Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Sie li


__ADS_3

Ze mengernyit tidak suka dengan ejekan Hui tu. Tapi dia juga penasaran dengan maksud Hui tu. Hui tu tentu memiliki jalan keluar untuk masalah puasa itu pikir Ze.


"Ada apa sayang?" tanya Jin hu sambil menutupi kembali tubuh Ze dengan selimut yang tadi Ze kenakan sebelum dia berendam.


Ya, Ze sekarang sudah berada di luar bak. Para tetua harus tertunduk agar tidak melihat lekuk tubuh Ze yang tercetak karena kain yang Ze kenakan sudah basah.


"Tidak ada apa-apa. Apakah aku sudah dapat kembali ke dalam kamar untuk mengganti pakaian?" tanya Ze.


"Ya tentu saja." jawab Jin hu.


"Sie li masuk kesini." panggil Jin hu dan Sie li yang berada tepat di depan pintu menunggu Ze segera masuk ke dalam ruangan itu.


"Hamba Yang Mulia." ucap Sie li dengan menunduk.


"Antar Tuan putri kembali ke kamar dan sediakan segala kebutuhan Tuan putri. Jangan lupa untuk memerintahkan pada dapur untuk membawa makanan yang sudah aku pesan ke kediaman kami. Ingat satu hal! Hanya kau yang boleh melayani putri dan tetap tidak ada pelayan wanita lain yang boleh memasuki selangkah pun kediaman itu."ucap Jin hu.

__ADS_1


Jin hu sudah berusaha menerima bahwa ada wanita lain selain Ze memasuki kediamannya karena Ze yang meminta dan Jin hu merasakan bahwa Sie li tulus melayani Ze. Tapi, Jin hu tetap tidak ingin ada wanita lain lagi yang memasuki kediamannya meski hanya seorang pelayan.


"Sesuai perintah anda Yang Mulia." saut Sie li.


"Pergilah terlebih dahulu ke kediaman kita, aku akan menyusul setelah urusan dengan para tetua selesai. Ingat untuk segera mengganti kain basah itu agar kau tidak sakit." ucap Jin hu dan Ze hanya mengangguk.


"Cup." Jin hu mengecup sekilas kening Ze lalu tersenyum padanya.


Ze lalu melangkah pergi keluar dari ruangan itu. Di ikuti oleh Sie li di sebelahnya. Sie li segera memanggil seorang yang lewat untuk menyampaikan pesan Jin hu pada orang di dapur istana.


Ze segera mengganti pakaian dibantu oleh Sie li yang sigap menjalankan tugasnya. Segala kebutuhan Ze, Sie li akan selalu sediakan bahkan sebelum Ze meminta membuat Ze merasa terbantu dengan kehadiran Sie li.


Jin hu datang tepat saat sarapan untuk mereka telah selesai dihidangkan. Jin hu mengangguk puas melihat pengaturan dari Sie li yang sesuai dengan keinginannya. Pelayan wanita hanya membawa makanan hingga di depan pintu Sie li yang menerima dan menyusun makanan dan peralatan makan dibantu oleh Wen yuan dan seorang pelayan pria.


Ze sibuk memperhatikan interaksi yang terlihat janggal dari Wen yuan dan Sie li. Mereka akan sesekali saling lirik dan tersenyum saat tidak sengaja bertemu tatap membuat Ze menahan diri untuk tertawa.

__ADS_1


"Astaga aku hampir tidak sanggup untuk menahan tawa." batin Ze.


"Apa yang terjadi?" tanya Hui tu.


"Tingkah dua orang yang sedang jatuh cinta itu sangat lucu." jawab Ze.


"Soal perasaan orang lain terhadap orang lain kau cepat tanggap. Tapi, soal perasaan orang terhadap dirimu dan keinginan kekasihmu itu kau memerlukan aku untuk memberi tahu mu." cibir Hui tu.


"Ceh, kau selalu saja memiliki bahan untuk mencibir aku." protes Ze.


"Karena itu memang ciri khas dirimu. Lemah soal perasaan dan otakmu itu hanya jenius soal ramuan saja. Selebihnya kau sangat bodoh." ejek Hui tu dengan senang karena kali ini dia menang dari Ze dalam berdebat.


Jangan lupa untuk memberikan vote, like dan komen. Karena like vote dan komen kalian sangat berarti bagi author.


selamat membaca

__ADS_1


__ADS_2