Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas
3 jasad


__ADS_3

"Oh aku paham sekarang. Apakah itu artinya tubuh yang terkubur itu cocok untuk jiwamu?" tanya Ze.


"Tidak hanya cocok tapi sangat cocok. Dia adalah tubuh langka tubuh dari jiwa yang murni." jawab Hui tu dengan semangat.


"Woah kau sungguh beruntung jika seperti itu. Nampaknya keberuntunganku menular padamu." ucap Ze bangga.


"Sungguh kesialan bagiku berhadapan dengan gadis bodoh tapi sangat sombong." ucap Hui tu kesal.


"Lalu apakah kita harus keseberang sana?" tanya Ze.


"Bagaimana kita bisa mendapatkan tubuh itu jika kita tidak menyeberang?" tanya Hui tu dengan nada kesal.


"Oh oke kita akan menyeberang kalau begitu." ucap Ze.


"Ular api....!" panggil Ze dan ular apinya langsung datang menghampirinya.


"Untuk apa kau panggil dia?" tanya Hui tu.


"Tentu untuk membantu aku menyeberangi sungai ini." jawab Ze.


"Apa lagi? Kau tidak berniat menyuruh aku berenang ke seberang sana bukan?" lanjut Ze bertanya.


"Oh aku kira itu untuk hal yang lain karena otak yang kau pakai pola fikirnya itu sangat unik." ucap Hui tu dengan nada ejekan kepada Ze.


"Unik?" beo Ze.


"Ya unik karena kau kadang begitu cerdas di saat tertentu dan kadang kau menjadi sangat bodoh di saat tertentu juga." jawab Hui tu.


"Kau ingin mencari jasad itu atau ingin terus menghina aku?" tanya Ze dengan mada ketus karena kesal.


"Baiklah baiklah aku menyerah tidak akan mengejekmu lagi." ucap Hui tu.


"Ular api tolong bantu aku untuk dapat menyeberangi sungai ini." pinta Ze.


Ular api lantas menurunkan kepalanya dan Ze segera naik di atasnya. Dengan segera ular api berenang ke arah seberang sungai yang di maksud Ze.


Ze turun dari kepala ular api dan berterima kasih kepadanya.


"Terima kasih ular api." ucap Ze sambil memeluk hewan rohnya itu.


Hui tu segera keluar dari batu dimensi saat Ze turun dari punggung ular api. Dia lalu berjalan menghampiri gundukan tanah tempat tubuh yang dia lihat sinarnya.

__ADS_1


Ze hendak maju namun tiba-tiba ular api melingkarkan tubuhnya di sekeliling Ze. Seolah sedang melindungi Ze dan menjadikan dirinya perisai buat Ze.


"Ada apa ini?" tanya Ze heran.


"Ternyata makam ini dijaga ketat oleh hewan roh dan kau tahu? Hewan roh itu adalah laba-laba api." jawab Hui tu saat sudah berada di dalam lingkaran perlindungan ular api.


"Apakah jumlah mereka itu banyak?" tanya Ze.


"Tenang saja karena gerombolan laba-laba api itu bukanlah tandingan dari ular api ini. Kau juga dapat meminta pada ular api untuk menyisakan dan menangkap satu ekor hidup-hidup untukmu." ucap Ze.


"Oh iya aku hampir melupakan jika aku membutuhkan laba-laba api hidup untuk pembuatan pil." seru Ze.


"Ular api jangan habisi semua laba-laba api itu. Sisakan seekor yang masih hidup dan tangkapkan untuk aku." pinta Ze.


Ular api hanya menelan hidup-hidup laba-laba api yang berukuran sangat kecil baginya itu. Ular api tidak lupa untuk menangkap hidup-hidup satu laba-laba api untuk Ze sesuai permintaan Ze.


Melihat itu Ze segera mengeluarkan kotak kayu miliknya dan membukanya membiarkan ular api menyimpan tubuh laba-laba api ke dalam kotak itu.


Ze segera menutup dan mengunci kotak atau peti kayu itu agar laba-laba api tidak dapat keluar dengan mudah dari peti kayu itu.


"Terima kasih ular api." ucap Ze girang lalu menasukkan peti kayu tadi ke dalam batu dimensi.


"Tunggu dulu." ucap Ze tiba-tiba.


"Ada apa?" tanya Hui tu.


"Jasad yang kau inginkan terkubur di dalam sana (menunjuk gundukan tanah) jangan bilang kau ingin aku menggalinya dengan tanganku sendiri." ucap Ze curiga.


"Mengapa kau bisa berfikir seperti itu?" tanya Hui tu heran dengan jalan fikiran gadis sadis jenius yang kadang-kadang bisa menjadi sangat bodoh di depannya.


"Kita hanya berdua, kau masih berbentuk jiwa tanpa raga tentu tidak mungkin dapat menyentuh benda apa lagi menggali tanah, dan jasad yang kita akan ambil tertanam jauh di dalam sana entah berapa dalamnya." jelas Ze.


"Tentu hanya aku yang akan menjadi orang yang akan menggali makam ini bukan?" tanya Ze.


"Kau sungguh gadis bodoh." ejek Hui tu.


"Aku tidak bodoh." bantah Ze.


"Apa gunanya ular apimu itu hm?" tanya Hui tu.


"Maksudmu kita bisa meminta ular api menggali tanah makam ini?" tanya Ze tidak yakin.

__ADS_1


"Kita coba saja dulu." jawab Hui tu.


"Baik mari kita coba." saut Ze dan segera menghadap dan menatap ular api.


"Ular api, dapatkah kau menggalikan kami tanah makam itu?" tanya Ze dan ular api mengangguk tanda setuju.


"Tapi, harus dengan hati-hati agar jasad di dalamnya tetap utuh." ucap Ze lagi dan lagi-lagi ular api mengangguk menyetujuinya.


Perlahan ular api mencongkel tanah dengan ekornya dan Ze hanya menatap takjub ke arah ular api miliknya itu.


Setelah cukup dalam menggali akhirnya Hui tu melihat peti kayu di dalam lubang galian tanah makam itu.


"Wah kita sungguh sangat beruntung kali ini." ucap Hui tu.


"Ada apa?" tanya Ze.


"Jasad orang ini ditempatkan dalam peti sebelum di makamkan di dalam sini." jawab Hui tu.


"Woah itu artinya kita tidak harus mengumpulkan tulang-tulang satu per satu lagi." saut Ze.


"Iya kau benar." ucap Hui tu membenarkan ucapan Ze.


"Ular api dapatkah kau mengangkat peti mati itu perlahan ke atas sini?" tanya Ze pada ular api dan ular api segera melilitkan ekornya perlahan pada peti mati dan mengangkat lalu dia letakkan pati mati itu perlahan di depan Ze.


Ze membuka peti mati itu secara perlahan dan di dalam sana hanya tersisa tulang-tulang saja.


Ze terbelalak melihat isi dari peti itu. Di dalam sana ada 3 tengkorak yang artinya ada 3 jasad yang terletak dalam satu peti.


"Ini makam dari 3 jasad yang di tumpuk dalam satu peti." ucap Ze.


"Iya kau memang benar. Ini tiga jasad yang di kubur bersama tidak hanya satu lubang makam tapi juga ditumpuk dalam satu peti." saut Hui tu membenarkan.


"Lalu, bagaimana selanjutnya?" tanya Ze.


"Jangan bilang kita akan memisahkan tulang masing-masing dari jasad ini. Karena itu akan sangat mustahil. Aku tidak bisa membedakan tulang mereka masing-masing." ucap Ze.


"cukup keluarkan tulang-tulang itu lalu kau teteskan darahmu di mulut masing-masing dari tengkorak itu." ucap Hui tu.


Ze segera melaksanakan apa yang di katakan Hui tu. Saat Ze selesai meneteskan darahnya pada mulut tiga tengkorak itu, perlahan tengkorak itu membentuk lapisan demi lapisan darah daging dan kulit.


Tulang-tulangnya juga tersusun rapi dengan sendirinya dan menyatu dengan sendi yang mulai muncul. Tidak lama tubuh utuh yang telah terbentuk sempurna terlihat. Ada 3 orang yang tampak seperti sebuah keluarga.

__ADS_1


__ADS_2