Rindu Pelukanmu

Rindu Pelukanmu
Bab 10


__ADS_3

Melihat tatapan Bara yang tajam, Nisa menunduk lalu perlahan ia berdiri setelah Bara pergi dari hadapannya.


"Makanan apaan ini??" Bentak Bara lalu melemparkan sendok ke lantai.


"Bukan kah itu makanan kesukaan Tuan," Sahut Nisa dengan lembut.


"Iya memang makanan kesukaan saya! Tapi ini makanannya dingin!" Bentak Bara lagi.


"Biar aku panaskan lagi Tuan," Ucap Nisa berjalan hendak mengambil makanan tersebut.


"Tidak perlu!! aku sudah tidak berselera makan!" Sahut Bara lalu berdiri meninggalkan Nisa keluar kamar lalu menutup pintu kamar dengan keras. sehingga membuat Nisa menutup mata nya.


Nisa menghela nafas, dengan sabar Nisa mengambil sendok yang tergeletak di lantai.


Setelah membereskan makanan Bara, Nisa kembali ke kamar untuk mengambil selimut dan bantal lalu merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di kamar Bara.


"Lebih baik aku tidur disini saja, agar tidak membuat dia marah lagi," Gumam Nisa.


Ia mengingat perkataan Bara jika dirinya jangan bermimpi untuk menjadi istrinya.


"Astaga, aku lupa untuk menghubungi ibu," gumam Nisa.


lalu mengambil ponselnya lalu menghubunginya namun berulang kali menghubungi tidak tersambung.


"Kenapa ponsel Ibu tidak bisa di hubungi?"


"Apa mungkin ponsel Ibu mati? sebaiknya aku kirim pesan saja, agar Ibu membaca nya setelah ponselnya aktif."


Ceklek, Terlihat Bara membuka pintu kamar. Saat mendengar pintu kamar terbuka, Nisa langsung memejamkan mata nya berpura pura tidur.


Aku mencium bau alkohol yang sangat menyengat ketika Bara masuk.


"Apa ini memang sudah kebiasaannya?" Batin Nisa.


Aku membuka mata ku perlahan untuk melihat dia, dan ternyata Bara sudah tidur dengan posisi tengkurap di kasur.


***

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Pak Burhan sedang berbicara dengan seseorang wanita paruh baya.


"Terima kasih sudah membantu saya," Ucap wanita tersebut.


"Tidak perlu berterima kasih, saya sudah lama menginginkan Nisa menjadi menantu saya," Ucap pak Burhan.


"Ini Sertifikat yang kamu inginkan," Ucap nya menyerahkan sertifikat tersebut.


Dengan sumringah wanita itu mengambil nya dan membacanya sejenak, wanita itu adalah Ibu angkat nya Nisa.


"Terima kasih," Sahutnya.


"Baik kalau tidak ada yang di bicarakan lagi, saya permisi," pamit Pak Burhan.


lalu pak Burhan mengulurkan tangannya kepada Bu Dewi begitupun sebaliknya Bu Dewi membalas uluran tangannya.


"Sekali lagi terima kasih pak," Ucap Bu Dewi tersenyum.


pak Burhan hanya mengangguk, lalu beranjak dari restoran tersebut menuju mobilnya terparkir.


Melihat kepergian pak Burhan, Bu Dewi tersenyum puas.


Ia mengambil ponsel dari dalam tas nya lalu menghubungi seseorang.


"hallo, saya ada di restoran xx. Temui saya sekarang," Ucap Bu Dewi dari balik telpon.


"Baik," lalu Bu Dewi menutup ponselnya.


"Selamat tinggal anak pungut!! nikmati lah hidup mu sekarang!" Gumamnya dengan senyum licik, lalu ia kembali meminum jus yang sudah ia pesan.


Tak lama ada yang menepuk pundak nya, sehingga dirinya menoleh kebelakang.


"Akhirnya kamu datang juga, silahkan duduk," Ucap Bu Dewi.


"Ini sertifikatnya," Ucap Bu Dewi menyerahkan sertifikat tersebut, lalu pria tersebut membaca dengan teliti.


"Bagaimana?" Tanya Bu Dewi penasaran.

__ADS_1


"Baik, besok saya akan transfer uangnya," Ucap nya lalu menutup kembali map tersebut.


"Terima kasih, dalam tiga hari saya akan keluar dari rumah itu," Sahut Bu Dewi lagi dengan sumringah.


"Kenapa harus di jual?" Tanya pria tersebut.


"Saya pindah ke luar negeri, sebab itu rumah saya jual karena tidak ada yang mengurus." Ucap Bu Dewi berbohong.


"Oke, baiklah. Besok asisten saya akan mentransfer uangnya," Sahut pria itu.


"Baik, terima kasih," Ucap Bu Dewi dengan senyum yang mengambang, lalu mereka berjabat tangan.


Pria paruh baya itu adalah teman Bu Dewi di masa sekolah dahulu, dan sekarang sukses dengan bisnisnya. sehingga Bu Dewi berniat menjual rumahnya kepada temannya tersebut.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit akhirnya Pak Burhan tiba di rumahnya.


"Bi.." Panggil pak Burhan setelah memasuki rumahnya dan langsung duduk di kursi.


"Iya Tuan," Sahut bi Minah berjalan menuju ke ruang tamu.


"Apa Bara sudah pulang?"


"Sudah Tuan,"


"Oh, dimana dia?"


"Ada di kamar Tuan, mereka baru saja menyelesaikan makan malam di kamar Tuan," sahut bi Minah.


"Apa Tuan mau makan malam sekarang?"


"Tidak, saya sudah makan.


saya ingin beristirahat sekarang, terima kasih Bi," Ucap pak Burhan lalu beranjak dari duduknya menuju ke kamarnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2