Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Terima kasih karena telah hadir dalam hidupku


__ADS_3

"Mengapa kau yakin jika Huo nan ada di depan sana bersama mereka?" tanya Jin hu heran.


"Aku menaruh sesuatu di tubuh Huo nan dan tubuhmu semalam karena aku merasa sedikit tidak tenang. Aku dapat merasakan keberadaan kalian melalui benda itu." jawab Ze.


Ze terus saja melangkah sepelan mungkin agar tidak disadari oleh siapapun di depan sana jika dia mendekat.


"Ambil peluit dari king wolf ini untuk berjaga dari serangan sihir. Aku sudah ada cincin dari poci yang juga menjagaku dari sihir." ucap Ze.


Jin hu mengambil peluit dari Ze dan mengalungkannya di lehernya. Ze tidak menggunakan peluit itu karena dia sudah ada cincin dari poci sehingga dia hanya menaruhnya di kantong saja.


"Ayo ke sana perlahan." ajak Ze.


Ze dapat melihat dari balik pohon saat ini Huo nan sedang dibaringkan di atas batu datar dan seseorang sedang mengasah pedang di dekatnya.


Ada banyak jumlah orang di sana dan Ze melihat Huo nan sudah sangat pucat.


"Huo nan dalam bahaya dan kita butuh bantuan agar dapat segera menolong Huo nan." gumam Ze.


Ze lalu melihat peluit di leher Jin hu dan teringat jika itu dapat memanggil kawanan serigala.


"Berikan aku peluit itu sebentar saja." ucap Ze dan Jin hu segera memberikannya pada Ze.


Ze segera meniup peluit itu tidak ada suara yang keluar dari peluit itu saat Ze meniupnya membuat Ze heran.


"Yang di kirim pada king wolf adalah gelombang sihir pemanggil. Tentu hanya kawanab serigala yang dapat mendengarnya." jelas Jin hu menyadari kebingungan dari Ze.


"Oh aku paham sekarang." saut Ze sambil mengangguk paham.


Tidak perlu menunggu lama kawanan serigala datang dan Ze lalu memberi aba-abanya untuk menyerang tanpa basa basi lagi mengingat keadaan Huo nan yang sudah sangat kritis.


"Aaauuuuu aaauuuu aaauuuu" longlongan serigala terdengar mendekat dan Ze tersenyum bahagia.


"Aaauuuuu aaauuuu aaaauuuu" kini kawanan serigala telah berdiri di depan Ze.


"Ayo serang mereka!" seru Ze menunjuk ke arah kelompok orang di depan dan kawanan itu segera menerjang ke arah ke lompok itu dan segera menyerang setiap orang yang di jumpainya.


Ze segera berlari ke arah Huo nan diikuti oleh Jin hu. Saat sudah tiba di dekat Huo nan Ze segera melemparkan belatinya ke arah orang yang mengasah pedang tadi yang kini diam terpaku melihat kawanan serigala menyerang kelompoknya. Ze berlutut di samping Huo nan dan segera meraih tangannya untuk memeriksa nadi Huo nan.


"Astaga." seru Ze terkejut menyadari jika Huo nan sudah hampir tiba di akhir kemampuan tubuhnya untuk bertahan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Jin hu penasaran juga khawatir dengan kondisi Huo nan.


"Keadaannya sudah sangat kritis bahkan sebentar lagi saja kita terlambat maka Huo nan sudah mati." jawab Ze sambil mengiris luka gigitan ular di pergelangan tangan Huo nan.


Ze menaburkan pil yang sudah dia hancurkan menjadi bubuk pada luka itu. Ze juga meneteskan air suci lalu memasukkan pil penawar segala racun pada mulut Huo nan. Karena kondisi Huo nan yang sudah tak mampu menelan Ze menotok beberapa daerah di leher dan dada Huo nan hingga pil tersebut tertelan.


"Bantu aku mendudukkan tubuhnya." ucap Ze pada Jin hu tanpa menoleh Jin hu dan Jin hu yang tahu kata perintah itu ditujukan padanya, segera mendudukkan Huo nan.


Ze mengerahkan tenaga dalamnya pada punggung Huo nan dan kembali menotok beberapa titik di punggung Huo nan.


Beberapa saat kemudian Huo nan memuntahkan darah Hitam dari mulutnya.


"Uhuk uhuk uhuk." Huo nan terbatuk sesaat setelah memuntahkan darah hitam tadi.


Mendengar Huo nan terbatuk, Ze menghela nafas lega. Ze segera mengambil kantong air miliknya dan memberikan pada Jin hu.


"Beri air ini pada Huo nan agar dia minum untuk mensyabilkan kondisi tubuhnya." ucap Ze.


"Baik." jawab Jin hu dan segera meraih tempat air milik Ze.


Huo nan membantu Huo nan agar meminum air suci dari Ze.


"Minumlah sedikit saja." ucap Jin hu.


Ze tersenyum melihat kelompok itu yang mulai tumbang satu per satu.


"Habisi mereka semua dan jangan biarkan mereka lolos satupun." seru Ze.


"Ayo kita pergi dari sini." ajak Ze pada Jin hu.


Jin hu mengangguk lalu membantu Huo nan berdiridan segera memapahnya untuk menjauh dari kekacauan itu.


Setelah sampai di pinggir hutan Ze segera mengeluarkan Horse dragon fly dari batu dimensinya.


Jin hu segera memapah Huo nan masuk ke dalam kereta. Jin hu meletakkan dan membantu Huo nan agar beristirahat di dalam kereta.


Ze duduk bersila lalu menelan pil roh miliknya. Mengeluarkan racun di tubuh Huo nan sudah sangat menyita tenaga dan juga energinya.


Jin hu melihat Ze duduk dalam posisi semedi untuk menyeimbangkan energi dalam tubuhnya.

__ADS_1


Setelah cukup lama Ze mulai membuka mata dan ternyata kawanan serigala sudah berbaris di depannya.


"Terima kasih sudah datang membantu." ucap Ze dan king Wolf mengangguk.


"Aaauuuu aaauuuu aauuu." serigala itu melolong lalu pergi dari sana.


Ze dan Jin hu segera naik ke kereta dan segera pergi dari hutan itu.


"Hampir saja kalian berdua celaka." ucap Ze.


"Ya beruntung kau ada menolong kami saat itu." saut Jin hu.


"Berapa jauh lagi istana api penyucian?" tanya Ze.


"Sudah dekat kemungkinan tengah hari kita sudah tiba di istana api penyucian." jawab Jin hu.


"Sebaiknya kita mencari kedai dulu untuk mengisi perut kita semua. Tentu kau sudah sangat lapar setelah cukup banyak menggunakan tenaga dalam untuk mengeluarkan sisa racun di tubuh Huo nan." ucap Jin hu.


"Ya sebaiknya seperti itu." saut Ze mengiyakan.


Setelah mendapat kedai mereka makan termasuk Huo nan yang sudah bangun dengan kondisi yang lumayan membaik.


Sesudah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju istana api penyucian.


"Terima kasih kakak ipar sudah menyelamatkan nyawaku." ucap Huo nan.


"Hm itu sudah seharusnya dilakukan karena kita adalah satu kelompok yang harus saling menolong dan menjaga saat ini." jawab Ze.


"Sebaiknya kau beristirahat lagi untuk memulihkan kondisimu." ucap Ze dan Huo nan hanya mengangguk mengiyakan dan segera berbaring.


Ze bersandar pada tubuh Jin hu dan segera tertidur tanpa aba-aba lagi.


Jin hu tersenyum melihat Ze tertidur bersandar pada dada bidangnya. Dia memeluk tubuh Ze sambil mengelus pelan kepala Ze.


"Masih saja dia tertidur tiba-tiba." gumam Jin hu.


"Terima jasih karena telah hadir dalam hidupku." ucap Jin hu pada kekasih hatinya yang sedang tertidur itu.


"Kau memberi warna berbeda dalam hariku dan memberikanku rasa nyaman serta ketenangan batin saat kau berada di sisiku." ucap Jin hu lagi sambil tersenyum dengan tangan masih asik mengelus kepala Ze.

__ADS_1


jangan lupa terus dukung author dengan memberikan Vote like dan komen kalian


Jika ada dan tidak keberatan sedikit tip juga boleh😉


__ADS_2