Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
Memastikan keamanan pangeran Rong yuo


__ADS_3

Mereka berjalan menuju kamar tempat Ze. Jin hu mengecup singkat pucuk kepala Ze lalu tersenyum dan mengusap pelan kepala Ze.


"Masuklah dan segera tidur. Selamat malam." ucap Jin hu.


"Hm selamat malam." saut Ze lalu masuk kedalam kamarnya.


Ke esokan paginya Ze, Jin hu, Huo nan dan juga pangeran Rong yuo duduk bersama di ruang makan.


"Sebaiknya pangeran berpura-pura kembali murung dan mengurung diri untuk sementara waktu untuk menghindari kecurigaan permaisuri dan pera pengikutnya dan juga demi keamanan pangeran karena kondisi pangeran yang masih lemah juga kultivasi pangeran yang masih terbilang rendah sebaiknya kita jaga agar mereka tidak menargetkan pangeran." ucap Ze menjelaskan maksudnya.


"Baik putri Ze jika menurut putri Ze itu yang terbaik untuk keadaan saat ini, maka aku akan menurut saja." saut Pangeran Rong yuo.


"Huo nan." panggil Jin hu sambil melihat ke arah Huo nan duduk.


"Ya kakak kedua ada apa?" tanya Huo nan juga menoleh ke arah Jin hu.


"Sebaiknya selama masalah dengan permaisuri belum terselesaikan dengan baik, kau jangan kemana-mana dulu. Kau tetaplah tinggal di sini menjaga pangeran Rong yuo tidak perlu ikut menjalankan tugas di luar. Cukup kami saja yang bertugas mengurus para gulma itu.


Walau di sekitar pangeran Rong yuo ada beberapa orang pengawal rahasia yang guru selalu utus mengawasi dan menjaga pangeran Rong yuo saat dia sendiri, tapi kita akan lebih merasa tenang jika ada kau yang kami kenal baik yang selalu ada di sisinya ketika kami tidak ada di sini." jelas Jin hu memberi saran.


"Baik kakak kedua aku akan melakukan sesuai yang kakak kedua katakan. Aku akan tetap di sini sampai masalah dengan permaisuri terselesaikan untuk memastikan keselamatan dari pangeran Rong yuo." saut Huo nan.


"Terima kasih semuanya, aku tidak tahu lagi harus bagaimana berterima kasih atas segala yang kalian telah lakukan untuk kami." ucap Pangeran Rong yuo.


"Jangan berterima kasih dulu pangeran. Perjalanan untuk meraih sukses itu masih terlalu jauh saat ini jadi belum tepat untuk kata itu. Jika memang pangeran sungguh ingin berterima kasih, cukup berusaha agar tidak tersulut emosi berlebihan dan tingkatkan kultivasi pangeran semaksimal yang pangeran mampu agar usaha kami tidak sia-sia." ucap Ze.

__ADS_1


"Baik putri Ze aku akan berusaha sekuat dan sebisa mungkin untuk dapat menjadi seorang peraih kultivasi tinggi." saut Pangeran Rong yuo.


Selesai sarapan pangeran Rong yuo kembali ke kamarnya seluruh jendela di bangunan itu kembali di tutup rapat oleh Ze untuk dapat meyakinkan lawan tentang kondisi pangeran Rong yuo saat ini dan juga demi keamanan pangeran Rong yuo dan juga Huo nan.


Ze tidak hanya menutup rapat-rapat dan mengunci seluruh jendela yang ada di bangunan itu, dia juga memasang beberapa perangkap di sana agar memastikan keamanan pangeran Rong yuo.


Ze melarang tegas untuk Huo nan dan juga pangeran Rong yuo untuk menyentuh terlebih membuka jendela yang dia telah tutup dan otak atik.


Karena, dengan membuka jendela sama saja dengan mengaktifkan perangkap yang dia buat untuk menangkap penyusup dan bisa mengancam keselamatan mereka.


Ze hanya membiarkan mereka menghirup udara dari 1 jendela di bagian belakang yang di buat bagai jeruji oleh Ze. Tidak hanya di beri jeruji, Ze juga mengeluarkan ular api miliknya di belakang untuk menyerang siapa saja yang berani datang ke sana untuk menyusup.


Ze betul-betul total dalam melindungi pangeran Rong yuo dan juga Huo nan. Mengingat seberapa picik dan licik para gulma yang mereka selalu sebutkan, Ze tidak ingin kecolongan sedikit-pun dan berimbas pada keselamatan dua orang itu yang akan terancam.


Siang harinya Ze dan Jin hu akan keluar dari bangunan tempat pangeran Rong yuo dan Huo nan akan terkurung lagi untuk beberapa waktu. Mereka akan menghadiri sidang istana agar Ze dapat melihat jelas bentuk wajah dari mentri Qin dan orang-orangnya yang akan dia buat topeng wajahnya.


"Kami pergi dulu." ucap Ze.


"Ya putri Ze." saut Pangeran Rong yuo.


"Ya kakak ipar." saut Huo nan.


"Ingat jangan sekali-sekali kalian berani mendekat apalagi menyentuh jendela tertutup yang ada di bangunan ini. Aku menaruh perangkap beracun di sana dan getaran sedikit saja dapat mengaktifkan racunnya dan dapat menewaskan siapa saja yg ada di dekatnya.


Jika ada orang luar yang terkena jebakan biarkan saja dan jangan mendekat ke jendela tempatnya terperangkap jika kalian masih sayang nyawa kalian.

__ADS_1


Perangkap akan tidak aktif lagi beberapa saat setelahnya tapi kalian jangan fikir itu sudah aman karena itu akan kembali aktif saat ada getaran lagi.


Kalian bebas mendekat pada jendela di sana (menunjuk ke arah jendela yang terbuka di belakang) itu aman untuk di sentuh juga." jelas Ze.


"Apakah tidak akan ada yang tiba-tiba menyerang atau menyusup dari arah sana?" tanya Huo nan.


"Kau lihat dulu keluar jendela ada apa di luar sana." ucap Ze. Huo nan dan juga pangeran Rong yuo yang juga penasaran pergi ke jendela lalu menengok ke luar jendela. Ze tersenyum jahil melihat mereka mendekat dan menengok keluar dari jendela itu.


"Huaaaa." teriak Huo nan dan Pangeran Rong yuo bersamaan sambil mundur menjauh dari jendela dengan secepat mungkin.


"Apa itu?" tanya Pangeran Rong yuo.


"Itu adalah hewan roh milikku yang akan menjaga kalian selama kami menjalankan tugas. Tenang saja, ular api tidak akan menyerang kalian berdua. Target dia adalah orang tidak dikenal yang datang menyusup." jelas Ze.


Huo nan dan pangeran Rong yuo hanya terdiam masih kaget karena melihat ular api tadi.


"Ayo kak Jin hu kita akan terlambat mengikuti sidang istana." ajak Ze dan Jin hu hanya mengangguk.


Mereka berdua keluar dari bangunan itu dan segera menutup kembali pintu bangunan itu. Ze dan Jin hu berjalan sambil sesekali mereka berbincang-bincang biasa.


Setiap orang yang mereka lewati baik itu dayang atau kasim bahkan para prajurit dan penjaga mereka akan menunduk hormat pada mereka berdua. Ze dan Jin hu sudah berada di depan pintu ruang sidang istana dan segera menunjukkan plakat dari Raja Ruo dan penjaga pintu segera memberi jalan pada mereka.


Banyak mata menatap heran ke arah Ze dan Jin hu berjalan masuk. Mereka heran dengan kedatangan Ze yang merupakan wanita pertama yang pernah masuk ke dalam ruang sidang istana dan yang membuat mereka heran tidak hanya di usir keluar dari ruang sidang, Raja Ruo justru menyambut kedatangan Ze dengan baik.


Jangan lupa terus dukung Author dengan memberi vote like dan koment kalian.

__ADS_1


salam hangat dari Author dan Ze.


__ADS_2