RANJANG CINTA SANG TUAN MUDA

RANJANG CINTA SANG TUAN MUDA
APAKAH AKU PEMBAWA SIAL?


__ADS_3

"Bolehkah aku tidur di pangkuan mu?"


Deg


Permintaan Leo Huang kali ini berhasil membuat hati Cassandra bergetar hebat.


"Aku , aku...."


"Jika kau tidak mengizinkan hal itu aku tidak akan pernah memaksa nya."


Cassandra menatap wajah Leo yang semakin sendu, muncul rasa belas kasih di hati Cassandra ketika melihat wajah laki - laki tersebut di hadapan nya.


Namun hati Cassandra terlalu takut untuk mengakui perasaan itu.


"Baiklah, maafkan aku dengan permintaan ku yang mungkin tidak masuk akal bagimu."


Leo segera memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Cassandra.


"Tunggu, siapa yang mengatakan aku tidak setuju, aku bahkan belum mengatakan hal apapun kepadamu."


Cassandra mengatakan hal itu dengan mengenggam tangan Leo Huang.


"Lalu apa jawaban mu?"


"Kemarilah."

__ADS_1


Cassandra mengatakan hal tersebut sambil menepuk - nepuk pangkuan nya.


Leo yang mendapatkan persetujuan langsung membaringkan dirinya di atas pangkuan Cassandra.


Malam hari ini, di tengah taman, dengan angin malam yang terus terasa, Leo memejamkan matanya di pangkuan wanita asing yang belum lama dia temui.


Ingin sekali tangan Cassandra untuk membelai kepala Leo Huang, namun entah mengapa rasa enggan masih terukir jelas di dalam hatinya.


"Aku mengizinkan mu jika kau ingin membelai kepala ku."


Deg


Perkataan Leo seperti hati yang saling terhubung, perkataan Leo seakan - akan menyiratkan bahwa Leo mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Cassandra.


"Lakukan lah, aku tidak keberatan."


"Terima kasih."


"Terima kasih untuk apa Leo?"


"Terima kasih karena pada akhirnya kau mengikuti naluri hati mu bukan ego mu."


Deg


Perkataan Leo seperti pisau yang menusuk tajam di hati Cassandra.

__ADS_1


"Kau tau, sudah lama sekali aku tidak berbaring di atas pangkuan seorang wanita, terakhir kali aku melakukan hal ini adalah dengan Louisia istriku yang pertama, pernikahan kami terbilang pernikahan yang cukup singkat, namun meninggalkan cinta yang sangat luar biasa untuk ku."


Leo mulai bercerita tentang masa lalunya kepada Cassandra.


"Terkadang aku merasa apakah aku termasuk dalam jenis laki - laki pembawa sial?"


Cassandra langsung mengernyitkan dahi ketika Leo Huang mengatakan hal tersebut kepadanya.


"Apa yang membuat mu mengatakan hal itu Leo?"


"Karena setiap wanita yang dekat dengan ku selalu meninggal dengan sangat mengenaskan."


Cassandra langsung terdiam dengan asumsi yang saat ini Leo miliki.


"Tidak benar apa yang kau katakan itu Leo, baik nona Louisia ataupun nona Katarina meninggal bukan karena menikah dengan mu dan pada akhirnya aku menyebutkan bahwa kau adalah laki - laki pembawa sial, tapi memang sudah waktunya mereka untuk pergi."


"Ya tapi Kenapa ketika mereka semua pergi saat aku benar - benar sedang mencintai nya?"


Cassandra kembali terdiam dengan hal yang telah dikatakan oleh Leo.


"Cinta kita akan tetap ada di hati meskipun orang yang kita cintai tidak bisa membalaskan nya atau tidak, cinta kita akan tetap ada di hati meskipun maut yang pada akhirnya memisahkan cinta tersebut."


"Karena rasa kasih sayang itu adalah anugrah yang Tuhan berikan kepada kita, karena pada dasarnya Tuhan terlebih dulu mencintai kita."


"Jadi berhenti lah mengatakan bahwa ini semua adalah salah mu, berhenti mengatakan bahwa kau adalah laki - laki pembawa sial, tidak ada laki - laki atau wanita pembawa sial, karena kita semua di ciptakan Tuhan di dalam rencana besar-Nya yang luar biasa."

__ADS_1


Tangan Cassandra mengatakan hal tersebut sambil membelai pelan kepala Leo Huang yang saat ini masih berbaring di atas pangkuan nya.


__ADS_2