
Mereka bertiga pergi dari ruangan itu dengan senyuman culas tersungging di bibir mereka. Hia ling melangkah menuju dapur istana untuk melancarkan rencananya. Hia ling menoleh kebelakang karena merasa diawasi seseorang.
"Tidak ada siapapun di sini." gumam Hia ling.
"Ah mungkin perasaanku saja." gumam Hia ling lagi.
Hia ling kembali meneruskan langkahnya menuju dapur istana. Sangat mudah bagi Hia ling untuk menaruh sesuatu yang buruk pada makanan terutama untuk menargetkan Ze sang calon pengantin.
Karena selama ini tidak pernah terjadi keracunan makanan di dalam dapur istana sehingga tidak ada penjagaan ketat dalam dapur istana dan terlebih lagi Hia ling adalah orang yang memang sering keluar masuk dapur istana sehingga tidak akan ada yang mencurigai dirinya.
Sedangkan untuk menargetkan Ze, itu sangat mudah karena, makanan untuk calon pengantin di pisahkan dari makanan yang lainnya. Sehingga tidak akan mungkin untuk tertukar.
"Maaf, tapi itu salahmu karena merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Kau akan menderita rasa malu dan akan terbuang setelah malam ini berakhir. Tapi jangan khawatir, aku akan mengisi kekosongan di hati dan sisi kak Jin hu saat kau pergi nanti." ucap Hia ling dengan senyuman culas tersungging di bibirnya.
Hia ling segera pergi dari tempat itu setelah memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya menaruh sesuatu pada makanan dan minuman untuk Ze.
Di depan istana saat ini Ze dan Jin hu sedang menempati singgasana untuk calon pengantin agar rakyat yang datang dapat melihat dengan jelas wajah dari calon permaisuri mereka.
__ADS_1
Jin hu tidak melepaskan pandangannya dari Ze sedikitpun. Pasalnya malam ini Ze kembali didandani oleh ibu dan neneknya sehingga dia terlihat sangat mempesona bagi Jin hu.
"Seandainya ini bukan karena ritual, aku akan menutupi wajahmu agar tidak ada yang menatap wajah cantikmu ini malam ini." ucap Jin hu.
"Jangan berlebihan tuan Jin hu." ucap Ze kesal.
"Aku juga mencintaimu." ucap Jin hu membuat Ze memutar matanya jengah.
"Terserah kau saja." ucap Ze.
"Sabar sayang, setelah acara makan bersama kita sudah dapat beristirahat dan terbebas dari ritual." ucap Jin hu saat melihat Ze mengangguk.
Makanan untuk mereka sudah tersaji di depan mereka. Semua yang hadir juga sudah mendapatkan makanan mereka. Saat para tetua selesai merapal mantra, mereka semua menyantap bersama makanan mereka masing-masing.
Ze terlihat menikmati setiap makanan yang tersaji untuknya. Tanpa orang lain sadari, ada beberapa pasang mata yang memandangnya sambil tersenyum culas penuh kemenangan.
"Aku harus mengurus sesuatu agar acara pernikahan kita tidak ada kendala. Aku akan mengantarmu ke kamarmu terlebih dahulu sebelum mengurus itu semua." ucap Jin hu saat mereka sudah di belakang panggung dan akan kembali ke kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
"Tidak perlu mengantarkan aku, ini lingkungan istana jika kau lupa. Siapa yang akan berani untuk mengusikku?" ucap Ze.
"Baiklah sayang, selamat malam dan mimpi indah. Aku pergi dulu." ucap Jin hu lalu mengecup singkat kening Ze.
Ze memegang kepalanya seperti sedang kesakitan saat Jin hu sudah tidak terlihat lagi. Ze berjalan perlahan sambil memegang kepalanya dengan mata yang sesekali dia pejamkan seolah menahan sakit.
Seseorang segera menangkap lengan Ze saat Ze hampir terjatuh di lantai. Ze menoleh dan melihat seorang gadis tersenyum sambil memegang lengannya.
"Apakah putri baik-baik saja?" tanya gadis yang ternyata adalah Hia ling itu.
"Kepalaku terasa pusing dan pandanganku berputar-putar." jawab Ze.
"Biarkan aku mengantar anda ke kamar anda tuan putri." tawar Hia ling dengan senyuman culas nya.
"Baiklah." ucap Ze membuat Hia ling semakin merasa senang.
Jangan lupa untuk terus memberikan dukungan kalian untuk Ze dan yang lainnya. ✌
__ADS_1