin di tempat ini adalah garis keturunan dari keluargamu?" tanya Ze.


"Ya, hanya keturunan langsung yang dapat memegang kendali atas negeri ini. Biasanya hanya keturunan dari anak laki-laki yang dapat memegang kendali. Tapi, mendiang ibu adalah anak tunggal dari mendiang kakek jadi, aku adalah satu-satunya pewaris tunggal dari negeri atas awan ini."jawab Jin hu.


"Kita sudah sampai, ayo! aku akan memperkenalkan calon istriku yang imut ini pada seluruh penghuni istana atas awan." ajak Jin hu semangat sambil mencubit pelan ujung hidung Ze.


"Hm? Siapa calon istrimu? Aku tidak merasa menjadi gadis imut." ucap Ze dengan wajah kesal.


"Tentu saja gadis yang saat ini berada di hadapanku yang menjadi calon istriku siapa lagi yang pantas untuk gelar nyonya dari istana atas awan selain dirimu?" jawab Jin hu lalu mengecup singkat ujung hidung Ze.


"Ayolah, sampai kapan kalian akan pamer kemesraan di depan kami." batin Wen yuan yang jengah dengan tuannya itu.


"Ayo kita turun sebelum yang lain memanggil kita untuk segera turun." ajak Ze yang mulai merasakan wajahnya memerah karena ulah Jin hu di hadapan dua orang yang sedang melirik mereka dari tadi.


Saat mereka turun dari kereta, sudah banyak orang yang bersiap untuk menyambut kedatangan raja mereka. Rombongan pada kereta tuan besar Shi sudah lebih dulu turun dari kereta.


Liu yu dan Wen yuan turun terlebih dulu lalu di susul oleh Jin hu yang membantu Ze turun dari kereta dengan memegang tangan Ze. Melihat seorang gadis turun dari kereta Jin hu, semua orang terbelalak seolah tidak percaya.


Tidak hanya gadis itu turun dari kereta tuan mereka, bahkan Jin hu membantu Ze turun dari kereta dengan tersenyum menatap wajah Ze.


"Apakah aku sedang bermimpi saat ini? Sejak kapan Yang Mulia Tuan Jin hu bersikap lembut dan penuh kasih pada seorang gadis?" batin seorang pria yang berdiri paling depan memimpin orang yang menyambut Jin hu serta rombongan.


"Apakah itu benar Yang Mulia Tuan Jin hu?" bisik seorang di belakang sana.

__ADS_1


"Iya dia memang Yang Mulia Tuan Jin hu." jawab orang di sebelahnya.


"Sejak kapan Tuan Jin hu kita tidak menolak kehadiran seorang gadis di dekatnya?" tanya orang yang lain sambil berbisik.


"Entah.Yang sudah dapat kita pastikan adalah, gadis itu pasti akan menjadi satu-satunya calon permaisuri di istana atas awan ini. Lihat saja tatapan Yang Mulia Tuan Jin hu yang begitu lembut dan penuh kasih pada gadis itu." jawab pria di sebelahnya.


"Berhenti membicarakan tentang Yang Mulia Tuan Jin hu lagi. kalian masih sayang nyawa bukan?" tegur seseorang dengan berbisik juga dan itu berhasil membuat semuanya terdiam.


Hai kalian semua para pembaca dan pendukung setia novel


"Pindah dimensi membalaskan dendam putri yang tertindas"


Jangan lupa untuk tetap terus semangat untuk memberikan dukungan pada novel kesayangan kita ini.


Vote, like dan komen sangat berharga bagi kelangsungan novel ini.


Dukung terus Ze dan Jin hu


Selamat membaca dan semoga kalian selalu sehat dan bahagia.


salam hangat dan sayang dari Author


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2