Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Kebodohan mentri Qin


__ADS_3

"Bangunkan aku saat wanita ular itu sudah tidak lagi berada di dalam ruangan ini. Aku butuh tidur agar tidak melihat wajah dan mendengar suaranya yang membuat aku ingin mencincangnya saat ini Juga." bisik pelan Ze membuat Jin hu menghela napas karena tahu saat ini Ze gelisah tidak dapat melakukan apa-apa terhadap orang yang dia benci.


"Jangan sekali-kali kalian berani untuk mendekati atau bahkan menyentuh jendela-jendela yang ada di bangunan ini jika kalian tidak ingin celaka." ucap Huo nan memberi peringatan saat melihat seorang prajurit mendekat ke arah salah satu jendela tertutup.


"Heh apa yang kalian sembunyikan di balik jendela sehingga kau sangat takut jika ada salah satu dari jendela itu di buka?" ucap sinis mentri Qin yang tiba-tiba masuk keruangan tempat Ze dan yang lain berada.


"Kami tidak menyembunyikan apa pun di balik jendela mana pun itu seperti yang mentri Qin tuduhkan pada kami. Hanya saja, di setiap jendela itu telah terdapat jebakan mematikan untuk menghindari para penyusup masuk ke dalam bangunan ini. Jika masih sayang nyawa kalian menjauhlah. Tapi....... jika sebaliknya, itu terserah kalian saja yang terpenting adalah, aku sudah memberi kalian peringatan tentang itu sebelumnya." jelas Huo nan membantah tuduhan mentri Qin terhadap mereka.


Prajurit yang mendengar ucapan Huo nan terhenti dan tidak berani mendekati jendela itu lagi. Melihat prajurit itu terdiam mentri Qin kesal dan merasa diremehkan oleh Huo nan saat ini dia semakin emosi.


"Apa yang kalian tunggu lagi?" tanya mentri Qin dengan nada meninggi.


"Segera periksa jendela-jendela itu sekarang juga...!" seru mentri Qin sangat emosi.


"Ta tapi..." ucap terbata prajurit tadi terpotong oleh mentri Qin yang sangat kesal melihat Huo nan dan Jin hu tersenyum seolah mengejeknya.


"Menyingkir dari jalanku...!" seru mentri Qin mendorong tubuh prajurit itu hingga tersungkur.


"Apa yang perlu kalian takutkan hah?" tanyanya dengan emosi.


"Mereka hanya menipu kalian." ucapnya kesal lalu mendekat ke arah jendela tertutup yang tidak jadi di periksa oleh prajurit tadi.


"Terserah padamu orang tua aku sudah memberi peringatan untukmu." ucap Huo nan dengan nada santainya namun menatap sinis dengan senyum mengejek membuat mentri Qin makin tersulut emosi.


"Kau fikir aku akan takut jika kau mengatakan demikian?" tanya mentri Qin kesal lalu segera melangkah mendekati jendela tanpa ragu sedikit pun.


Melihat kebodohan seseorang yang mereka benci karena keangkuhannya itu membuat Jin hu dan Huo nan tersenyum meremehkan mentri Qin yang saat ini sudah di depan jendela dan bersiap akan membuka jendela tersebut.

__ADS_1


"Akh....!" pekik mentri kim saat tangannya tertusuk sesuatu saat dia mendorong jendela untuk segera terbuka. Tiba-tiba asap pekat dari 4 sudut jendela keluar dan menyelubungi tubuhnya.


"Menjauh dari sana jika kalian tidak ingin ikut celaka juga seperti orang bodoh itu." seru Huo nan membuat beberapa orang segera menghindar dari sana.


"Apa yang akan terjadi padanya?" tanya permaisuri khawatir melihat kaki tangan ayahnya dalam masalah saat ini.


"Apa lagi yang akan terjadi pada seseorang yang terkena racun mematikan jika bukan akan mati setelahnya?" jawab Jin hu membuat permaisuri terbelalak.


"Tidak bisakah kalian menolongnya?" tanya permaisuri.


"Tidak akan ada yang mendekat ke sana akan selamat dari racun itu hingga racun itu berhenti menggerogoti tubuh mangsanya." jawab Jin hu.


"Bagaimana cara kita menyelamatkannya jika seperti itu?" tanya permaisuri.


"Tidak ada cara apa pun. Siapa juga yang akan mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan orang sebdoh dirinya itu. Aku sudah memberi peringatan padanya tentang racun itu dan dia tidak menghiraukan peringatanku. Jadi biarkan dia menikmati akhir dari hidupnya dengan cara mengenaskan seperti itu." jawab Huo nan menjelaskan.


"Astaga ada apa dengan tubuh mentri Qin?" seru seorang prajuri.


"Ya Dewa tubuhnya mengering." seru seorang lain..


Masih banyak pekikan terkejut lainnya melihat kondisi tubuh mentri Qin saat ini. Bahkan Hio nan dan Jin hu ikut terkejut melihat penampakan berbeda dari tubuh mentri Qin itu. Tubuhnya kini tinggal tulang berbalut kulit yang mengering layaknya mumi yang telah diawetkan.


"Mengapa kalian harus memasang perangkap semengerikan itu di dalam bangunan tidak berharga ini?" bentak permaisuri bertanya.


"Bukankah sudah anda tahu bahwa pangeran Rong yuo dalam ke adaan yang buruk karena penyerangan terhadapnya membuat pemulihannya gagal?" tanya Huo nan.


"Lalu apa hubungannya perangkap itu dengan keadaannya?" tanya permaisuri.

__ADS_1


"Tentu hubungannya sangat jelas karena perangkap itu untuk melindunginya dari penyusup lain yang bisa saja mengancam nyawanya ke depannya." jawab Huo nan.


"Mengapa kau mempermasalahkan jika mereka melindungi Rong yuo?" tanya Raja Ruo geram membuat permaisuri tercekat.


"Bu bukan seperti itu Yang mulia. Ma..." ucapan terbata permaisuri dipotong dengan ucapan kesal Raja Ruo.


"Sudahlah hentikan debatmu dan keluar dari sini. Mereka sudah selesai mencari dan tidak menemukan apa pun yang mencurigakan." potong Raja Ruo membuat permaisuri menunduk takut.


"Ta tapi mentri Qin te...." kalimat permaosuro lagi-lagi di potong oleh teguran Raja Ruo.


"Anakmu hilang dan kau hanya mencari masalah saja dengan tamuku. Itu kebodohan mentri Qin sendiri yang tidak memperdulikan peringatan dari Huo nan sebelumnya. Jadi sudahi mencari-cari celah kesalahan dari tamu-tamuku ini." protes Raja Ruo.


"Maafkan per..." Raja Ruo sudah sangat muak dengan permaisuri dan menyuruhnya pergi.


"Sudah hentikan alasanmu aku muak dengan perdebatan. Sebaiknya kau fokus menemukan putramu saja dari pada kau mencari masalah dengan tamuku." bentak Raja Ruo.


"Bawa tubuh mentri Qin keluar dari sini dan kalian semua sudah dapat keluar dari sini. Aku tidak ingin Rong yuo merasa terganggu karena terlalu ramai." ucap Raja Ruo dan mereka semua pergi dari sana.


Karena cukup lama menggeledah setiap sudut bangunan dan tidak menemukan apa pun permaisuri akhirnya pasrah dan keluar juga dari sana. Dengan perasaan kesal juga ada rasa puas. kesal karena Raja Ruo membela Ze dan rekannya dan senang karena dapat melihat sendiri kondisi menyedihkan dari Pangeran Rong yuo.


Maaf karena kemarin author tidak up cerita tentang Ze dan Jin hu.


Karena kesibukan author yang tidak menentu jadi harap maklum jika kadang tiba-tiba author tidak up cerita.


Tapi saat author punya waktu luang yang lebih maka akan author usahakan up banyak seperti 2 hari kemarin.


Mohon maaf atas ketidak nyamanannya dan mohon dukungannya terus.

__ADS_1


__ADS_2