Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
misi menyelamatkan permaisuri pertama 2


__ADS_3

Mereka hanya akan menyeret tubuh anggota komplotan pemberontak itu ke dalam semak dan ditinggalkan begitu saja.


"Di mana yang lainnya?" tiba-tiba mereka mendengar suara seseorang berseru dari jarak yang cukup jauh dari mereka.


"Sedang menyebar kakak Long." jawab seseorang dari dekat Ze. Ze bersembunyi di balik pohon di belakang orang itu sehingga tidak terlihat.


"Tapi, kemana mereka semua? Cepat sekali mereka menghilang." tanya pria yang menjawab tadi pada rekannya yang masih tersisa.


"Bukankah kau sendiri yang katakan pada kak Long bahwa yang lain sedang menyebar?" tanya balik temannya itu.


"Plak!" pria tadi memukul kepala temannya itu.


"Aduh sakit....! Mengapa kau memukul kepalaku?" tanya rekannya itu kesal.


"Apa kau sudah bodoh? Jika aku menjawab tidak tahu maka aku akan kehilangan kepala saat itu juga. Kau ingin membuat kak Long marah dan menghabisi kita?" ucap pria tadi kesal.


"He he he kau benar juga. Ya sudah ayo kita cari yang lainnya dulu. Sebelum kak Long kembali mencari kita semua." ajak rekannya tadi.


"Ayo aku akan mencari ke arah sana dan kau cari ke arah sebaliknya." ucapnya dan mereka pergi secara terpisah.


Ze dan Jin hu saling kode untuk menghabisi mereka segera dan dengan cepat Ze meraih tubuh satu pria itu membekap mulutnya dan sekali tarik lehernya sudah mengeluarkan darah yang sangat deras.


Jin hu dengan cepat meraih kepala yang lain dan memutarnya satu kali gerakan pria itu langsung tumbang.


Mereka bergerak lincah ke arah orang yang dipanggil Kak Long itu menghilang. Setelah cukup jauh mengejar akhirnya mereka dapat melihat sebuah gua yang cukup besar.


Dari atas pohon mereka dapat melihat ada cukup banyak orang yang sedang beraktifitas santai mondar mandir di depan gua itu. Ada beberapa bangunan pondok kecil sederhana sekitar sana, orang-orang yang ada terlihat beraktifitas layaknya aktifitas harian normal sebuah perkampungan.


Ada yang duduk bercengkrama, ada yang memanggul kayu, memasak, mencuci dan menjemur pakaian bahkan ada anak-anak yang bermain santai.


"Mengapa kelompok ini justru terlihat seperti sebuah perkampungan biasa bukannya sebuah kelompok pemberontak?" tanya Ze.


"Entah aku juga tidak tahu." jawab Jin hu.


"Aku tidak ingin kalau kita sampai melukai orang tidak bersalah." ucap Ze.


"Aku juga sama sepertimu. Aku tidak ingin melikai orang yang tidak bersalah." saut Jin hu.


"Sebaiknya kita mengamati saja dulu hingga orang bernama kak Long itu terlihat." saran Jin hu.

__ADS_1


"Ya sebaiknya begitu saja." ucap Ze.


"Kau di sini saja mengamati dan mengawasi keadaan. Aku akan berkeliling mencari sesuatu yang mungkin terlihat mencurigakan. Jangan bertindak gegabah selama aku tidak di sini." ucap Jin hu.


"Baik aku hanya akan mengamati dan mengawasi saja tidak akan bertindak sampai kak Jin hu datang." ucap Ze membuar Jin hu tersenyum.


"Anak pintar." ucap Jin hu sembari mengacak rambut Ze.


"Aku bukan anak kecil." bantah Ze.


"Tentu bukan anak kecil. Bagaimana mungkin aku akan menikahi seorang anak kecil?" saut Jin hu.


"Ya sudah pergi cepat sana." usir Ze.


"Baiklah, ingat untuk tidak bertindak sebelum aku kembali apapun yang kau saksikan." ucap Jin hu memberi peringatan.


"Iya aku hanya akan mengamati di sini." ucap Ze.


Jin hu segera pergi dari sana mengambil jalan memutar menuju balik gua itu. Jin hu sesekali akan menjumpai orang-orang bersenjata dengan pakaian serupa dengan kelompok yang dia dan Ze tangani sebelumnya.


Dengan lincah Jin hu menghabisi satu persatu dan menyembunyikan mayat dari kelompok itu.


"Nampaknya ada gua lain di hutan ini." gumam Jin hu saat melihat beberapa orang berpakaian sarupa dengan orang-orang yang dia bantai tadi keluar masuk dari sebuah gua.


Perlahan Jin hu turun dari pohon tempat dia mengamat. Jin hu mendekat perlahan ke arah gua itu.


"Mengapa kelompok yang bertugas menyisir hutan belum juga kembali?" tanya seorang pria pada rekannya.


"Saya juga tidak tahu ketua. Baru kali ini mereka terlambat melapor." jawab pria di sebelahnya.


"Ruo dan Long!" panggilnya.


"Kami ketua." saut Ruo dan Long bersamaan.


"Aku merasa ada sesuatu yang salah tengah terjadi di luar sana. Kalian periksalah dulu." ucap pria yang disebut ketua itu.


"Baik ketua." saut mereka kompak lalu pergi dari sana segera.


Jin hu mengikuti kedua orang itu dengan lincah hingga dia merasa sudah cukup jauh dan aman untuk bergerak dia mengumpulkan tenaga dalamnya dan mengarahkannya pada mereka berdua hingga mereka terhempas menghantam pohon.

__ADS_1


"Duak duak bruk bruk." keduanya menghantam batang pohon lalu tersungkur ke tanah.


"Uhuk uhuk uhuk." batuk keduanya.


"Siapa kau? Mengapa kau menyerang kami?" tanya pria bernama Long.


"Di mana permaisuri pertama?" tanya Jin hu langsung membuat keduanya terbelalak.


"Siapa yang kau maksud? Kami tidak mengerti mengapa seorang permaisuri harus berada di dalam hutan." jawab pria bernama Ruo.


Jin hu menggunakan tenaga dalamnya menekan tubuh keduanya membuat mereka tidak bisa bergerak dan sulit bernapas.


"Di mana kalian sekap permaisuri pertama dari Raja Ruo? Raja dari kerajaan api penyucian!" tanya Jin hu lagi.


"Siapa pria ini? Tenaga dalamnya sangat kuat bisa menekan kami hingga tidak mampu berkutik lagi. Dari mana dia tahu tentang permaisuri pertama?" batin Long.


"Kami tidak tahu." jawab Ruo.


"Aku tahu kalian menyekapnya. katakan atau..." ancam Jin hu.


"Bunuh saja kami jika kau mau." tantang Long membuat Jin hu menyeringai.


"Siapa bilang aku akan membunuh kalian? Mati terlalu bagus sebagai hukuman. Aku akan memutus semua titik energi di tubihmu agar kau menjadi sampah tidak berguna." ancam Jin hu membuat keduanya terbelalak.


Mereka kini pucat pasih dengan keringat membasahi wajahnya. Bagi mereka kematian bukanlah hal mengerikan. Tapi, hidup menjadi sampah yang tidak berguna adalah ketakutan paling besar di hidup mereka.


"Katakan maka kalian tidak akan menjadi sampah." tawar Jin hu.


"Baik aku katakan." ucap Long.


"Iya kami akan katakan." saut Ruo.


"Maka katakan sekarang juga. Tapi ingat satu hal. Jika kalian berani berbohong maka, aku akan kembali dan membuat kalian menjadi sampah." ancam Jin hu.


"Kami menyembunyikan permaisuri pertama di dalam gua suku Guogu di depan sana." jawab Long.


"Tolong bunuh kami saja agar keluarga kami aman. Kami sudah berkata jujur." pinta Ruo.


"Baik akan aku kabulkan keinginanmu itu." ucap Jin hu dan dengan sekali kibasan tangannya keduanya memuntahkan darah dan mati begitu saja.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dan juga aksi Ze dengan


Vote like dan koment


__ADS_2