
"Sebaiknya kak Jin hu memberikan aku alasan agar dapat menghindari mereka sebelum aku lepas kendali dan membuat kekacauan karena melihat wajah mengesalkan permaisuri ular itu." bisik Ze.
"Tenang saja aku akan menjauhkan kau dengan permaisuri licik itu. Aku juga muak jika harus berhadapan dengan permaisuri licik itu." saut Jin hu juga berbisik.
Jin hu menghampiri gurunya itu lalu menunduk hormat.
Mereka kemudian berpelukan karena itu sudah menjadi kebiasaan mereka saat bertemu atau akan berpisah semenjak Jin hu menjadi murid dari Raja Ruo.
"Kalian sudah kembali sebaiknya kita langsung menuju ke ruang perjamuan." ajak permaisuri saat ini.
"Maafkan kami berdua bila tidak sopan. Tapi, perjalanan kami cukup jauh dan sedikit ada perkelahian dengan beberapa perampok di tengah perjalanan pulang kami. Kami sudah tidak bertenaga untuk menerima jamuan jadi mohon maafkan kami harus segera mengistirahatkan tubuh lelah kami ini." ucap Jin hu menolak dengan halus ajakan permaisuri.
Wajah permaisuri berubah senyumnya memudar karena merasa tidak dihargai namun sesaat kemudian dia berusaaha memasang kembali senyum di wajahnya.
"Jika seperti itu permaisuri ini akan memerintahkan orang untuk menyediakan kamar untuk kalian." ucapnya dengan senyum palsunya.
"Tidak perlu karena guru sudah memberikan kami kamar sebelumnya dan kami sidah sangat lelah. Permisi dan maaf kami harus segera beristirahat agar calon istri saya itu dapat melakukan terapi untuk guru besok." tolak halus Jin hu.
"Ya Jin hu benar. Kalian pergilah ke kamar kalian untuk segera beristirahat dan yang lain, ingat untuk tidak mengusik mereka dengan alasan apapun. Aku mengatakan untuk semua orang dan aku menganggap yang melanggar ucapanku tadi sebagai seorang pemberontak." jelas Raja Ruo dengan ancaman.
"Terima kasih Guru." ucap Jin hu lalu pergindari sana bersama Ze.
"Ingat ini berlaku untuk semua orang tanpa terkecuali termasuk permaisuri juga." sambung Raja Ruo lagi.
Raja Ruo menangkap ketidak nyamanan Jin hu kepada permaisurinya itu. Sehingga dia membuat pengumuman itu dengan tujuan utama agar permaisurinya tidak menjumpai Jin hu dan Ze dengan berbagai alasan.
Raja Ruo sangat tahu sifat tidak menyerah dari permaisurinya yang akan melakukan cara apa saja untuk menjumpai Ze yang dianggap tamu penting Raja untuk bisa menjadikan Ze rekannya.
Mendengar ancaman Raja Ruo senyum di wajah permaisuri benar-benar memudar dan ada kekesalan dan kemarahan terlihat dari raut wajah serta tatapan matanya.
"Ayo kita ke tempat perjamuan saja." ajak Raja Ruo.
"Baik Yang mulia." saut permaisuri yang kini sudah memasang wajah tersenyum lagi.
Jin hu dan Ze kembali ke tempat pangeran Rong yuo dan Huo nan berada. Melihat Jin hu dan Ze datang, Huo nan tersenyum senang dan menghampiri mereka.
"Kakak kedua...! Kakak ipar...!" seru Huo nan.
__ADS_1
"Mengapa kalian sangat lama pergi?" tanya Huo nan.
"Ada beberapa masalah yang harus kami urus dan baru selesai." jawab Ze.
"Mengapa kau mengeluh seperti anak kecil yang ditinggal pergi oleh orang tuanya?" tanya Jin hu dengan nada ejekan.
"Aku hanya merasa kesepian karena hanya berdua dengan pangeran Rong yuo." jawab Huo nan.
"Di mana pangeran Rong yuo sekarang?" tanya Ze.
"Dia di kamarnya sedang membersihkan diri karena berkeringat sehabis minum ramuan." jawab Huo nan.
"Aku istirahat dulu sebentar sebelum aku memeriksa keadaan pangeran Rong yuo. Setelah itu baru aku bisa pastikan pengobatan sudah bisa berlanjut pada tahap selanjutnya atau masih harus meneruskan tahap sebelumnya lagi." jelas Ze lalu melangkah ke arah kamar yang sudah disediakan untuknya di dalam bangunan itu tanpa menunggu jawaban atau tanggapan dari dua orang di sana.
Sore harinya Ze memeriksa keadaan paneran Rong yuo dan di sana sudah ada Raja Ruo yang juga sudah tidak sabar ingin mengetahui perkembangan putranya.
Ze tersenyum setelah memeriksa kondisi pangeran Rong yuo. Membuat Raja Ruo dan pangeran Rong yuo semakin penasaran ingin mendengar penjelasan Ze tentang kondisinya.
"Bagaimana keadaan Rong yuo saat ini? Apakah sudah bisa menjalani pengobatan selanjutnya?" tanya Raja Ruo.
"Buka baju anda dan duduk dalam posisi bertapa di depanku." ucap Ze.
Tanpa menunggu lama pangeran Rong yuo sudah membuka baju lalu duduk di depan Ze dengan bertelanjang dada.
"Proses pengobatan ini tidak bisa terganggu sedikit pun kalau tidak akan berbahaya bagi kami berdua. Pastikan tidak ada yang mengganggu saat aku mulai hingga selesai." ucap Ze dan Jin hu sigap mengeluarkan pedang lalu mundur beberapa langkah.
"Kau tenang saja. Aku akan melindungi kalian dari gangguan apa pun." ucap yakin Jin hu.
"Ya aku juga akan berjaga" ucap Huo nan.
"Aku juga tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu pengobatan ini." saut Raja Ruo.
"Setelah menelan pil ini tubuhmu akan terasa seperti terbakar. Kau harus tahan dan tetap duduk pada posisi ini jika memang kau masih ingin memiliki kultivasi. Aku akan membuka segel hati dan setelah semua selesai rasa terbakar itu akan berangsur menghilang." jelas Ze sambil menunjukkan sebutir pil berwarna merah menyala.
"Apa kau siap?" tanya Ze.
"Ya aku siap." jawab Pangeran Rong yuo tegas.
__ADS_1
"Ambil dan telan pil api suci ini." ucap Ze dan pangeran Rong yuo segera melakukannya.
"Akh ah." pekik pangeran Rong yuo setelah pil api suci itu berhasil ditelannya.
Tubuh pangeran Rong yuo tiba-tiba berasap dan keringat besar sudah keluar dari sekujur tubuhnya.
Ze mengarahkan telapak tangannya ke arah dada pangeran Rong yuo. Dapat yang lain lihat ada cahaya samar keluar dari telapak tangan Ze.
"Akh...!" pekik Pangeran Rong yuo karena rasa terbakar yang semakin terasa.
Kedua tangan pangeran Rong yuo kini sudah mengepal kuat menahan panas yang sangat menyiksanya itu.
Demi tekadnya untuk kembali memiliki kultivasi pangeran Rong yuo menahan sekuat mungkin rasa terbakar di dalam tubuhnya terutama pada dadanya.
Saat Ze tengah fokus membongkar segel es hati pada dada pangeran Rong yuo tiba-tiba sebuah belati terbang mengarah pada Ze.
Beruntung Jin hu sigap menangkap belati itu lalu melempar kembali ke arah belati itu berasal.
Jin hu melihat jika ada sekelebat bayangan berlari dari sana dan mengejarnya.
"Guru dan Huo nan jaga mereka baik-baik aku akan mengejar orang itu." ucap Jin hu lalu berlari ke arah perginya bayangan tadi.
Jin hu melihat orang yang dia kejar berlari di atas atap dan segera mengejarnya dengan melompat ke atas atap Juga.
Jin hu mengumpulkan energi di telapak tangannya lalu mengarahkan pada sosok yang dia kejar itu.
"Akh...." pekik orang itu karena terkena serangan Jin hu.
"Ingin lari setelah mencoba menyakiti gadisku? Jangan bermimpi." ucap Jin hu lalu kembali mengarahkan kekuatannya ke arah orang yang sudah terjatuh ke tanah itu.
Sekali serang orang itu terbelalak dan mulutnya mengeluarkan darah kemudian tidak lagi bergerak.
"Penjaga!" panggil Jin hu.
"Ya tuan Jin hu." jawab 2 orang penjaga.
"Jaga baik-baik mayat ini. Jangan biarkan siapa pun kecuali saya dan Guru menyentuh tubuh mayat ini." ucap Jin hu lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari ke dua penjaga itu.
__ADS_1