
"Bawa tubuh mentri Qin keluar dari sini dan kalian semua sudah dapat keluar dari sini. Aku tidak ingin Rong yuo merasa terganggu karena terlalu ramai." ucap Raja Ruo dan mereka semua pergi dari sana.
Karena cukup lama menggeledah setiap sudut bangunan dan tidak menemukan apa pun permaisuri akhirnya pasrah dan keluar juga dari sana. Dengan perasaan kesal juga ada rasa puas. kesal karena Raja Ruo membela Ze dan rekannya dan senang karena dapat melihat sendiri kondisi menyedihkan dari Pangeran Rong yuo.
"Huh dasar ular yang sangat licik. " gumam Huo nan karena tidak sengaja melihat perubahan ekspresi dari wajah permaisuri tadi.
"Hati-hati dalam membuat perbandingan terhadap ular api. Apakah kau tidak takut jika ular api akan marah jika tahu kau membandingkan dirinya dengan wanita licik dan picik seperti dia?" tegur Ze membuat Huo nan tiba-tiba membatu karena baru ingat kalau ular api saat ini tidak berada di dalam Batu dimensi dan yang paling penting adalah saat ini ular api sedang berada di dekat bangunan yang dia tempati saat ini.
Tentunya dia sangat takut jika harus membayangkan saat ular api mengamuk. Jangankan mengamuk, melihat ular api dalam keadaan tenang dan santai saja dia sudah bergidik ngeri dibuat olehnya.
"Mengapa kau terdiam?" tanya Ze membuat Huo nan tersadar dari lamunannya.
"Ah....! Oh tidak kakak ipar. Aku hanya....! " ucapan Huo nan terpotong oleh tebakan Ze.
"Kau hanya sedang membayangkan bagaimana jika ular api mengamuk dan menyerang dirimu bukan?" tebak Ze membuat Huo nan hanya mampu tersenyum kikuk.
"He he he.... Kakak ipar sungguh paling tahu apa yang sedang difikirkan oleh orang di sekitarnya." puji Huo nan sambil nyengir kuda.
"Kau tidak perlu memuji aku karena bukan aku yang akan tersinggung dengan ucapan dari mu itu." Ucap Ze sambil tersenyum jahil melirik ke arah Huo nan.
Jin hu tersenyum melihat kekasihnya sedang mengerjai adik seperguruannya itu. Sedangkan Huo nan saat ini sudah pucat gara-gara ucapan dari Ze.
"Aku hanya bercanda saja." Ucap Ze akhirnya karena kasihan melihat wajah pucat Huo nan.
"Kakak ipar bercandamu itu tidak lucu." Ucap Huo nan mendengus kesal.
"Ha ha ha... Dasar kau sungguh ini sangat menyenangkan melihat kau ketakutan." ucap Ze sambil tertawa memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
__ADS_1
"Kau sungguh sangat menikmati melihat aku menderita kakak ipar." ucap Huo nan dengan wajah sedih membuat Ze semakin tidak bisa menahan tawanya.
"Huft oke aku berhenti tertawa." Ucap Ze saat melihat wajah kesal Huo nan.
"Sekarang kita akan membahas yang lain saja." Ucap Ze.
"Membahas apa lagi?" tanya Huo nan.
"Tentu saja masalah selanjutnya setelah kematian dari mentri bodoh itu. Tugas selanjutnya adalah menyingkirkan tuan Qu dan tuan Zu." ucap Ze.
"Hm benar juga kebodohan dari mentri Qin memudahkan tugas kita sekarang ini." saut Jin hu.
"Aku sungguh tidak pernah menduga jika seorang yang berusia tua yang seharusnya memiliki fikiran bijak dan hati yang lapang, bisa sebodoh itu termakan emosi yang membawanya pada kehancuran." ucap Ze.
" Ya terkadang jabatan yang tinggi dapat membuat fikiran dan hati menjadi dangkal karena kesombongan yang muncul menyertai jabatan itu." Saut Jin hu.
"Kita tunggu saat yang tepat membawa Yuo fan menuju ke hutan Fujian. Setelah itu, kita akan mengurus masalah lainnya." bisik Ze pada Jin hu.
"Kita akan menggunakan alasan untuk mencari ramuan untuk mengobati pangeran Rong yuo saja." usul Ze membuat Jin hu tersenyum dan mengelus pelan kepalanya.
"Kau sungguh gadis jenius." puji Jin hu.
"Mereka akan berfikir ribuan kali untuk masuk ke dalam bangunan ini setelah melihat bagaimana mentri Qin tewas hari ini. Jadi tidak akan ada masalah dengan mereka berdua saat kita meninggalkan mereka di sini beberapa hari ini." ucap Ze.
"Kalian akan pergi lagi?" tanya Huo nan.
"Ya kami harus pergi mengurus sesuatu. Kita harus menuntaskan segala urusan yang telah kita ambil bagian dari itu. Aku tidak pernah menangani masalah dengan setengah- setengah. Jadi jika ingin segera pulang maka kita harus segera mengurus segala sesuatu di sini. " jelas Ze.
__ADS_1
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi dan akan menemani pangeran Rong yuo di sini dengan tenang." pasrah Huo nan.
"Ingat untuk tidak keluar dari bangunan ini selama kami tidak ada di sini. Aku sangat yakin bahwa orang-orang dari keluarga Qin akan mencari cara untuk membalas dendam kepada kita karena tidak terima dengan kematian mentri Qin. Jadi untuk keamanan kalian berdua, tetap tenang di dalam bangunan ini. " ucap Ze.
"Baik kakak ipar." saut Huo nan.
"Hoams aku masih sangat mengantuk." keluh Ze.
"Kembalilah tidur dulu. Kita akan menemui guru siang ini dan langsung berangkat setelahnya." ucap Jin hu.
"Hm." saut Ze lalu bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah kamarnya.
Siangnya mereka berdua menghadap pada Raja Ruo untuk pergi membawa Yuo fan. Tapi, mereka berdua tidak menyebutkan sama sekali tentang tujuan mereka. Soal kemana mereka akan membawa Yuo fan menjadi rahasia mereka berdua. Terlebih soal hutan Fujian ini mereka ingin lebih sedikit yang tahu tentang itu.
Karena sudah percaya dengan dua orang itu, Raja Ruo tidak lagi bertanya tentang tujuan mereka berdua. Raja Ruo yakin bahwa apapun yang mereka berdua lakukan itu ada alasan yang tepat dan tentunya untuk kebaikan semua.
"Hati-hati di jalan dan segera kembali. Tentu Rong yuo sangat ingin segera pulih dari penyakit yang dia derita selama ini. Semoga kalian dapat menemukan ramuan yang sesuai untuk menyelamatkan Rong yuo." ucap Raja Ruo dengan suara yang sedikit lebih keras.
"Tentu kami akan berusaha semampu kami. Kondisi pangeran Rong yuo adalah yang terpenting bagi kami saat ini." ucap Ze dengan nada suara yang juga dikeraskan.
Mereka sengaja membuat diri mereka menjadi target utama dari permaisuri agar Raja Ruo dapat melakukan tugas baru untuknya.
Hai hai hai....
Para readers setia aksi Ze dan Jin hu
jangan lupa untuk tetap mendukung Author dan Ze dengan terus memberikan
__ADS_1
Vote, like dan komen kalian
Salam hangat dari Author dan Ze tentunya.