
"Sungguh budak cinta itu membawa pengaruh buruk. Karena terlalu dimanjakan kau menjadi pemalas." keluh Hui tu sambil melangkah pergi dari sana.
"Jangan lupa menyiapkan aku makan juga kakek. Aku masih harus sibuk dengan topeng ini lagi." ucap Ze.
"Ya ya ya." saut Hui tu kesal.
"Sejak kapan kau mengikuti bahasa dari Cece kakek?" tanya Ze polos namun di tanggapi sebagai ejekan oleh Hui tu membuat wajah Hui tu makin terlihat sangat kesal.
"Aku tidak menggunakan bahasa dari Ceri emasmu itu." protes Hui tu.
"Lalu apa? Kau mengulang 3 kali satu suku kata seperti Cece jadi wajar jika aku menduga kau belajar memahami bahasa dari Cece agar dapat berbincang santai dengannya saat kau masih di dalam sini." ucap Ze santai.
"Aku di dalam sini untuk bertapa bukan untuk bersantai jika kau lupa itu." ucap Hui tu.
"Lalu kenapa? Kau tidak setiap saat bertapa bukan? Kau tentu membutuhkan teman berbicara saat kau tidak bertapa." ucap Ze.
"Aku tidak...." belum selesai Hui tu dengan kalimat bantahannya Ze sudah menyelanya.
"Sudah lah kakek tua. Aku sudah sangat lapar jika kau terus saja mendebatku, kapan kau akan menyiapkan makan untuk aku?" sela Ze membuat Hui tu mendengus kesal dan pergi sambil menggerutu kesal.
"Ah sebaiknya aku selesaikan dulu sisa topeng yang belum selesai itu. Setidaknya aku dapat menyelesaikan sebagian lagi agar tugasku segera selesai." ucap Ze lalu mulai lagi dengan kegiatannya membuat topeng dari wajah mentri Yun dan kaki tangannya.
Setelah 5 hari di dalam batu dimensi akhirnya tugas Ze selesai walau waktunya sedikit lebih lama karena ada gangguan dari Hui tu tentunya.
"Huft selesai juga akhirnya tugasku ini. Sebaiknya aku kembali ke luar saja sekarang juga. Aku ingin mengecek Cece di luar apa tidak ketahuan dengan orang lain." ucap Ze lalu pergi membawa 3 topeng yang sudah jadi tanpa membereskan sisa bahan dan alat yang dia gunakan untuk membuat topeng.
"Gadis bodoh." panggil Hui tu sebelum Ze keluar dari batu dimensi.
"Ya ada apa kakek?" tanya Ze.
"Mengapa kau memangil aku kakek terus?" protes Hui tu membuat Ze memutar mata jengah.
"Bukankah usiamu yang asli bahkan lebih tua dari kakekku?" tanya Ze balik.
"Ya tapi itu aku yang dulu. Kini aku menempati tubuh yang lebih muda setidaknya panggil aku paman saja." jawab Hui tu.
__ADS_1
"Ya terserah kakek paman." saut Ze membuat Hui tu mendengus kesal.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kakek paman tanyakan, aku akan keluar untuk setidaknya beristirahat walau hanya sebentar saja di luar." ucap Ze.
"Kau bukan hanya bodoh namun juga jorok. Bagaimana mungkin kau meninggalkan sampah-sampah itu tanpa kau bereskan terlebih dahulu?" ucap Hui tu sambil menunjuk sampah-sampah yang berserakan.
"Aku sengaja meninggalkan tugas untukmu paman kakek karena kau mengganggu saat aku serius dalam pembuatan topeng kemarin. Anggap itu hukuman karena memperlambat pekerjaan yang aku lakukan." ucap Ze lalu pergi tanpa menunggu sautan dari Hui tu lagi.
Ze keluar dari batu dimensi ternyata harinsudah gelap di luar sana. Ze langsung berjalan menuju jendela terbuka untuk memeriksa keadaan dari Ceri emas.
"Hm ternyata dia bisa berubah menjadi tanaman biasa juga." ucap Ze saat melihat keluar ternyata Ceri emas sedang bersandar pada ular api dalam wujud tanaman rambat berwarna hijau.
Yang Ze khawatirkan jika ada yang melihat tanaman berdaun emas dan orang itu memiliki kultivasi tinggi, Ceri emas bisa saja ditangkap oleh orang itu.
Ze tidak tahu ternyata tanaman rohnya itu dapat merubah warna dan juga wujudnya. Ze kembali ke kamarnya setelah memastikan Ceri emas dan juga Ular api baik-baik saja.
Ze segera merebahkan dirinya di atas ranjang dan karena lelah serta rasa kantuk yang menderanya dia segera terlelap dalam tidurnya.
Pagi harinya Ze dan yang lain kembali berkumpul di ruang makan. Mereka hanya terdiam sambil menyelesaikan sarapan mereka.
"Iya kakak iparku yang baik dan jenius. Kau sudah berkali-kali mengingatkan kami sejak kemarin." saut Huo nan.
"Bagus jika kau ingat. Aku ragu pada dirimu yang sangat teledor itu." ucap Ze.
"Tidak akan lupa kakak ipar. Aku masih sangat sayang pada hidupku ini. Aku hanya memiliki 1 nyawa yang hampir saja melayang sebelumnya. Tentu aku akan menjaganya baik-baik." jelas Huo nan.
"Sebaiknya seperti itu." ucap Ze.
"Ayo kita segera berangkat saja, kita tidak boleh terlambat agar dapat mencegat rombongan mentri Yun di hutan Wusi tepat pada waktunya." ajak Jin hu.
"Hm ayo." saut Ze.
Mereka ke luar dari istana setelah berpamitan pada Raja Ruo. Sedangkan pasukan gugus Zhong cheng yang di maksud Raja Ruo sudah menunggu mereka di hutan Wusi dan ternyata Raja Ruo mengutus lebih banyak pasukan gugus Zhong cheng ke sana untuk membantu untuk menghindari segala kemungkinan seperti prajurit atau penjaga rahhasia yang tidak terduga dari pihak musuh mereka yang bisa membuat misi gagal.
"Hormat kami Yang mulia tuan Jin..! Hormat kami putri...!" seru semua prajurit gugus Zhong cheng sambil menunduk hormat saat melihat Jin hu dan Ze berjalan mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
"Hm ayo kita bersiap pada posisi masing-masing. Kalian tentu sudah tahu untuk apa kalian berada di sini bukan?" tanya Jin hu.
"Ya Yang mulia tuan Jin...!" seru mereka kompak.
"Jika ada yang masih kalian belum pahami maka bertanya sekarang juga sebelum target kita masuk dalam wilayah serang kita." ucap Jin hu.
"Baik jika tidak ada lagi yang kalian bingungkan, maka kalian bisa menpati posisi masing-masing." ucap Jin hu.
"Baik Yang mulia." seru mereka serempak lalu bubar dan menempati posisi masing-masing.
Tidak lama setelah itu ada suara mirip suara gagak yang ternyata pertanda dari yang bertugas mengawasi di tepi hutan yang berarti target sudah akan memasuki hutan.
"Lapor Yang mulia, putri..! Target kita telah memasuki hutan." lapor seorang prajurit pada Jin hu.
"Mari bersiap dan tunggu aba-aba dariku. sebelum ada aba-aba jangan bertindak sedikit pun." ucap Jin hu dan semua telah bersiap dengan menggunakan masker penutup wajah agar tidak dikenali oleh rombongan mentri Yun.
Ze bahkan mengenakan pakaian pria membuatnya nampak seperti pria kecil yang tampan. Tapi para prajurit itu tahu dia adalah seorang gadis karena Raja Ruo mengatakan pada mereka bahwa yang akan datang hanya ada 2 orang dan mereka sepasang pria dan wanita muda.
Mereka adalah Jin hu dan calon istrinya putri Ze. Mereka sangat mengenali Jin hu sehingga mereka dapat menebak jika Ze yang berpakaian pria adalah gadis yang dimaksud Raja mereka.
"Itu Rombongan mereka." bisik Jin hu pada Ze dan diangguki Ze. Mereka semua bersiap menunggu aba-aba dari Jin hu untuk menyergap rombongan mentri Yun. Jin hu mengangkat tangan tanda bahwa seluruh prajurit itu sudah harus siap menyerang saat tangan Jin hu terayun ke bawah.
Hai readers setia Ze dan Jin hu.
Author udah kasih up lebih banyak nih ya๐
dari pagi sampe malam udah 4 bab loh๐ฒ
kira-kira masih ada up gak ya sebelum tengah malam nanti?๐๐๐
Bisa ada sih kalau Votenya nambah lagi๐
Makanya jika penasaran sama lanjutan cerita aksi Ze dan Jin hu, Vote like dan komennya jangan kendor dong๐ฏ
salam hangat penuh cinta dari Author dan Ze
__ADS_1